Rabu, 04 November 2015

Penyelesaian Sengketa Perjanjian Investasi Perlu Dikritisi

Investor asing selalu takut dipolitisasi.
KAR
Foto: igj.or.id


[Versi Bahasa Inggris]


Indonesia sudah sekian kali berhadapan dengan korporasi asing di lembaga arbitrase internasional seperti The International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID). Kebanyakan gugatan arbitrase itu diajukan oleh pihak korporasi asing. Alasannya, mereka merasa dirugikan oleh adanya regulasi ataupun kebijakan baru yang diambil pemerintah.


Sebagai contoh, sebut saja gugatan PT Newmont Nusa Tenggara yang menggugat Pemerintah Indonesia pada tahun 2014 karena UU No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara mewajibkan perusahaan membangun unit pemurnian (smelter). Sebelumnya, Churcill Mining juga menggugat Pemerintah Indonesia atas penerbitan izin ganda wilayah pertambangan.


Menurut peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ),  Rachmi Hertanti, ada yang perlu dikritisi dari mekanisme perjanjian investasi dan penyelesaian sengketanya. Menurut Rachmi, mekanisme tersebut sebenarnya memberikan perlindungan kepada pemilik modal dari penerapan peraturan perundang-undangan nasional. Padahal, aturan tersebut bisa jadi memberikan perlindungan kepentingan rakyat.


“Seolah-olah mekanisme ini menjadi hal yang biasa dalam praktik bisnis. Tetapi sebenarnya mekanisme ini sengaja dibuat dalam tata hukum bisnis untuk memberikan perlindungan kepada investor. Dampaknya, pemerintah menjadi kehilangan kedaulatan dalam membuat kebijakan nasional yang berpihak kepada rakyat,” tandasnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (4/11).


Rachmi mengakui, perlindungan terhadap kepentingan pemilik modal bukanlah hal baru. Berdasarkan pengamatannya, hal itu sudah menjadi sebuah rezim kebiasaan bahkan sejak zaman penjajahan. Bahkan, ia menengarai bahwa perlindungan investasi telah menjadi sebuah tata hukum perjanjian internasional yang bersifat universal. Akan tetapi, Rachmi melihat ada perubahan bentuk yang menyesuaikan keadaan zaman.


“Perjanjian perlindungan investasi ini menjadi standar ganda bagi negara eks-penjajah. Kenapa? Karena perjanjian itu menjadi aturan yang memberikan perlindungan bagi perusahaan asing eks-penjajah yang menekankan pada aspek ganti rugi dalam hal dilakukannya nasionalisasi oleh negara yang baru merdeka,” paparnya.


Dia menjelaskanbahwaperjanjian perlindungan investasi memang mulai dikenal setelah Perang Dunia II berakhir. Pada waktu itu, perjanjian dibuat untuk memberikan jaminan perlindungan bagi keberadaan investasi asing. Menurut Rachmi, negara-negara yang menanamkan modalnya di luar batas negaranya merasa perlu mendapat perlindungan.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua