Rabu, 15 July 2015

Warkah Cinta untuk Sintua

Bismar adalah sosok yang sederhana, rendah hati dan inklusif. Dia tidak memandang orang dari agamanya.Surat-surat dan perjalanan hidup membuktikan inklusivitasnya.
YOZ/ADY/KAR/FNH
Bismar Siregar. Foto: RES

“Ada tiga hal yang tetap harus kita lakukan di dunia ini: percaya, berharap, dan saling mengasihi. Yang paling penting dari ketiganya ialah mengasihi”.
 
Kalimat di atas adalah kutipan pidato Bismar pada peluncuran buku kenangan Sintua (St) Harris Siregar pada 1 Februari 2005. Apa yang disampaikan Bismar sebenarnya kutipan juga dari Injil 1 Korintus 13:13. Selain itu, dalam pidato ia juga mengutip beberapa ayat Alkitab, menyesuaikan dengan perhelatan itu. , St. Harris Siregar, menerbitkan buku kumpulan khotbah-khotbah kebaktian Minggu, yang disampaikan saat menjadi Sintua Majelis Jemaat Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) Jakarta.
 
Di awal pidato, Bismar tak sungkan mengucapkan walaupun ia tahu tamu-tahu perhelatan itu umumnya adalah jemaat GKPA. Keturunan St Harris Siregar yang meminta Bismar memberikan kata sambutan. Bismar bersedia karena sama-sama bermarga Siregar dan berasal dari Sipirok. Semasa kuliah di Fakultas Hukum UI, Bismar ‘mondok’ bersama Harris Siregar dan Tagor GM Siregar di Jalan Pekalongan 12 Jakarta Pusat. Saat itu, Harris sudah bekerja di Departemen Perhubungan.
 
Tetapi bukan karena daerah asal dan pertemanan itu semata yang membuat Bismar bersedia memberi sambutan. Bagi Bismar, rasa mengasihi sesama manusia, apapun agamanya, lebih penting. Bagi Bismar, tidak ada salahnya mengucapkan  di depan jemaat gereja atau pura, dan tak ada salahnya pula seorang Muslim mengucapkan Haleluya. “Kasih sayang merupakan modal hidup kerukunan hidup antar umat manusia,” kata Bismar.
 
Demikianlah pandangan hidup yang dipegang Bismar selama ini, sebagaimana terungkap dari surat-surat dan dokumen lain yang dia wariskan kepada anak cucunya. Ia berkomunikasi dengan tokoh agama lain tanpa risi. Ia tercatat pernah berkorespondensi dengan tokoh Katholik asal Yogyakarta, Romo Mangunwidjaja, dan Ketua Paguyuban Penghayat Kapribaden Bali, Kade Suparma.
 
“Jelas bagi saya, yang menjadi sasaran utama dalam pergaulan silaturrahim itu, jangankan dengan yang sebangsa, bahkan dengan yang berlainan bangsa pun dituntut dipererat tali persaudaraan, tanpa mempermasalahkan perbedaan iman,” tulis Bismar.
 
Pandangan-pandangan Bismar mengenai sapa menyapa saudara yang berlainan agama, termasuk cerita tentang St Harris Siregar dan korespondensinya dengan Romo Mangun itu, tertuang dalam buku , buku Bismar setebal 949 halaman. Ia berpandangan menyebut Haleluya tak ada salahnya. “ ujarnya.
 
Itulah sikap Bismar. Maka tidak mengherankan jika dalam peluncuran buku mantan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Medan, Djariaman Damanik, pada 26 November 2000, Bismar tak sungkan menyebut haleluya di hadapan hadirin yang memadati Panti Perwira Balai Sudirman Jakarta. “Puji Tuhan, Haleluya, saya berbahagia bisa di sini ikut mensyukuri nikmat Allah, yakni diberikan-Nya usia 80 tahun bagi (ipar—red) kami Djariaman Saragih,” kata Bismar.
 
Meski seorang muslim yang taat, yang acapkali mengutip al-Quran dalam ceramahnya, Bismar tak segan mengucapkan kata haleluya dan dalam berbagai kesempatan, baik lisan maupun tulisan. Kata Haleluya sudah bukan kata yang asing lagi, dimana apabila seseorang mengucapkannya, maka otomatis semua tahu bahwa dia adalah seorang Kristen. Dalam khotbah-khotbah di gereja pun, kata Haleluya sering diucapkan oleh para hamba Tuhan dan pemimpin pujian.
 
Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Pdt Andreas Anangguru haleluya sama dengan dalam Islam, yang maksudnya terpujilah Allah. Kata lain, , berarti semoga Allah beserta umatnya.
 
Memang ada kalimat-kalimat yang khas dalam agama tertentu, kata Andreas. Akan tetapi, dalam abad sekarang ini dimana interaksi antar manusia luar biasa, menurutnya kata-kata itu boleh dipakai oleh siapapun asal yang bersangkutan tidak merasa terbebani. “Asal jangan terpaksa, kalau dia lihat -nya saja mendengar istilah itu, silakan saja,” jelasnya.
 
Frans Hendra Winarta juga punya kenangan manis tentang sikap toleransi Bismar. Advokat senior ini bercerita, setiap natal, Bismar selalu mengirimkannya kartu ucapan natal. Sebaliknya, ia juga mengirimkan kartu ucapan selamat lebaran di saat Bismar merayakan lebaran. Di matanya, Bismar adalah orang yang toleran, plural, baik, jujur dan bermoral. “Saat itu saya menjadi pengurus di YLBHI dan beliau sering diundang untuk memberikan ceramah,” ujar Frans.
 
Mantan Dekan Fakultas Syariah UIN Jakarta H M. Amin Suma terkesan dengan sosok Bismar yang selalu melibatkan keagamaan, meski yang bersangkutan adalah ahli hukum. Begitu juga dalam komunikasi sehari-hari, Bismar ingin semua mengedepankan agama masing-masing.  “Sebagai pemimpin, Bismar ingin mengayomi semuanya,” kata Amin kepada .
 
Bismar percaya bahwa Islam yang dia anut adalah rahmat bagi sekalian alam. Maka ketika berceramah atau berkorespondensi pun ayat-ayat kitab suci meluncur dari mulutnya atau dituangkan dalam tulisannya. Demikian pula saat membuat catatan panjang atas meninggalnya Romo Mangun, 10 Februari 1999, Bismar mengutip juga ayat-ayat Al-Quran meskipun Romo Mangun seorang Katholik.
 
Pada bagian akhir catatannya, Bismar mengutip sebuah hadits Rasulullah Muhammad SAW: “Bila bertemu satu sama lain, binalah hubungan silaturahmi, pancarkanlah wajah yang cerah dan senyumlah. Jabatlah tangannya dan ucapkanlah salam”.
 
Meskipun demikian, dalam hal menjalankan agama, Bismar mengaku sebagai ‘Muslim jiwa raga’. Meskipun ia menganggap penganut agama lain sebagai saudara, dalam hal perkawinan antaragama, penolakan Bismar sangat jelas. Bismar percaya , bagiku agamaku bagimu agamamu. 


Sahibulbait

Assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum





Islam Rahmat Bagi Semesta AlamKembali pada ucapan haleluya tadi, yang maknanya sama dengan Alhamdulillah. Mengapa kelu lidah seorang Muslim bila saat bertegur sapa dengan sesama”,

tondong

immanuele

Yewangoe, menjelaskan Alhamdulilahimmanuele

audiencehappy



hukumonline





lakum dinukum waliyadin

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua