Rabu, 10 Desember 2014

Putri Indonesia: Hindari Korupsi, Istri Jangan Ikut Arisan Mahal

Bapak sibuk, ibu menjadi tumpuan di keluarga menanamkan nilai-nilai antikorupsi.
RZK
Ketua KPK Abraham Samad (paling kiri) dan Putri Indonesia 2014 Elvira Devinamira (ketiga dari kiri) dalam seminar Festival Antikorupsi 2014, Yogyakarta, Selasa (9/12). Foto: RZK

Sejak berdiri tahun 2003, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seringkali melibatkan tokoh-tokoh publik untuk sosialisasi pentingnya pemberantasan korupsi. Salah satu tokoh publik itu adalah Putri Indonesia 2014, Elvira Devinamira. Di Yogyakarta, Elvira hadir dalam perhelatan .
 
Selasa (9/12), Elvira menjadi narasumber dalam seminar bertema “Saya, Perempuan Anti Korupsi”. Bersama Ketua KPK Abraham Samad, Elvira bicara tentang peran perempuan dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Menurut Elvira yang juga Duta Antikorupsi itu, peran perempuan dapat dimulai dari hal-hal kecil.
 
“Lakukan hal-hal yang mudah dan disukai. Kalau suka seni ya buat karya seni, kalau suka musik ya bikin lagu bertema korupsi,” papar Elvira di Grha Sabha Pramana, Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
 
Dia melanjutkan, peran lain yang bisa dilakukan kaum perempuan adalah menghindari pola hidup konsumtif, khususnya nanti jika sudah berkeluarga. Menurut Elvira, pola hidup istri yang konsumtif akan mendorong suami terpaksa melakukan korupsi, walaupun tujuannya adalah demi membahagiakan istri.
 
“Jadi, jangan ikut arisan yang mengharuskan punya tas Hermes, kalau kenyataannya tidak mampu, (karena) nanti ujungnya korupsi,” kata mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya ini mencontohkan.
 
Elvira meyakini bahwa ungkapan “Di Balik Laki-Laki Hebat, Ada Wanita yang Kuat” itu adalah benar. Namun, makna “Wanita yang Kuat” itu harusnya dimaknai “kuat mendorong suaminya untuk tidak korupsi”, bukan sebaliknya justru kuat mendorong suami untuk melakukan korupsi.
 
“Seorang istri itu harus mendorong suami untuk mencari nafkah yang halal,” tukasnya.
 
Di akhir sesi seminar, sempat terjadi diskusi menarik antara Elvira dan seorang penanya bernama Wijaya. Mahasiswa Fakultas Teknik Pertambangan itu menyebut dirinya sebagai alias konsultan cinta. Dia mengaku sering menjadi tempat konsultasi masalah percintaan. Menurut Wijaya, dari beragam kasus yang pernah dia temui, ada perilaku dalam percintaan yang bisa menjadi benih perilaku korupsi.
 
“Ada klien saya yang punya masalah, saya tanya ‘kenapa kamu tidak putus saja dari laki-laki itu’, lalu dia menjawab tidak bisa karena pacarnya itu suka memberi hadiah,” tuturnya. Dari kasus ini, Wijaya berkesimpulan kebiasaan perempuan menerima hadiah dari sang pacar bisa menjadi kebiasaan menerima gratifikasi yang termasuk perilaku korupsi.
 
Diminta tanggapannya oleh penanya, Elvira berpendapat kaum perempuan memang seharusnya tidak mudah menerima segala macam hadiah. Perempuan, kata dia, harus bersikap kritis ‘ada maksud apa di balik hadiah itu’. “Kalau si pemberi ikhlas dan tidak ada maksud apa-apa, saya pikir bisa dianggap hibah,” selorohnya.
 
Ketua KPK Abraham Samad mengatakan kondisi masyarakat sekarang memang menjadikan perempuan, khususnya dalam rumah tangga, sebagai tumpuan untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi ke anak. Peran bapak, kata Abraham, relatif minim karena kesibukan pekerjaan.  
 
“Karena kesibukan, peran pembentukan keluarga bukan terletak pada laki-laki, tetapi ibu yang akan menjadi lebih dominan,” ujar Abraham.
 
Menyadari pentingnya peran perempuan, KPK pun meluncurkan program “Saya, Perempuan Antikorupsi” atau disingkat SPAK. Dijelaskan Abraham, SPAK pertama kali diluncurkan 22 April 2014. Atas dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice, KPK telah melakukan rangkaian pelatihan untuk pelatih (Training for Trainers/TOT) di NTB bagi para perempuan perwakilan dari berbagai lapisan masyarakat dan latar belakang sebagai percontohan. ToT ini menghasilkan 160 agen SPAK yang terus menyebarkan pengetahuan tentang anti korupsi.
 
Festival Antikorupsi 2014













love adviser










Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua