Sabtu, 09 Juli 2016

Ketinggalan Pesawat, Advokat Ancam Gugat Maskapai

Karena membludaknya penumpang saat arus balik lebaran, diduga penerbangan Batik Air dipercepat tanpa mengkonfirmasi calon penumpang, sehingga banyak yang ketinggalan pesawat.
ANT
Maskapai Batik Air. Foto: youtube.com


 
Seorang perwakilan calon penumpang Taslim Suarman asal Makassar, Sulawesi Selatan tujuan Palu, Sulawesi Tengah akan melayangkan gugatan hukum terhadap maskapai penerbangan Lion Grup terkait pelayanan mengecewakan.



"Saya akan melakukan gugatan terhadap pelayanan yang sangat mengecewakan karena saya bersama keluarga ditinggalkan pesawat, padahal sudah cek in dan dapat nomor kursi menunggu di ruang tunggu," tegas Taslim di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sabtu (9/7).



Pria yang berprofesi sebagai advokat ini mengungkapkan dirinya bersama keluarga berangkat dari rumah sekira pukul 08.00 WITA dan tiba di bandara setempat pukul 08.15 WITA.



Sementara jadwal boarding pesawat Batik Air (Lion grup) yang akan ditumpanginya sekira pukul 09.50 WITA. Ada tentatif waktu hampir satu jam menunggu keberangkatan pesawat tersebut, sehingga dirinya memutuskan menunggu penerbangan.



Karena membludaknya penumpang saat arus balik lebaran diduga penerbangan Batik Air dipercepat pukul 09.46 WITA tanpa mengkonfirmasi calon penumpang, sehingga banyak penumpang ketinggalan pesawat.



"Bukan hanya saya tetapi ada puluhan orang juga mengalami nasib sama meski ada beberapa beda rute penerbangan. Barang-barang yang masuk bagasi pesawat saja yang berangkat, sedangkan kami tidak," bebernya.



Ironisnya, saat melapor di kantor Lion Grup, pegawai lepas tangan, bahkan dirinya diminta reservasi ulang dengan solusi membeli tiket seharga Rp1.600.000 per orang, padahal itu bukan kesalahannya.



"Saya ada empat orang, diminta beli ulang tiket seharga Rp1,6 juta, kemudian dipotong 10 persen. Hampir dua jam kami berdebat dengan mereka bersama penumpang lain yang keberatan. Hasilnya, tetap beli tiket tapi dipotong 50 persen, ini kan merugikan," katanya.



Taslim juga mempertanyakan mengapa pihak Lion Grup menawarkan opsi 90 persen sampai 50 persen membeli tiket, padahal bukan merupakan kesalahannya, sebab sudah mengikuti aturan penerbangan.



"Jelas-jelas maskapai Lion ini salah dan merugikan konsumen, malah berkelit calon penumpang yang terlambat padahal tidak ada penyampaian kepada penumpang kapal akan terbang," katanya.



Ia berharap ke depan hal seperti ini tidak terjadi lagi dan menimpa calon penumpang lainnya, mengingat seharusnya sebagai maskapai penerbangan pihak Lion Grup membantu kelancaran arus mudik dan balik lebaran.



"Pelayanan maskapai ini memang tidak pernah maksimal, seharusnya pemerintah mencabut izinnya karena terus-terus merugikan konsumen, mana pelayanannya sangat tidak bagus dan jelek. Ada modus mengambil keuntungan saat arus mudik dan balik tahun ini," ujarnya.



Taslim bersama keluarga dan beberapa orang lainnya yang kecewa akhirnya membatalkan penerbangan karena merasa tidak bersalah, dia menduga ingin dijadikan "sapi perah" saat momen arus balik lebaran.



Penumpang lainnya dari Makassar Tujuan Denpasar juga merasakan hal yang sama. Dirinya ditinggalkan pesawat, sementara barangnya ikut bersama pesawat. Saat dikonfirmasi General Manager Service Lion Air, Azhari, melalui telepon selularnya terkait masalah itu tidak merespon, begitupun saat diberikan pesan pendek tidak dibalas.

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua