Berita

Jadi Petugas Haji, Saksi Ini Pernah Ajak Ibu-Ibu Majelis Taklim Coblos Istri SDA

Saksi membantah pernah jadi tim kampanye istri Suryadharma Ali.
Oleh:
NOV
Bacaan 2 Menit
Mantan Menteri Agama Suryadharma Ali saat menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta. Foto: RES
Mantan Menteri Agama Suryadharma Ali saat menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta. Foto: RES

Ajudan istri Menteri Agama Suryadharma Ali, Mulyanah Acim disebut ikut mengusulkan sejumlah orang untuk menjadi Petugas Panitia Penyelenggara Haji (PPIH) tahun 2012. Padahal, orang-orang yang direkomendasikan tersebut tidak memenuhi persyaratan dan tidak menjalankan seluruh tugasnya sebagai PPIH.

Ida Farida salah satunya. Ida yang berasal dari Majelis Taklim Annisa, Bekasi, menjadi PPIH pada penyelenggaran ibadah haji tahun 2012. Ida menceritakan, awalnya Mulyanah Acim mendatangi majelis taklimnya pada tahun 2011. Belakangan, ia mengetahui jika Mulyanah adalah ajudan Wardatul Asriyah, istri Suryadharma.

Ida mengetahui bahwa Wardatul tengah mengikuti Pemilu Legislatif di Daerah Pemilihan Kabupaten Bekasi. Namun, Ida membantah keberangkatannya sebagai PPIH merupakan imbalan karena ia menjadi tim kampanye Wardatul.

"Bukan kampanye. Memang 2009 ada pemilihan anggota DPR. Di majelis taklim, ibu-ibunya nggak tahu yang harus dicoblos. Banyak baliho Bu Wardah, spanduknya luar biasa. Dari pada nggak nyoblos, ya sudah ini saja lah, pakai jilbab, ada lambang Ka'bah," katanya saat bersaksi dalam sidang perkara korupsi Suryadharma Ali di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (23/10).

Faktanya, Wardatul memang terpilih sebagai anggota DPR periode 2009-2014. Pada 2014, Wardatul kembali mencalonkan diri dan terpilih sebagai anggota DPR periode 2014-2019. Sementara, pada 2012, saat Suryadharma masih menjabat sebagai Menteri Agama, Mulyanah adalah ajudan Wardatul. Sejak 2014, Mulyanah menjadi staf Wardatul di DPR.

Saat mengetahui Mulyanah adalah ajudan istri Menteri Agama Suryadharma Ali, Ida mengajukan diri sebagai PPIH tahun 2012. Akhirnya, Ida mendapat undangan untuk mengikuti tes dan lulus. Ida mengikuti pelatihan untuk menjadi PPIH selama 10 hari di Asrama Haji Pondok Gede. Ida pun berangkat ke Arab Saudi sebagai PPIH.

Ida beralasan keinginannya menjadi PPIH merupakan inisiatif pribadi. Ketika menunaikan ibadah haji pada 2001, ia merasa kasihan melihat jemaah-jemaah haji yang berusia lanjut atau uzur. Maka dari itu, Ida berniat, kalau diizinkan Allah kembali ke tanah suci, ia ingin menjadi PPIH untuk mengurus para jemaah haji yang sudah uzur.

Halaman Selanjutnya:
Berita Terkait