Rabu, 13 May 2015

Ini Tips Hindari Masalah Hukum untuk Pebisinis Agen Perjalanan

Ada enam permasalahan hukum dan tips yang perlu diperhatikan.
RIA
Suasana Kota Dallas, Amerika Serikat, yang bisa menjadi salah satu tujuan liburan (ilustrasi). Foto: Ali.

Menjelang musim libur, agen perjalanan biasanya akan kebanjiran pesanan. Beragam tempat wisata menjadi destinasi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan. Mereka pun sudah mulai memilih agen perjalanan dan paket yang cocok dengan kantong mereka.

Hari liburi tentu membuat agen perjalanan semakin sibuk. Bahkan, selain musim libur pun, agen juga seakan tak pernah berhenti mengurusi pemesanan tiket pesawat dan hotel bagi mereka yang hendak melakukan perjalanan dinas atau berkunjung sejenak. Melihat fakta tersebut, bagi sebagian orang bisnis ini tentu cukup menggiurkan.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pebisnis agen perjalanan, apalagi pihak agen kerap menggunakan jasa-jasa pihak ketika atas paket wisata yang mereka tawarkan. Pihak ketiga ini bisa menyangkut bus berikut pengemudinya, hotel, dan pengelola tempat wisata.

“Penipuan yang dilakukan oleh pihak ketiga, dapat menyebabkan pengeluaran biaya yang besar,” ujar Mark Pestronk, pengacara yang biasa mengurusi permasalahan hukum perjalanan wisata, sebagaimana dikutip dari situs www.travelmarketreport.com.

Selain itu, Prestronk juga mengatakan pengeluaran besar bisa juga disebabkan oleh kesalahan karyawan atau klien yang melakukan penipuan. Oleh karena itu, pihak agen perjalanan perlu memahami modus-modus dan permasalahan hukum yang bisa timbul di kemudian hari.

Berikut adalah permasalahan hukum dan tips yang perlu diperhatikan oleh agen perjalanan agar tidak rugi ketika menjalankan bisnisnya, sebagaimana dikutip dari situs tersebut:

1.    Penipuan oleh Pihak Ketiga

“Ini adalah masalah paling besar yang sering dihadapi. Apabila terjadi penipuan yang dilakukan oleh kontraktor independen (pihak ketga), seperti mengambil uang klien atau menggelapkan uang klien, agen perjalanan-lah yang harus bertanggung jawab kepada pemasok dan klien,” samapai Pestronk.

Untuk mengantisipasi hal tersebut terjadi, Pestronk menyarankan biro perjalanan untuk betul-betul berhati-hati ketika hendak bekerja sama dengan kontraktor independen (pihak ketiga). Agen dapat mewawancara orang tersebut secara seksama, mencari setidaknya dua referensi yang merekomendasikan kontraktor independen, memeriksa kredit dan catatan kriminalnya juga.

2.    Penolakan Memo Debit yang Dianggap Tidak Sah

Hal ini terjadi biasanya disebabkan karena kenakalan kontraktor independen tadi. Selain itu, memo debit -  yang biasa dikirimkan oleh penerbangan kepada agen perjalanan agar agen tersebut membayar sejumlah uang karena adanya aturan dalam tiket perjalanan udara yang tidak dipenuhi atau pelanggaran reservasi – bisa juga dikarenakan kesalahan karyawan agen atau penumpang yang mencoba menipu.

Untuk mencegah hal tersebut, pastikan karyawan dan kontraktor independen mengikuti aturan yang berlaku. “Perlu juga mengedukasi para agen mengenai pelanggaran reservasi,” sebutnya.

3.    Ketika Menandatangani Kontrak, Pertegas Anda adalah Agen

Untuk menghindari tuntutan dari para pemasok –hotel, masakapai penerbangan atau kapal pesiar- ketika klien tidak dapat memenuhi prestasi yang menjadi kewajibannya, maka berhati-hatilah ketika membuat kontrak. Pasatikan Anda bertindak sebagai agen untuk keperluan klien, sehingga tanggung jawab pembayaran ada pada klien Anda.

4.    Penipuan dengan Modus Penggunaan Nama Agen

“Akhir-akhir ini penipuan seperti ini sangat populer,” ucap Pestronk.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar para karyawan agen perjalanan harus berhati-hati ketika menerima email yang meminta untuk “log in” kembali baik itu dengan cara masuk ke link lain atau pun tidak dari siapapun.

“Itu adalah satu bentuk pancingan para penipu untuk bisa menggunakan akses dan menggunakan nama agen perjalanan Anda,” paparnya.

5.    Antara Tanggung Jawab Agen dan Pihak Ketiga

Klien kerap bingung untuk menentukan mana yang merupakan tanggung jawab agen dan mana tanggung jawab pemasok atau pihak ketiga. Ini adalah penyebab mayoritas terjadinya tuntutan hukum, maupun penagihan klaim yang diajukan klien kepada agen.

Tips dari Pestronk agar agen perjalanan dan pihak ketiga menggunkan disclaimer dalam setiap perjanjian yang menyertakan tanda tangan kedua belah pihak. Juga, tawarkan asuransi kesehatan pada setiap klien yang hendak melakukan perjalanan wisata. “Ketika menderita kerugian, klien yang sudah ditawari asuransi sebelumnya, akan lebih sedikit menyalahkan agen,” pungkasnya.

6.    Dihukum karena Peraturan Setempat

Setiap agen perjalanan perlu memerhatikan hukum yang berlaku di tempat mereka menjalankan bisnisnya. Pasalnya, ada peraturan-peraturan khusus yang berlaku di beberapa daerah. Bisa juga agen terjerat pelanggaran hak-hak sipil.

“Meski nantinya agen dinyatakan tidak bertanggung jawab atas hal tersebut, legal fee yang harus dikeluarkan tetap saja terhitung cukup besar,” sebut pengacara industri wisata ini.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua