Selasa, 22 July 2014

Kajati: Narkotika Perkara Menonjol di Aceh

ANT

Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh Tarmizi mengatakan narkotika merupakan perkara paling menonjol di provinsi ujung barat Indonesia tersebut.

"Narkotika ini merupakan perkara paling banyak di Aceh, dibanding perkara-perkara lainnya. Hampir setiap tahun perkara narkotika ini menonjol," ungkap Tarmizi di Banda Aceh, Selasa (22/7).

Kajati menyebutkan, dari lima perkara paling menonjol di wilayah hukum Kejaksaan Tinggi Aceh, narkotika berada pada urutan pertama dengan jumlah 519 perkara.

"Ke 519 perkara ini ditangani periode Januari hingga Juli 2014. Ini perkara paling banyak ditangani kejaksaan di Aceh. Kami menyayangkan masih tingginya perkara narkotika di daerah ini," ungkap dia.

Selain narkotika, sebut dia, perkara menonjol lainnya adalah kekerasan terhadap anak dengan jumlah 89 perkara. Kemudian, kecelakaan lalu lintas dengan 44 perkara, kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT sebanyak 35 perkara dan pembalakan liar dengan jumlah 22 perkara.

Khusus untuk perkara narkotika, kata Kajati Aceh, seharusnya jangan dikedepankan penindakan, tetapi lebih ditekankan kepada pencegahan. Kalau penindakan, maka tugas kepolisian dan kejaksaan tidak akan pernah habis memerangi narkotika.

"Kalau penindakan terus, perkara-perkara narkotika ini tidak akan pernah ada solusi atau penyelesaiannya. Karena itu, penanganan narkotika ini seharusnya lebih ditekankan kepada pencegahan," katanya.

Menurut Tarmizi, pencegahan narkotika ini harus menyeluruh, di mulai dari lingkungan terkecil atau diri sendiri hingga lingkungan terbesar atau masyarakat. Selain itu, sebut dia, dalam penanganan narkotika ini juga perlu mengajak akademisi guna mengkaji mengapa narkotika ini semakin menonjol, sehingga sudah menjadi ancaman bagi bangsa ini.

"Kalau sudah ada kajian akademisi, tentu akan didapat mengapa banyak orang terlibat narkotika. Jika sudah didapat mengapa, tentu bisa dicarikan solusinya, sehingga pencegahannya lebih mudah," ungkap Tarmizi.
















Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua