Rabu, 01 June 2016

Keluar Penjara, Mantan Pengacara Ini Sempat Jadi Koki Profesional

Richard Creamer mendapat promosi menjadi kepala koki bagian pastry di sebuah restoran ternama di Philadelphia. Namun, saat ini ia ingin mencoba kembali menapaki karier sebagai pengacara.
RIA
Foto: www.philly.com
Bebas dari penjara, Richard Creamer, seorang mantan pengacara real estate dan entertainment asal Philadelphia, banting setir jadi koki. Bukan sembarang koki, bahkan Richard mendapatkan tawaran posisi sebagai kepala koki bagian pastry di sebuah restoran bernama Zahav Restaurant, di Philadelphia, Amerika Serikat.
 
Kisah ini berawal saat Creamer ditangkap karena operasi tanam ganja yang dimilikinya pada tahun 2010. Pengacara sukses yang memiliki banyak rumah dan mobil bagus ini harus harus kehilangan kekayaan dan izin beracaranya sebagai advokat saat ia dijatuhi pidana penjara selama lima tahun. Tak hanya itu, tunangan dan dua anaknya yang masih kecil-kecil pun meninggalkan Creamer.
 
“Dengan menjadi pengacara, saya bisa menghasilkan sekian banyak uang. Semua hal yang saya lakukan itu menjadi identitas saya, baik dalam keadaan susah maupun senang. Dan saya sadar, hal itu harus dilucuti dari saya ketika saya dijatuhi hukuman penjara atas apa yang saya perbuat,” kata Creamer seperti dilansir dari abajournal.com.
 
Kebingungan akan melanjutkan hidup seperti apa dan berbuat apa begitu keluar penjara sempat dirasakan oleh Creamer. Beruntung ada program pelatihan bagi narapidana di tempat ia ditahan yang diberikan secara cuma-cuma. Salah satunya adalah Philabundance Community Kitchen (PCK), dan Creamer mengikuti program yang ditawarkan PCK ini.
 
“Saya tidak pernah terpikir akan ke mana sebelumnya saat saya keluar nanti. Kemudian ada program ini, dan saya merasa cocok,” ungkap Creamer yang sadar bahwa ia sudah kehilangan segala yang dimilikinya saat ia masih menyandang profesi pengacaranya tersebut.
 
Program yang dijalani Creamer ini bukan program yang mudah. Creamer dan tahanan lain harus menyelesaikan program 14 minggu PCK. Para peserta program dijadwalkan mengikuti kelas selama 7 jam perhari selama lima hari dalam setiap minggunya. Tidak jarang Creamer harus membawa pulang tugas dan pekerjaan rumah.
 
Banyak hal yang dipelajarinya di sana. Para pelatih mengajari Creamer soal seni kuliner, kemampuan untuk kembali ke masyarakat dan mendapatkan pekerjaan kembali, serta pelajaran soal hidup. Di akhir program, sebuah ujian pun menanti.
 
Creamer dan peserta lain harus mengikuti ujian dengan membuat tiga resep makanan yang layak disajikan di restaurant mahal. Syukur lah ia berhasil melalui semua proses yang ditawarkan PCK di saat beberapa peserta lain ada yang tidak mampu bertahan atau dikeluarkan.
 
Dari situ tawaran menjadi seorang koki di sebuah restoran ternama di Philadelphia, Zahav Restaurant, datang kepada Creamer. Pada tahun 2015, begitu keluar dari penjara, Creamer pun bergabung menjadi salah satu koki di Zahav. Tanpa butuh waktu yang lama, ia pun mendapatkan promosi sebagai kepala koki bagian pastry di tempat tersebut.
 
“Industri restoran benar-benar industri yang sangat pemaaf, padahal saat itu saya keluar dengan cap penjahat melekat di diri saya,” curhat pria yang ditangkap saat usia 38 tahun itu.
 
Namun, profesi barunya ini memang tidak lama ia jalani. Bulan April 2015 Creamer masuk Zahav Restaurant, Juli 2015 ia diangkat menjadi kepala koki. Kemudian Desember 2015 Creamer mengundurkan diri. Creamer mencoba peruntungannya kembali di bidang real estate dengan menjadi konsultan.
 
Selain itu, Creamer juga mengatakan akan mengajukan aplikasi untuk mendapatkan izin beracara sebagai pengacara lagi. Bedanya, kali ini Creamer bukan ingin kembali menjadi pengacara real estate atau entertainment lawyer, tetapi ia berharap bisa menjadi pengacara litigasi.
 
“Lewat berbagai jalan hidup yang sudah saya lewati, bisa dibilang secara unik saya sudah memiliki kualifikasi di bidang itu,” tuturnya.
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua