Kamis, 04 September 2014

Ketika Permohonan Bikin Hakim MK Takut

Menasehati pemohon, hakim MK bak motivator ulung.
RZK
Hakim MK, Patrialis Akbar. Foto: RES


Periode Juli-Agustus 2014, Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi sentral perhatian publik karena adanya sengketa pemilu presiden yang diajukan kubu Prabowo Subianto. Masih di periode yang sama, walaupun tidak seheboh sidang sengketa pemilu presiden, seorang Ignatius Ryan Tumiwa sempat juga menyita perhatian publik dan kalangan MK sendiri.


Ryan adalah pemohon pengujian undang-undang dengan nomor perkara 55/PUU-XII/2014. Pasal yang diuji adalah Pasal 344 KUHP yang mengatur ancaman pidana 12 tahun penjara, bagi siapa saja yang menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. Pasal ini biasanya disebut pasal larangan euthanasia.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, eutanasia adalah tindakan mengakhiri dengan sengaja kehidupan makhluk (orang ataupun hewan piaraan) yang sakit berat atau luka parah dengan kematian yang tenang dan mudah atas dasar perikemanusiaan.


Yang unik, motivasi mengajukan permohonan ini selain meminta MK membatalkan Pasal 344 KUHP, disebutkan dalam petitum permohonan, Ryan jugameminta pemerintah Indonesia segera membuat peraturan pelaksanaan untuk izin suntik mati terutama bagi anggota masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan. Dengan kata lain, Ryan berupaya mencari legalitas tindakan bunuh diri.


Didaftarkan 24 Juni 2014, permohonan Ryan akhirnya diproses juga oleh MK. Pada persidangan pertama, 16 Juli 2014, dengan agenda pemeriksaan pendahuluan terungkap bahwa permohonan Ryan tidak hanya dianggap unik, tetapi juga menakutkan bagi Hakim Konstitusi Patrialis Akbar.


“Saya membacanya ini takut saya membaca permohonanya Pak Ryan ini,” ujar Patrialis sebagaimana terekam dalam risalah persidangan yang diunggah laman resmi MK, www.mahkamahkonstitusi.go.id.


Merespon Patrialis, Ryan justru mengeluarkan pernyataan yang membingungkan. Dia berkeluh kesah segala macam masalah hidup yang dia hadapi, mulai dari tidak bekerja alias menganggur, diganggu orang, tidak diundang rapat Rukun Tetangga di lingkungannya, hingga kondisi stres dan depresi.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua