Rabu, 02 September 2015

Kuliner, Cara Advokat Manjakan Diri

Warteg atau restoran mahal tidak masalah, yang penting enak.
RIA/CR19
Salah satu jenis makanan yang di-review Fajar Reyhan Apriansyah dalam blog pribadinya. Foto: http://bienmanger102.blogspot.com

Dikenal sebagai profesi dengan segudang pekerjaan dan memiliki beban cukup berat, advokat (lawyer) punya cara masing-masing untuk memanjakan diri mereka. Ada yang memilih untuk , ada juga yang suka dengan mencicipi makanan dari satu tempat ke tempat lain atau kuliner.
 
Salah satu advokat yang hobi memanjakan dirinya dengan cara kulineran adalah Fajar Reyhan Apriansyah. Fajar bercerita kepada , hobi tersebut berawal dari kesenangannya mencoba hal-hal baru. Mencoba hal yang unik, khusus di bidang makanan, sebutnya.
 
“Kalau makan kan orang setiap hari juga makan. Nah pasti terkadang ada rasa bosan dari orang sehingga pengen mencicipi makanan baru. ‘Ah gue bosen nih makan ini, pengen yuk nyoba yang di sini,’ makanya akhirnya pindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain,” tuturnya di ujung telepon.
 
Kebiasaan mencicipi makanan ini pun dibawanya saat melakukan perjalanan ke luar kota. Fajar mengaku setiap kali ia mendapat kesempatan mengunjungi daerah-daerah, ia akan mencari referensi kuliner atau tempat-tempat makan yang terkenal di daerah setempat.  Bagi advokat litigasi ini, tak masalah makan di restoran mewah atau tempat makan kaki lima, yang penting enak, begitu sebutnya.
 
“Gue kuliner kaki lima itu seneng, apalagi di daerah gitu ya. Misalnya kayak kemarin abis lebaran gue ke Cirebon, yang terkenal kan ada nasi jamblang dan tahu gejrot. Yang gitu-gitu kan kaki lima ya? Tapi itu enak,” tukas Fajar.
 
Senada dengan Fajar, Nur Setia Alam atau akrab disapa Alam mengatakan dengan pekerjaannya sebagai lawyer yang mengharuskan ia mendatangi berbagai tempat, tak melulu Alam bisa menemukan tempat makan mewah. Makan di warteg pun dijalaninya bila memang sudah masuk waktu makan.
 
“Kadang kalau saya lagi main tanah, saya kan lawyer pertanahan nih, itu bisa sampai ke Bogor atau ke mana-mana. Itu kadang-kadang ya kita makannya di warteg. Saya sih ngga ada masalah makan di warteg,” ujar Alam, Senin (31/8), di Jakarta.
 
Namun, Alam menyebutkan, sebisa mungkin ia akan mencari tempat-tempat makan yang menyediakan menu sehat seperti salad, smoothies, atau menu organik lainnya. “Kalau ngga ada, baru makan makanan yang penting nggak tinggi kolesterolnya. Kita harus coba mengurangi karbohidrat juga karena faktor umur ya,” lanjutnya.
 
Soal menu yang mahal pun akhirnya tak menjadi masalah buat Alam. Selama enak, dan menunya menarik, ia rela merogoh koceknya demi bisa menikmati makanan tersebut. Kalau masalah harga, semakin harganya menarik, menu itu pasti semakin asik, kata Alam.
 
Fajar juga punya budget sendiri untuk hobinya yang satu itu. Setiap minggu ia mengalokasikan sebagian penghasilannya untuk memanjakan diri dan memanjakan lidah  menikmati pilihan kuliner yang tersedia. Sesekali lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini pergi ke tempat makan dengan suasana dan cita rasa hotel berbintang.
 
“Bukan mau pamer, tapi kalau lagi ada rezeki dan mau memanjakan lidah juga diri sendiri, ? Karena kan setiap orang punya hobi masing-masing,” ungkap Fajar seraya mencontohkan para pemilik hobi otomotif yang rela menghabiskan ratusan juta untuk mendandani mobilnya.
 
“Yang penting prinsip gue, gue tidak mau memaksakan diri dan gue sesuaikan dengan budget. Ada rezeki ya kenapa nggak sekali-kali?” lanjutnya.
 
Meski merasa tidak pas disebut sebagai , Fajar melanjutkan hobi kulinernya ini dengan menuliskan review hasil ia berburu makanan ke dalam . Berdasarkan penelusuran hukumonline, bien manger adalah bahasa Prancis yang artinya “makan dengan baik”.
berliburrefreshing

hukumonline

















why not



food bloggerhttp://bienmanger102.blogspot.com/

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua