Jumat, 22 April 2016

Penting Disimak! 8 Tips Presentasi Hukum

Tidak harus penuh dengan pasal-pasal.
Tim Advertorial
Ilustrasi: HLM

Melakukan presentasi biasanya menjadi momok bagi kalangan mahasiswa hukum maupun kalangan profesional seperti advokat. Gugup, materi presentasi belum matang, atau tidak berani berbicara di depan banyak orang biasanya menjadi alasan kenapa orang merasa gagal ketika melakukan presentasi.
 
Supaya tidak gagal, ada ragam tips yang mungkin bisa menjadi solusi. mencoba merangkum delapan tips yang wajib diperhatikan agar presentasi hukum anda berlangsung sukses. Berikut ini tipsnya:
 

Sering kali, presentasi direduksi menjadi kegiatan menyampaikan sesuatu melalui . Kita terlalu fokus membuat sehingga sering lupa bahwa tujuan melakukan presentasi adalah ingin menyampaikan ide, Ide dapat disampaikan melalui berbagai cara; tidak melulu melalui . hanyalah salah satu alat bantu dalam presentasi. Tentukan ide yang akan Anda sampaikan dan tentukan cara paling tepat untuk menyampaikannya, serta alat bantu yang diperlukan.
 

Sebelum mulai membuat presentasi, coba bayangkan: kira-kira apa saja hal penting yang perlu diketahui oleh Anda. Sampaikan yang fundamental saja dan lakukan dengan cara sederhana. Jangan tumpahkan seluruh informasi dalam presentasi. Apabila Anda merasa banyak hal penting lain yang perlu diketahui oleh , berikan atau bahan bacaan lanjutan. Bila Anda tidak dapat menjelaskan ide Anda secara sederhana, tidak akan mudah juga bagi untuk memahaminya.
 

Kita pasti merasa bahwa ide yang akan kita sampaikan adalah ide yang menarik. Kalau tidak, tentu kita tidak akan bersusah payah mempresentasikannya. Sayangnya, sering kali, ide menarik tidak disampaikan dengan baik sehingga tidak menimbulkan dampak seperti yang diharapkan. Pilihan cara seringkali menjadi penentu apakah ide menarik itu sampai atau tidak ke audience. Gambar atau infografis bisa menjadi salah satu cara yang efektif yang patut dicoba.
 

Aturan 10/20/30 ini diciptakan oleh Guy Kawasaki, seorang sehingga setiap hari, ia harus mendengarkan orang berpresentasi untuk mendapatkan pendanaan. Berdasarkan pengalaman mendengar banyak presentasi yang “menyiksa”, ia menciptakan aturan 10/20/30.
 
Menurutnya, setiap presentasi sebaiknya terdiri dari ; tidak boleh memakan waktu lebih dari ; dan yang digunakan tidak boleh lebih kecil dari . 
 
Menurutnya, 10 merupakan jumlah paling optimal karena manusia normal tidak dapat memahami lebih dari 10 konsep dalam sebuah pertemuan. Waktu 20 menit ditawarkan untuk berdiskusi. Bila diasumsikan waktu yang dialokasikan untuk presentasi adalah 60 menit, alokasi waktu terbanyak seharusnya digunakan untuk berdiskusi. 
 
Penggunaan ukuran 30 bukan hanya agar bisa dilihat dengan jelas oleh yang duduk di bangku paling belakang. Itu membuat kita berpikir keras untuk menentukan poin apa yang paling penting untuk disampaikan. Itu juga menantang kita untuk tahu bagaimana cara menyampaikannya dengan cara paling baik sehingga membuat presentasi menjadi jauh lebih baik.
 

Anda lah tokoh sentral dalam presentasi. Anda bukan sekadar orang yang membacakan . Apabila Anda terlihat tidak antusias, tentu bisa merasakan hal serupa. Apalagi, antusiasme adalah sesuatu yang mudah menular. Begitupula bila Anda terlihat tidak yakin dengan apa yang Anda sampaikan, akan merasakan hal itu. Karena itu, sampaikan presentasi dengan percaya diri, penuh semangat, dan artikulasi yang jelas
Rasa ingin tahu adalah sesuatu yang . Apabila pada awal presentasi, Anda bisa memancing rasa ingin tahu , mereka akan tertarik untuk mengikuti presentasi Anda. Pertanyaan adalah salah satu cara memancing rasa ingin tahu yang efektif. Tentu saja, materi yang Anda sampaikan juga harus mengandung sesuatu yang baru sehingga akan menimbulkan rasa ingin tahu .
 

Pada dasarnya, manusia senang dengan cerita. Dari zaman dulu, nenek moyang kita telah menggunakan cerita sebagai alat untuk menyampaikan pesan, kebijakan, dan nilai-nilai. Gunakan contoh-contoh kasus atau cerita yang relevan dan dekat dengan Dengan demikian, mereka merasa ada kaitan dengan apa yang disampaikan. Itu bisa mempermudah untuk memahami penjelasan Anda
 

Kadang, ketika sedang presentasi, kita terpaku untuk menyampaikan seluruh materi tanpa melihat bagaimana kondisi dan reaksi dari . Lihatlah reaksi . Apakah mereka yang duduk di belakang bisa mendengar suara Anda dan bisa melihat Anda dengan jelas? Apakah mereka terlihat memahami penjelasan Anda ataukah mereka terlihat bingung? Apakah mereka terlihat tertarik, ataukah mengantuk, atau jatuh tertidur? Bila menunjukkan gejala tidak memperhatikan, Anda perlu mengubah strategi .
 
Proses menyampaikan ide dan gagasan dengan baik merupakan salah satu keahlian dasar yang harus dimiliki oleh lulusan Fakultas Hukum, baik secara tertulis maupun lisan. Karena itu, di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, mahasiswa sudah diberikan materi mengenai cara melakukan penelitian, menulis, dan melakukan presentasi sejak awal. Ketiga hal itu diberikan dalam mata kuliah Peningkatan Kemampuan Akademik yang diberikan pada semester pertama.
 
Setelah diberikan dasar-dasar penelitian, penulisan, dan presentasi, mahasiwa diberikan mata kuliah penalaran hukum atau . Selain itu, tentu saja, dalam setiap mata kuliah, mahasiswa diminta untuk melakukan penelitian, menulis essay/dan mempresentasikan hasil kerja mereka. Cara paling efektif untuk dapat menguasai berbagai keahlian tersebut adalah melatihnya terus-menerus. [Advertorial]


 


Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera

1. Sampaikan ide, bukan slide
slideslideslideSlide

2. Buatlah menjadi sederhana
audience slide audiencehand outaudience

3. Sampaikan dengan cara yang membuat ide itu melekat


4. The 10/20/30 rules of power point
venture capitalist

10 slide20 menitfont ukuran 30

slide

font slide audience

5. You are the show
slidesaudience audience .



6. Pancing rasa ingin tahu

powerfulaudienceaudience

7. Gunakan Cerita
audience. audience

8. Perhatikan audience
audienceaudienceslide audience

(basic skill)

legal reasoningpaper,

** Artikel ini merupakan hasil kerja sama antara Hukumonline dengan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua