Selasa, 01 March 2016

5 Hal Penting yang Wajib Diketahui Mahasiswa Hukum Sebelum Lulus

Jangan hanya berteori saat di kampus, tapi diimbangi dengan praktik.
HAG
Ilustrasi mahasiswa hukum. Foto: SGP


 
Berbicara mengenai lulusan hukum yang akan menjadi sarjana hukium harus berbicara mengenai bekal yang harus dimiliki sebelum lulus. Sehingga, apabila mahasiswa hukum sudah memiliki bekal yang baik maka akan dapat menjalankan dunia pasca kampus dengan baik. Berikut hal yang perlu disiapkan mahasiswa hukum sebelum lulus.



1. Jangan hanya berteori, tapi berpraktiklah!!!

Chandra Motik, Ketua ILUNI UI menyatakan bahwa apabila ingin memiliki karier yang cemerlang pasca belajar di kampus, maka mahasiswa hukum jangan hanya berteori saat di kampus. Sehingga ketika memiliki kemampuan atau skill lebih dalam berpraktik maka mahasiswa hukum akan memiliki nilai plus di waktu pasca kampus.

 

œPraktik. Jadi mahasiswa juga harus belajar mengenai praktik. Kampus juga harus menyiapkan agar mempersiapkan praktik, juga para dosen. Sehingga ketika mereka lulus itu tidak ketinggalan dengan yang lain. Jangan hanya berteori saja, ujarnya.



2. Ikuti perkembangan isu dan peraturan hukum

Menurut Chandra, selain di kampus jangan hanya belajar teori, mahasiswa hukum harus mengetahui dan mengikuti perkembangan hukum yang sedang berkembang, sehingga dengan demikian ketika lulus dapat bersaing dengan yang lainya. 



3. Jangan terlena oleh gadget

Ari Wahyudi, Ketua Unit Mahasiswa dan Kompetisi Kemahasiswaan menjelaskan bahwa dengan majunya teknologi yang ada sekarang jangan sampai malah menjadi kerugian bagi mahasiswa. Pasalnya, dengan dibantu dengan gadget yang canggih maka banyak mahasiswa yang terlena sehingga tidak mempersiapkan diri dengan baik.

 

Ari memberikan contoh ketika dirinya mengajar mahasiwa, sekarang kalau melakukan presentasi banyak yang tidak memiliki persiapan yang baik. Kemudian, bila ada pertanyaan yang tidak mereka ketahui maka kemudian mereka membuka gadget dan mencarinya. Sedangkan waktu zamannya menjadi mahasiswa apabila ingin melakukan presentasi dirinya akan mempersiapkan sedemikian rupa agar ketika presentasi siap apabila ditanya.

 

œKalau menurut saya sekarang jauh lebih mudah karena semua fasilitas sudah disiapkan. Fasilitas yang ada modal, jangan sampai melenakan mahasiswa sehingga menjadi sesuatu yang malah tidak menguntungkan. Sehingga jangan sampai gadget-gadget ini menjadikan mahasiswa menjadi ketergantungan, jelasnya.



4. Persiapkan Career Path!

Rencana karier sangat dibutuhkan oleh mahasiswa sebelum dirinya menyandang gelar sarjana. Pasalnya, banyak sekali mahasiswa yang hanya mengetahui lawyer sebagai karier bagi sarjana hukum, padahal banyak sekali profesi yang dapat menjadi alternatif bagi sarjana hukum, terutama profesi di bidang publik.

 

Kemudian, menurutnya, banyak mahasiswa yang belum mengetahui konsekuensi atau beban kerja sebagai seorang pengacara dan hanya melihat pengacara dari segi penghasilannya saja. Dibutuhkan pula pemahaman atau pemaparan dari sektor yang lain seperti perusahaan atau BUMN mengenai jenjang karier bagi lulusan sarjana hukum di kampus-kampus.

 

œTerkait dengan minat. Dengan skill yang dimiliki banyak mahasiswa yang cenderung memilih lapangan pekrjaan. Padahal, orientasinya seharusnya tidak hanya sesaat. Tetapi malah harus diberikan stimulan, sehingga dibutuhkan penyusunan rencana kerja ke depannya, ujarnya.



5. Jangan terlalu percaya diri (PD) dan jaga etika

Menurut Ari, sekarang ini banyak sekali mahasiswa yang memiliki rasa PD yang bagus dan malah banyak yang berlebihan. Rasa PD yang berlebihan tersebut kemudian dapat menjadikan seorang lulusan hukum menjadi terlihat tidak memiliki etika.

 

œUntuk percaya diri, mahasiswa bahkan melebihi atau agak berlebihan. Itu menjadi tantangan karena kalau terlalu percaya diri akan bertentangan dengan aspek etika. Karena ada beberapa teman mahasiswa yang aspek etikanya dengan senior bermasalah, sehingga etika itu sangat penting dan sangat perlu diperhatikan, ujarnya.

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua