Rabu, 08 Juli 2015

Ini News Anchor Bergelar Sarjana Hukum

Memiliki background hukum menjadi keuntungan tersendiri bagi pembawa berita.
RIA
Najwa Shihab, salah seorang news anchor yang bergelar sarjana hukum. Foto: RES.


Menjadi sarjana hukum bukan berarti melulu harus berakhir dengan profesi populer seperti lawyer. Selain banyaknya lapangan pekerjaan lain yang memang dikhususkan bagi lulusan fakultas hukum, ada profesi alternatif lain yang juga bisa diisi posisinya oleh para sarjana hukum.


Kalau selama ini kita menyaksikan lawyer, jaksa, atau hakim yang ramai diberitakan oleh media di televisi, ternyata ada sarjana hukum lain yang tak kalah sering tampil di hadapan kita, yaitu news anchor atau juga akrab di telinga kita sebagai pembawa berita.


Hukumonline berhasil menghimpun beberapa nama pembawa berita yang berkiprah di stasiun tv nasional yang mengenyam pendidikan ilmu hukum saat masa perkuliahannya. Salah satunya adalah Fessy Alwi.


Dihubungi melalui sambungan telepon, Fessy yang sudah memulai kariernya sebagai penyiar di TVRI Surabaya sejak masih mahasiswa, bercerita awal mula dirinya memutuskan terjun ke stasiun TV nasional sebagai wartawan begitu lulus dari FH Universitas Airlangga.


Masih dalam euforia era reformasi, Fessy begitu antusias dengan semangat kebebasan pers yang masih membara kala itu.


“Karena panggilan hati juga ya. Wartawan itu kan orang yang bisa mengabarkan pertama kali sebuah kejadian, bisa memberitakan kepada orang lain, itu saya pikir menjadi fungsi sosial kita sebagai manusia,” imbuhnya.


Fessymulai duduk di belakang meja anchor pada Januari 2003.Perempuan yang pernah berkarier di RCTI, ANTV, dan terakhir Metro TV bahkan sudah mengenyam berbagai peran; mulai dari reporter hingga produser. Pengalaman meliput daerah konflik dan menjadi wartawan istana pun pernah dilakoni istri politisi Partai Nasional Demokrat Taufik Basari ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua