Selasa, 29 Agustus 2017
Orasi Ilmiah:
Pembaru Hukum Harus Berani Ambil Keputusan Cermat Bagi Kemajuan Bangsa
Pengambilan keputusan tidak dapat dihindari, namun harus dengan perhitungan.
Norman Edwin Elnizar
Pembaru Hukum Harus Berani Ambil Keputusan Cermat Bagi Kemajuan Bangsa
Kuntoro Mangkusubroto (kiri) sedang menyampaikan orasi ilmiah di kampus STHI Jentera Jakarta. Foto: EDWIN
Untuk membangun Indonesia yang lebih maju membutuhkan pemimpin yang mampu mengambil keputusan dengan tepat dalam berbagai kebijakan publik yang dibuat. Kepemimpinan semacam ini diharapkan mendorong perubahan Indonesia selalu bergerak ke arah cita-cita nasional yang telah dirumuskan sejak Republik Indonesia didirikan.
 
Perguruan tinggi sebagai salah satu tempat menempa sosok-sosok calon pemimpin harus memberikan pemahaman yang benar mengenai pengambilan keputusan kepada para mahasiswanya. Sebab, kelak merekalah yang akan menjadi penggerak perubahan bagi kemajuan bangsa. Jika pemimpin tak berani mengambil keputusan, gerak maju bangsa menuju arah yang baik akan lambat atau tertahan.
 
Demikian antara lain poin penting yang disampaikan mantan Ketua Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto dalam orasi ilmiah penyambutan mahasiswa baru Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera, Jakarta, Senin (28/8) kemarin.
 
Guru Besar dalam bidang Ilmu Pengambilan Keputusan sekaligus Direktur Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) di Institut Teknologi Bandung ini membagikan pemahamannya tentang ilmu pengambilan keputusan sebagai cara membuat pilihan terbaik. Sesuatu yang secara prinsip berlaku pula dalam pembuatan, penerapan, hingga penegakan hukum.
 
(Baca juga: Orasi Ilmiah: Kampus Perubahan Butuh Orang-Orang Abnormal).
 
“What is ‘terbaik’? Apakah yang terbaik itu?,” tantangnya kepada para mahasiswa baru yang menyimak. Kuntoro mengingatkan mengambil keputusan pada dasarnya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang selalu berlangsung setiap saat. Namun, pengambilan keputusan akan menjadi berbeda jika dihadapkan pada situasi penuh risiko serta kompleksitas masalah sosial.
 
Dalam orasinya, Kuntoro menegaskan keputusan harus selalu dibuat dengan keadaan bagaimanapun juga. Apalagi dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa yang harus diselesaikan. “Kita musti memilih. Yang tidak boleh dalam hidup ini adalah menunda, karena menunda tidak pernah memecahkan persoalan,” katanya.
 
Memilih dalam suasana ketidakpastian atas alternatif pilihan yang ada adalah keharusan, karena menurut Kuntoro satu-satunya kepastian adalah apa yang sudah terjadi. “Celakanya yang namanya kepastian adalah kemarin,” lanjutnya. Mulai dari urusan pribadi ketidakpastian ditinggalkan pacar hingga urusan peluang untung dari harga minyak dunia keesokan hari adalah ketidakpastian yang akan dihadapi. “It’s our daily life,” ujarnya.
 
(Baca juga: STHI Jentera Tandatangani Kesepakatan Program Magang dengan 12 Lembaga).
 
Jika dikaitkan dengan pengambilan keputusan di bidang hukum, Kuntoro mencontohkan betapa kompleksnya tantangan pengambilan keputusan dalam legislasi. Memutuskan nilai-nilai dan norma sosial mana yang akan diakomodasi dalam peraturan perundang-undangan bukanlah hal yang mudah. “Ketidakpastian, kemungkinan, setiap kali informasi bertambah kita berubah. Tidak ada informasi yang lengkap, tetapi Anda harus memutuskan, hari ini, ini yang pokok,” kata Kuntoro.
 
Dalam salah satu pengalamannya saat menjalankan tugas berat sebagai Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias di tahun 2005, Kuntoro memberikan ilustrasi saat dirinya harus mengambil keputusan besar atas berbagai strategi dan pertimbangan agar pemulihan pasca tsunami berjalan lancar. Namun yang dihadapinya adalah tantangan kerusakan berat akibat tsunami sekaligus konflik antara gerakan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang masih mengancam. Pada akhirnya keputusan tetap harus dibuat dengan mendamaikan terlebih dahulu konflik GAM-TNI agar pemulihan Aceh berjalan sesuai rencana. Jika perdamaian ini gagal, misinya akan terhambat bahkan gagal total. “Tapi harus diputuskan,” imbuhnya.

Kuntoro berpesan pada mahasiswa baru STHI Jentera agar berani mengambil keputusan dalam berbagai situasi pengambilan keputusan yang tidak bisa dihindari. Tokoh-tokoh pembaruan hukum mustahil akan lahir jika tidak berani mengambil keputusan, namun juga tidak boleh ceroboh dalam memutuskan. Apalagi situasi yang dihadapi dalam wilayah sosial dimana hukum bekerja akan lebih kompleks karena tidak selalu bisa dihitung dengan angka dan persentase. “Ujungnya di mana? Setelah engkau mati,” tegasnya.
 
Yang paling pokok menurut Kuntoro adalah pengambilan keputusan dilakukan dengan perhitungan yang cermat, lantas kemudian berani dijalankan dan dipertahankan. “Menghadapi ketidakpastian, maka Anda musti memetakan dulu persoalannya dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Dua pesan penting dari Kuntoro adalah seorang pemimpin tidak boleh menunda keputusan jika ingin berhasil, dan bahwa pada dasarnya tidak pernah ada  informasi yang lengkap untuk membuat keputusan.
 
(Baca juga: 6 Tips Kuliah yang Asyik).

Turut hadir di acara penyambutan angkatan ketiga STHI Jentera ini  Direktur STHI Jentera, Yunus Husein; Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia Erman Rajagukguk dan Mardjono Reksodiputro, serta para undangan dari kalangan advokat dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. STHI Jentera secara konsisten merekrut mahasiswa dengan visi pembaruan hukum dari kalangan aktivis sosial hingga lulusan sekolah yang siap bergabung menjadi penggerak perubahan.
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.