Rabu, 13 August 2014

Yusril Ihza Raih “Best Actor” di Festival Film Madrid

Kemampuan beraktingnya sudah dipupuk sejak bermain drama ketika SMP.
MAR
Yusril saat berakting di Film Legend of East. Foto: bulan-bintang.org

Guru Besar Hukum Tata Negara (HTN) Yusril Ihza Mahendra ternyata bukan hanya jago berbicara seputar kenegaraan atau konstitusi, tetapi dia juga mahir berakting di kamera. Baru-baru ini, mantan Menteri Hukum dan HAM ini mendapat apresiasi dari komunitas film internasional.

Yusril mendapat penghargaan sebagai aktor terbaik dalam film “Legend of the East” (atau dikenal dengan film Laksamana Cheng Ho di Indonesia) di festival film Madrid, Spanyol, pada 18 Juli lalu.

“Saya tidak menyangka karena saya anggap film itu biasa-biasa saja, dan akting saya juga biasa-biasa saja. Entah apa yang menjadi pertimbangan dewan juri sehingga saya dianggap pantas untuk mendapat penghargaan,” ujarnya kepada hukumonline, Selasa (12/8).

Yusril yang sudah bermain drama sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjelaskan semua nominator dari setiap kategori diundang pada malam penganugerahan tersebut. Film The Legend of The East yang dibintanginya masuk ke dalam tiga nominasi. Yakni, penyutradaan terbaik, aktor utama pria terbaik, dan aktris pemeran pembantu terbaik. “Tapi yang mendapat penghargaan hanya aktor pria terbaik dan aktris pemeran pembantu terbaik,” ujarnya. 

Yusril menambahkan film “Legend of the East” ini dibuat dalam dua versi, yaitu versi sinetron untuk diputar di televisi dan versi film layar lebar berdurasi 90 menit. Di festival film Madrid ini, hanya film layar lebar yang dilombakan. Selain di festival film Madrid, film itu juga dilombakan pada festival film Boston, tetapi saat itu film ini tidak memperoleh penghargaan apapun.

Yusril mengungkapkan dirinya sudah mencintai seni akting sejak sekolah. “Perlu diketahui latar belakang sekolah saya. Sebelum kuliah di fakultas hukum, saya kuliah di akademi teater di Taman Ismail Marzuki dan saya main drama dari SMP (Sekolah Menengah Pertama) sampai mahasiswa main film beberapa kali,”  paparnya.

The Madrid International Film Festival 2014 – 3rd Edition

Kategori

Pemenang

Kategori

Pemenang

Scientific & Educational Filmmaking Award

Mayfly – Brandon Willetts & Jordan Willetts

Best Director of a Feature Documentary

The Falconer “Sport of Kings” – Edwin Brochin

Best Cinematography

Picnic – Ritam Banerjee

Best Feature Documentary

South Beach on Heels – Dmitry Zhitov

Best Costume

The Falling Feather – Lili Wang

Best Original Screenplay of a Short Film

Lapsus – Karim Ouaret

Best Animation

The Gold Sparrow – Daniel Stessen

Best Producer of a Short Film

Level 2 – Spyros Kopanitsas, Myriam Khoury & Catalina Hoyos-Restrepo

Best Original Screenplay of a Foreign Language Film

Eli – Eli Kritharaki & Yianna Dellatolla

Best Lead Actress in a Short Film

De Puta Madre: A Love Story – Catherine Black

Best Director of a Short Foreign Language Film

Suicide Volunteers – Kenshow Onodera

Best Lead Actor in a Short Film

Seagull Boy – Mel Raido

Best Foreign Language Short

Dreams & Illusions – Yuji Kakizaki

Best Director of a Short Film

Three Hours Between Planes – Antony Easton

Best Supporting Actress in a Foreign Language Film

Legend of the East – Wang Hui Qian

Best Short Film

NYC Rooftop Story – Ricardo Catalan Jr.

Best Supporting Actor in a Foreign Language Film

The Falling Feather - Keifei Dong

Best Editing of a Film

Forever Nevermore – Emerson Muzeli

Best Lead Actress in a Foreign Language Film

Late Spring – Seo-Hyung Kim

Best Feature Film

Third Row Centre – Lloyd Handley

Best Lead Actor in a Foreign Language Film

Legend of the East – Yusril Ihza Mahendra

Best Music in Film

Great Voices Sing John Denver – Lee Holdridge

Best Director of a Foreign Language Feature Film

Barber’s Tales – Jun Robles Lana

Best Television Mini Series

Welcoming Sabbath – Eldad Bouganim & Israel Winkler

Best Foreign Language Feature Film

Late Spring – Keun-Hyun Cho

Talented New Director

Fish in the Sky – Erica Fan

Best Foreign Language Documentary

Emergency Exit – Brunella Fili

Best Story
Fish in the Sky – Erica Fan

Fish in the Sky – Erica Fan

Honouring Spanish Language Film

Arde Lucus – Oscar Brais Revalderia Prieto

Best Original Screenplay of a Feature Film

The Precipice – Michael Hatch

Jury Award

The Raven on the Jetty – Erik Knudsen & Janet Knudsen

Best Producer of a Feature Film

Jail Caesar – Alice Krige & Paul Schoolman

Best Soundtrack

Nate & Vinnie – Luke Tierney

Best Supporting Actress

Jail Caesar – Alice Krige

Best Make Up & Hair

Know How – Giann Rosa

Best Supporting Actor

Helen Alone – Daniel Baldwin

Best Editing of a Documentary

Zack & Addie – Rob Florence

Best Lead Actress

Know How – Claribelle Pagan

Best Producer of a Documentary Film

Great Voices Sing John Denver - Milton Okun, Rosemary Okun, Elisa Justice, Kenneth Shapiro

Best Lead Actor

3:13 – Paul Alexandro

Best Directing of a Short Documentary

Darwin, Somewhere in the Desert – Anne Verdaguer

Best Director

Helen Alone – Henrik Bech Poulsen

Best Short Documentary

Touche: A Blind Fencer’s Story – George Adams

Best Film

Fish in the Sky – Erica Fan

Capek dengan Politik

Setelah malang melintang di dunia politik, Yusril mengaku lelah dengan situasi politik di Indonesia. “Lagi mikir-mikir hidup ini mau kemana, lihat politik ini saya capek. Melelahkan politik Indonesia. Ini jadi membuat saya berpikir apakah besok-besok saya mau tetap di politik atau mungkin saya menulis memoar saja,” ungkapnya. 

Alasannya ingin menulis memoar karena ada banyak peristiwa-peristiwa besar di Indonesia dan para pelakunya sudah meningal. Mungkin juga dari memoar itu bisa dibuat film, karena pembuatan film bisa diilhami dari sejarah. Ia mengatakan memang sangat ingin memproduksi film. Ia mengaku memiliki banyak gagasan untuk itu.

Namun, lanjutnya, sekarang ini film Indonesia sulit bertahan di negeri sendiri. Karena adanya televisi, video, dvd dan lain-lain sehingga lama-lama orang-orang malas datang ke bioskop. Selain itu, biokop-bioskop di kota besar hanya dikuasai Cinemax atau 21 yang memonopoli pengaturan pemutaran film. “Sehingga kita memproduksi film sebagus apapun kadang-kadang susah untuk membuatnya besar,” ujarnya.

Berbeda dengan zaman Presiden Soeharto, dimana pemerintah bisa membuat kebijakan untuk memutar film nasional. Sekarang ini, kebanyakan film yang diputar adalah film dari Amerika Serikat, Hongkong atau beberapa dari India. “Jadi, kita memproduksi film itu mungkin nggak bisa balik modal, makanya sekarang ini lebih banyak production house (PH) dari pada perusahaan film,” ungkapnya.

Yusril mengatakan PH-PH itu membuat sinetron sehari-dua hari langsung tayang, tapi mutunya tidak ada dan aktingnya kacau balau. Ceritanya pun kadang membuat penonton bingung dan pusing.

Hal tersebut membuatnya berpikir ulang untuk membuat film. Mestinya, lanjut Yusril, negara ikut turun tagan memikirkan masalah film. “Produser kalau bisa bikin film bagus tapi kemudian tidak bisa masuk ke gedung-gedung bioskop, terus filmnya mau buat apa? Susah juga kan,” ujarnya.

Menurutnya, semua pihak yang berkepentingan dengan masalah ini harus diajak bicara bersama, karena tidak bisa hanya menyerahkan hal ini ke mekanisme pasar. Ia berpendapat perlu ada proteksi terhadap film nasional.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua