Jumat, 10 November 2017

Kiprah SSEK dan ‘Warisan’ Advokat Asing

Tiga modal sukses SSEK yakni, delivery ontime (pekerjaan tepat waktu), teliti, reliable (bisa dipercaya).
Agus Sahbani
Empat Pendiri SSEK. (Edit HGW).

Memasuki usia seperempat abad, Kantor Hukum Soewito Suhardiman Eddymurthy Kardono (SSEK) hingga kini masih tetap eksis melayani jasa konsultan hukum di bidang hukum korporasi (corporate law firm). Eksistensi Kantor Hukum SSEK  yang berdiri pada 1992 ini, tentu tidak bisa lepas dari sejarah Kantor Advokat Mochtar, Karuwin, Komar (MKK) yang berdiri sejak 1971.

 

Sebab, para pendiri firma hukum SSEK yakni Dyah Soewito, Retty Anwar Suhardiman, Ira Andamara Eddymurthy, Agustina Supriyani Kardono, pernah beberapa tahun menjadi lawyers di MKK hingga akhirnya mereka “berpisah” pada 1992. Saat itu, terutama Dyah masih berusia 38 tahun, sementara Ira masih berusia 32 tahun.  

 

Alasan mereka mundur dari MKK lebih disebabkan ingin mengembangkan diri karena usia mereka masih muda-muda. Kala itu, kebetulan Kantor Hukum MKK menerapkan sistem close partnership, sehingga mereka tidak punya harapan untuk menjadi partner di MKK. Baca Juga: Menelusuri Jejak Kantor Advokat Modern Generasi Pertama

 

“Mundurnya kita bukan ada selisih paham atau pecah kongsi, semata ingin berkembang karena usia masih muda-muda, cita-cita menggebu-gebu, tentu kita berpikir, seolah-olah kita masih karyawan terus. Padahal kita punya kemampuan dan jalan, kenapa kita nggak bikin kantor sendiri?” ujar salah satu partner pendiri SSEK, Dyah Soewito saat berbincang dengan Hukumonline di kantornya, Mayapada Tower Lantai 14, Jalan Jenderal Soedirman Jakarta, akhir Oktober lalu.

 

Dyah mengaku bergabung dengan MKK sekitar tahun 1977. Sedangkan Ira bergabung di MKK pada 1984. “Saya 14 tahun bergabung di MKK, paling lama (senior) daripada tiga rekan lain, tidak ada regenerasi untuk menjadi partner baru. Kita mengundurkan diri dengan baik-baik yang sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya. Saat itu, Pak Komar (pendiri MKK) sempat agak ‘menahan’ dengan menyarankan agar kita membuat semacam kantor cabang MKK,” ujar Dyah menirukan ucapan Komar saat itu.

 

“Yang pasti, Pak Mochtar, Pak Komar, selalu menjadi panutan bagi kami. Sampai saat ini kita masih menjaga hubungan baik dengan MKK, salah satunya dengan advokat senior MKK Ariani Nugraha,” kenang alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1977) kelahiran Yogyakarta 14 September 1953 ini.              

 

Lalu, atas inisiatif Dyah, keempat nama tersebut sepakat mendirikan sebuah law firm bernama SSEK (Soewito, Suhardiman, Eddymurthy, Kardono). Tepatnya, pada 19 Agustus 1992 resmi SSEK berdiri dalam bentuk persekutuan (firma) yang dituangkan dalam akta notaris. “Dari awal pendirian SSEK menerapkan open partner. Kita belajar pengalaman sebelumnya, tapi saat kita sudah mundur, MKK kemudian menerapkan open partner,” kata dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua