Selasa, 02 February 2016

Menyingkap Fenomena Silent Partner dalam Law Firm

Biasanya, fenomena silent partner ini berakar pada investasi.
RIA
Profesi advokat. Ilustrasi: BAS

Di Indonesia, kantor hukum didirikan atas akta persekutuan perdata. Orang-orang yang bersekutu, berpartner untuk menjalankan kantor yang mereka dirikan. Namun, tak semua orang-orang dalam akta itu terlihat di permukaan, nyatanya ada juga yang namanya .
 
Nah, apa itu ? Dikutip dari hukum milik Cornel University Law School, didefinisikan sebagai bagian dari sekutu yang mendapatkan bagian atas keuntungan dan ikut bertanggung  jawab atas kerugian namun tidak terlibat dalam bisnisnya itu secara aktif.
 
Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Profesi Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM) GP Aji Wijaya mengatakan, fenomena ini berakar pada investasi. Baik keinginan investasi yang diprakarsai oleh orang yang kemudian menjadi atau permohonan untuk investasi dari partner yang menjalankan kantor setiap harinya.
 
“Misalnya gini nih, anda punya duit banyak ya. Terus lihat ada teman di law firm tertentu. Dia sudah jago. Dia juga sudah punya klien di law firm itu, yah udah pegang akun sendiri lah. Anda hitung-hitungan soal bisnis, anda tarik dia buat bikin law firm dan anda yang modalin. Ntar tinggal ngomongin pembagian deh,” ujar Aji, Senin (1/2).
 
Atau, lanjut Aji, bisa juga jika merasa punya potensi untuk membuat law firm sendiri tapi tak memiliki modal. Bahkan, saat mendatangi bank untuk mengajukan kredit membuat law firm, ditolak. Kemudian muncul orang lain yang siap memberikan investasinya. “Maka timbul lah model gitu. Kita ada potensi, tapi belum punya uang,” katanya.
 
Aji mengatakan, meski biasanya ini adalah orang yang tidak berpraktik di jalur yang sama, namun fenomena yang ada menunjukkan ada pula yang merupakan di kantor hukum lainnya. Bahkan, ada satu orang di suatu kantor hukum yang merupakan di enam kantor hukum lainnya. “Fenomena ini sudah lama ada,” kata pemilik kantor Aji Wijaya & Co ini.
 
Advokat Andrey Sitanggang menyampaikan hal serupa. Ia mengatakan, permasalahan yang sering terjadi pada advokat-advokat yang hendak bersolo karier adalah keterbatasan dana untuk modal memulai usahanya. Dalam mendirikan law firm misalnya, setidaknya lawyer membutuhkan sebidang ruang yang digunakan untuk merepresentasikan keberadaan kantornya dan melakukan kegiatan di sana.
 
“Misalnya, kita mau sewa kantor 100 meter. Nah untuk office yang representatif sering kali memang membutuhkan financial support dari seseorang,” kata Andrey melalui sambungan telpon.
 
Ia mengumpamakan, sebagai sebuah bisnis ‘dagang’. Pemilik modal biasanya tidak terlalu andal dalam bidang tertentu. Maka, ia merangkul orang yang dianggapnya andal untuk menjalankan bisnis tersebut dan diberikan dana untuk investasi dari pemilik modal.
 
Untuk diketahui, selain ada juga yang namanya Berdasarkan penjelasan dari channel bisnis sebuah media di Amerika, Houston Chronicle, tidak seperti ikut menjalankan bisnis bersama-sama dengan .
 
Namun, nama biasanya dirahasiakan dari kegiatan bisnis itu. Alasan seseorang menjadi bisa jadi karena sebelumnya reputasi ia tidak baik atau pernah mengalami kegagalan bisnis sehingga ia enggan reputasi bisnis barunya jadi buruk lagi dengan mencantumkan nama di situ.

 
silent partner

silent partnerkamussilent partner

silent partner silent partner



silent partner

silent partner silent partneractive partneractive partnersilent partner





silent partner

silent partner secret partner.secret partnersilent partner.Secret partneractive partner

secret partnersecret partner

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua