Selasa, 11 April 2017

Pengacara Ahok Ikut Kecam Teror Terhadap Novel Baswedan

“Biadab itu,” kata I Wayan Sudirta.
HAG
Tiga penyidik KPK Novel Baswedan, Ambarita Damanik dan M Irwan Santoso saat akan menjadi saksi kasus tindak pidana korupsi pengadaan pekerjaan KTP elektronik (E-KTP) dengan terdakwa Sugiharto dan Irman di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (27/3).
Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, terus mendapat reaksi. Banyak pihak mengecam pelaku yang telah melakukan kekerasan terhadap aparat penegak hukum, khususnya penyidik KPK seperti Novel, yang sedang melakukan penyidikan kasus besar.
 
Dua pengacara Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, I Wayan Sudirta dan Rian Ernest, juga ikut bersuara keras mengecam tindakan tak bertanggung jawab itu. “Biadab itu. Polisi harus menemukan siapa pelakunya,” kata Sudirta kepada Hukumonline, usai sidang perkara Ahok di auditorium Kementerian Pertanian, Selasa (11/4).
 
Pengacara yang juga aktivis antikorupsi ini menegaskan orang seperti Novel Baswedan adalah aset bangsa yang harus dijaga. Teror yang dialami Novel Baswedan tak boleh terulang lagi kepada penyidik-penyidik yang mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk memberantas korupsi di negara ini. “Apakah kita mau kehilangan orang seperti itu? Kalau sampai Novel menjadi korban akan sulit membayangkan muncul Novel-Novel yang lain. Orang akan trauma,” ujarnya.
 
Rian Ernest juga mengatakan pelaku yang menyiramkan air keras ke tubuh Novel Baswedan layak dikecam. “Kita semua apapun profesi kita mengutuk kekerasan terhadap teman-teman di penyidik KPK,” tegasnya.
 
Sudirta, pengacara yang menolak menangani perkara korupsi, berharap polisi segera mengungkap siapa pelaku kejahatan itu. Para penyidik KPK harus dijaga karena sudah terbukti mereka sering dikriminalkan dan diincar orang-orang yang diduga tak suka langkah KPK mengungkap kasus korupsi. Novel, misalnya, sudah pernah dikriminalkan dan disudutkan dengan berbagai cara. “Kita sudah tahu Novel sering dikriminalkan dan disudutkan,” tuturnya.
 
Menjadi orang seperti Novel yang memegang teguh pendirian dan sikap antikorupsi adalah suatu kebanggaan. Karena itu, negara seharusnya menjaga melalui aparat kepolisian para penegak hukum yang tugasnya sangat rawan. “Mari kita jaga mereka,” sambungnya.
 
Ernest, Sudirta, dan sejumlah tokoh dan lembaga lain meminta kepolisian segera menemukan pelaku penyiraman. “Harus ditemukan pelakunya dan dihukum berat karena menciderai penegakan hukum,” kata Sudirta. “Bahkan perlu dikejar siapa aktor intelektualnya, sambung Rian Ernest.

Kedua pengacara Ahok mengusulkan agar KPK memperketat pengamanan bagi para penyidiknya, terutama yang sedang menangani kasus-kasus besar. Tinggal membuktikan apakah ada hubungan penyiraman air keras ini dengan kasus penyidikan dugaan korupsi proyek e-KTP. Dan kunci membongkar kasus ini ada di tangan polisi.
 
“Tindakan seperti itu (penyiraman air keras) harus membuat kita semakin berani,” pesan Rian Ernest.
 
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua