Jumat, 10 October 2014

Menyoal Penyempitan Doktrin Fiksasi Dalam UU Hak Cipta Terbaru Oleh: Risa Amrikasari, S.S., M.H.

Fiksasi dalam RUU Hak Cipta hanya mencakup dua jenis ciptaan yaitu rekaman suara dan rekaman gambar. Padahal doktrin Fiksasi itu tidak terbatas hanya pada dua jenis ciptaan itu.
RED
Risa Amrikasari. Foto: ipasinstitute.com
Catatan Redaksi:
Artikel Kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Hukumonline


DPR telah mengesahkan RUU Hak Cipta pada tanggal 16 September 2014 yang terkesan lebih “penuh” karena di dalamnya mengatur hal-hal yang memang belum sepenuhnya dipahami secara mudah oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. RUU Hak Cipta yang baru disahkan ini tentunya diharapkan akan dapat memberikan aturan yang lebih jelas mengenai penerapan hukum hak cipta di negara kita.


Saya tertarik untuk membaca lebih dalam dan menemukan bahwa memang pada beberapa bagian, kelihatannya RUU Hak Cipta “berusaha keras” untuk memenuhi harapan para pihak yang berkepentingan mempergunakannya untuk mendapatkan kepastian hukum melalui Undang-undang yang baru. Tapi pada tulisan kali ini saya hanya ingin membahas sedikit saja mengenai hal baru yang dimunculkan oleh RUU Hak Cipta, yaitu Fiksasi.


Pada Pasal 1 butir (13) dinyatakan Fiksasi adalah perekaman suara yang dapat didengar, perekaman gambar atau keduanya, yang dapat dilihat, didengar, digandakan, atau dikomunikasikan melalui perangkat apapun.


Saya mencoba mencari dalam bagian Penjelasan. Tidak ada keterangan tambahan pada Penjelasan. Jadi mari kita coba uraikan pengertian FIKSASI berdasarkan definisi di atas.

-Perekaman suara yang dapat didengar,

-Perekaman gambar atau keduanya (artinya suara + gambar) yang dapat dilihat, didengar, digandakan, atau dikomunikasikan melalui perangkat apapun.


Sampai di sini yang dapat saya tangkap dari uraian definisi di atas adalah bahwa Fiksasi hanya mencakup dua jenis Ciptaan di atas, yaitu rekaman suara dan rekaman gambar. Ada masalah di sini, padahal doktrin Fiksasi itu tidak terbatas hanya pada apa yang dicantumkan dalam definisi Fiksasi yang diatur dalam RUU Hak Cipta.


Doktrin Fiksasi Sebagai Prinsip Utama Dalam Perlindungan Hak Cipta

Manusia dikaruniai kemampuan berpikir untuk melahirkan ide-ide kreatif yang bermanfaat bagi kelangsungan hidupnya. Ide-ide tersebut diwujudkan dalam bentuk ekspresi yang memungkinkan pemilik ide ataupun orang lain dapat menikmati manfaatnya.


Bicara mengenai ide, Plato dan John Locke adalah dua orang yang sangat terkenal dengan diskusi dan pandangan mereka mengenai IDE. Keduanya memiliki pandangan yang saling bertentangan. Plato beranggapan bahwa dunia nyata adalah ilusi dari akal sehat, oleh karenanya ia beranggapan dunia nyata adalah ranah ide. Sedangkan John Locke berpendapat bahwa ide adalah pikiran seseorang yang dapat dipergunakan oleh orang lain secara berulang-ulang. 

Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua