Senin, 09 November 2015

Kongkow, Cara Notaris Lepaskan Penat

Ada yang karaoke-an setelah rapat organisasi, ada juga yang main golf atau olahraga bareng.
RIA
Fully Handayani (jongkok, dua dari kanan) bersama kalangan notaris wilayah Banten. Foto: Facebook
Setiap profesi pastinya memiliki tingkat stres masing-masing. Begitu pun kalangan notaris, profesi yang salah satu kerjaannya adalah mengurus legalitas dokumen, terkadang dilanda stres akibat tekanan pekerjaan. Salah seorang notaris yang praktik di wilayah Tangerang, Fully Handayani bercerita tentang kepenatannya tersebut.
 
“Kalau ketemu klien, kita ketemunya kan problem dan harus solving problem ya. Biasanya itu dikejar-kejar waktu. Klien mintanya tuh cepet. Buru-buru,” tutur Fully, pertengahan September 2015 lalu.

“Itu baru klien. Belum lagi dengan pihak ketiga, misalnya BPN (Badan Pertanahan Nasional, red). Yang bikin stres sebetulnya ya lebih ke arah pihak ketiga ini. Contohnya kayak berkas saya di-pending lama banget di BPN. Kenapa sih harus bolak-balik dicari kekurangan?” lanjutnya di ujung telepon.
 
Untuk mengatasi suntuk yang dirasakan, Fully yang juga aktif di Ikatan Notaris Indonesia (INI) sebagai pengurus daerah di wilayah kerjanya tersebut, biasa melepaskan penat dengan berkumpul alias kongkow bersama pengurus daerah lainnya.
 
“Kalau di Kabupaten Tangerang, karena isinya lebih banyak ibu-ibu ya, mereka kan seneng kumpul-kumpul. Di sekretariat pengda (pengurus daerah) itu kita punya screen sendiri dan alat karaoke sendiri. Jadi sambil rapat pengurus, kita sambil makan-makan dan nyanyi-nyanyi. Kalau ada yang ulang tahun baru ke Inul Vizta (outlet karaoke, red) atau kemana,” ujar Fully.
 
Fully menyampaikan secara rutin mereka juga mengadakan arisan. Dari ajang kumpul-kumpul itu mereka akan membuat acara bulanan yang sifatnya akademik; peningkatan kualitas notaris, atau acara-acara yang bersifat sosial.
 
Hal lain yang biasa dilakukan bersama adalah jalan-jalan. Baru-baru ini Fully, teman-teman pengda, dan Majelis Pengawas Daerah (MPD), pergi ke Bangkok selama 4 hari 3 malam. Hal itu, sebut Fully, berguna untuk membangun kebersamaan. "Dan tentunya tidak meninggalkan wilayah kerja selama tujuh hari berturut-turut, imbuhnya.
 
Sebagai informasi bila meninggalkan kantor selama tujuh hari berturut-turut atau lebih, notaris wajib cuti. Merujuk pada Pasal 32 ayat (1) UU Nomor 2 Tahun 2014, notaris yang menjalankan cuti itu harus menyerahkan protokol notaris kepada notaris pengganti.
 
Notaris Hapendi Harahap juga mengungkapkan hal serupa. “Selama jadi notaris ini, yang dilakuin untuk melepas penat ya paling berorganisasi dan kumpul-kumpul. Nanti di kumpul-kumpul ini ada olahraga, golf, dan macem-macem,” ucap mantan Ketua Pengurus Wilayah INI Provinsi Banten ini.
 
“Nah kalau saya pribadi lebih seneng cari kuliner,” imbuhnya. Setiap minggu, Hapendi mengaku senang mencari tempat-tempat makan baru untuk mencicipi kuliner khas cita rasa nusantara. Masakan khas Sunda, Makassar, Lombok, Jogja, dan daerah lainnya menjadi menu utama Hapendi berburu makanan.
 
“Saya itu senengnya masakan kampung ya, yang murah-murah aja. Misalkan pas lagi pengen gudeg, kita cari dimana nih yang enak nih gudegnya? Nanti kita ke sana. Kalau yang di hotel-hotel restoran mewah saya nggaK begitu hobi. Hobinya ya itu tadi,” pungkas Hapendi saat dihubungi hukumonline melalui sambungan telepon.
 
Sedangkan Fully mengisi akhir minggunya dengan menonton ke bioskop dengan anak-anak. “Saya pribadi, karena sama anak-anak jadi sukanya nonton film. Atau ya paling seperti keluarga muda pada umumnya sih. Kalau akhir pekan pokoknya dihabiskan sama keluarga,” ujarnya.
 
“Selain itu kan saya juga masih aktif ngajar, jadi masih banyak di kampus. Buat saya di kampus itu udah jadi relaksasi tersendiri,” tukas Fully yang juga dikenal sebagai staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua