Selasa, 26 August 2014

Pemohon Suntik Mati Cabut Permohonan

Pesan majelis agar Ryan bisa tetap semangat menjalani hidupnya.
ASH
Gedung MK. Foto: RES
Sidang perbaikan permohonan uji materi Pasal 344 KUHP yang diajukan Ignatius Ryan Tumiwa  digelar di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK), Selasa (26/8). Dalam persidangan yang diketuai hakim konstitusi Aswanto didampingi Anwar Usman dan Patrialis, kuasa hukum Ryan menyatakan mencabut permohonan lantaran kliennya menyadari mengakhiri hidup dengan cara suntik mati justru bertentangan dengan UUD 1945.
 
“Klien kami ingin mencabut permohonan yang mulia karena pemohon sadar mustahil permohonan ini dikabulkan atau ditolak karena tindakan itu (suntik mati) bertentangan dengan UUD 1945,” ujar kuasa hukum Ryan, Fransiska Indrasari. Ryan sendiri tak hadir dalam persidangan ini lantaran masih dirawat di RS Duren Sawit akibat masih mengalami gangguan emosional.
 
Aswanto mengatakan pencabutan permohonan sesuai saran majelis dalam sidang pertama yang meminta pemohon memikirkan kembali apakah permohonan ini akan dilanjutkan atau dicabut. “Alhamdulillah, sesuai dengan kuasa hukum pemohon sampaikan permohonan ini dicabut,” kata Aswanto. “Majelis menyampaikan salam hormat dan agar Ryan cepat sembuh!”
 
Anggota panel Patrialis Akbar mengapresiasi pencabutan permohonan. Namun, pencabutan ini membuat majelis merasa prihatin atas kondisi diri pemohon. Patrialis menilai Ryan cukup cerdas karena dapat menjelaskan permohonan dengan baik dan memahami saran-saran majelis.
 
“Tolong kuasa hukum pun memberi pemahaman tentang hak konstitusional pemohon yang dijamin UUD 1945 adalah hak untuk hidup, bukan hak untuk mati,” kata Patrialis. “Pesan kami kepada Ryan agar dia bisa tetap semangat menjalani hidupnya!”    
 
Fransiska mengungkapkan kliennya kini sudah punya semangat menjalani hidup. “Saat ini Mas Ryan sibuk dengan aktivitas menulisnya, diharapkan rehabilitasinya selesai Sabtu besok, sehingga bisa pulang dari rumah sakit. Sekarang kondisi lebih segar karena berat badannya bertambah 5 kilogram,” katanya. “Kita juga apresiasi kepada pemerintah, karena dia dirawat di rumah sakit ditanggung BPJS.”   
 
Sebelumnya, dalam sidang pendahuluan yang digelar pada Rabu 16 Juli 2014, Ryan mempersoalkan Pasal 344 KUHP yang berbunyi, “Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.” Ryan mengaku depresi karena dalam setahun terakhir tidak memiliki pekerjaan.
 
Peraih gelar master di bidang administrasi fiskal dari Universitas Indonesia ini menilai Pasal 344 KUHP menghambat permintaannya untuk disuntik mati lantaran tidak tahan lagi dengan beban hidup yang membelitnya selama ini. Hal tersebut melatarbelakangi Ryan nekat melayangkan permohonan ke MK untuk melegalkan upaya bunuh diri.
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua