Sabtu, 03 Pebruari 2018
Kolom Hukum J. Satrio
Hubungan antara Titel dan Penyerahan
Makalan ini merupakan lanjutan dari  artikel yang membahas mengenai “Cara Untuk Memperoleh Hak Milik” melalui suatu penyerahan.
RED
Hubungan antara Titel dan Penyerahan
J. Satrio

Teori Kausal dan Teori Abstrak

Sehubungan dengan syarat disebutkan dalam Pasal 584 BW, yaitu: ada peristiwa perdata untuk memindahkan hak milik; dan penyerahan dilakukan oleh orang yang berhak untuk berbuat bebas dengan benda itu, maka menjadi pertanyaan, lalu bagaimana hubungan antara syarat yang pertama (adanya rechtstitel) dengan yang kedua (penyerahan oleh orang yang mempunyai kewenangan tindakan pemilikan)?

 

Pertanyaan tersebut menimbulkan pendapat-pendapat, yang pada pokoknya bisa kita kelompokkan menjadi 2 teori, yaitu:

Teori Kausal; dan

Teori Abstrak

 

Teori Kausal

Teori Kausal melihat ada hubungan “sebab akibat” antara peristiwa perdata yang menjadi dasar penyerahan dan tindakan penyerahannya. 

 

Konsekuensinya:

Kalau syarat yang pertama -peristiwa perdata yang menjadi dasar penyerahan- tidak sah dan dibatalkan, maka penyerahan yang didasarkan atasnya, tidak berhasil menjadikan pihak yang menerima penyerahan sebagai pemilik benda yang diserahkan. 

 

Kalau peristiwa perdatanya adalah suatu perjanjian jual-beli, dan setelah perjanjian itu ditutup, uang pembelian telah dibayar dan obyek perjanjian telah diserahkan, kemudian perjanjian itu, atas dasar adanya cacat dalam kehendak, dibatalkan. Maka akibatnya, penyerahan yang telah terjadi, ternyata -menurut Teori Kausal- tidak berhasil menjadikan pembeli menjadi pemilik dari obyek jual beli. Bukankah menurut Teori Kausal kalau sebabnya tidak sah maka penyerahannya juga tidak sah?

 

Nampaknya memang sangat logis, namun kalau kita konsekuen dengan teori itu bisa menimbulkan ketidakpatutan.

 

Kalau penyerahan yang pertama batal, padahal sementara itu obyek jual beli oleh pembeli telah dijual lagi dan telah diserahkan kepada pihak ketiga (pembeli) dan selanjutnya pihak ketiga (pembeli) telah menjual lagi dan menyerahkan kepada pembelinya. Maka menurut Teori Kausal -atas tuntutan dari pemilik-asal- semua jual beli dan penyerahan itu adalah batal.

 

Karena penyerahannya batal, maka konsekuensinya:

Hak milik atas benda yang terlanjur diserahkan, ternyata masih ada pada penjual yang pertama, yang telah menuntut pembatalan.

 

Karena -dalam peristiwa di atas- penyerahan itu tidak berhasil menjadikan orang-orang yang menerima penyerahan menjadi pemilik dari benda yang diserahkan, maka hak milik masih ada pada penjual yang pertama.

 

Karena hak milik masih ada pada penjual yang pertama, maka ia berhak untuk me-revindikasi (mendapatkan/revindicatoir) benda itu dari tangan siapapun ia temukan bendanya, termasuk -dalam peristiwa di atas- dari tangan pembeli terakhir.

 

Bukankah hak milik merupakan hak kebendaan (Pasal 574 BW)?  Dan hak kebendaan mempunyai ciri antara lain droit de suite.

 

Apakah itu adil bagi para pembeli yang belakangan? Apakah dengan demikian setiap orang yang mau membeli suatu benda tidak terdaftar harus menyelidiki lebih dahulu, apakah hak penjualnya aman?

 

Teori Abstrak

Teori Abstrak mengabstrahir (melepaskan) syarat yang yang kedua (penyerahan) dari yang pertama (titel), sehingga menjadikannya penyerahan sebagai syarat yang berdiri sendiri di samping syarat yang pertama.[1]

 

Hal itu membawa konsekuensi, penyerahan bisa tetap sah, sekalipun peristiwa perdata yang menjadi dasar penyerahan adalah mengandung cacat.

 

Bagi penganut Teori Abstrak, peristiwa perdata hanya diperlukan untuk menetapkan adanya kehendak untuk menyerahkan. Dan menurut teori absrak, di dalam tindakan menyerahkan sudah tersimpul adanya kehendak untuk menyerahkan. Bahkan ada pengikut teori itu yang berpendapat, bahwa adanya titel yang putatif saja (yang dikira ada) sudah cukup. Kalau kita konsekuen dengan pendapat itu, maka penyerahan itu bisa sah tanpa ada titel. Namun demikian penganut teori abstrak tidak bisa konsekwen sampai sejauh itu, karena bukankah undang-undang sendiri (dalam Pasal 584 BW) mensyaratkan adanya titel?

 

Teori Abstrak menafsirkan syarat titel sebagai adanya kehendak untuk menyerahkan.

 

Jadi, atas tindakan menyerahkan selalu harus ada maksud atau kehendak untuk menyerahkan, dan itu sudah cukup untuk, melalui tindakan penyerahan -yang dilakukan oleh orang yang mempunyai kewenangan tindakan pemilikan- menjadikan orang yang menerima penyerahan sebagai pemilik benda yang diserahkan.

 

Kalau kita terapkan dalam contoh peristiwa di atas, maka pembeli dan semua yang mengoper dari pembeli pertama dan selanjutnya, tetap menjadi pemilik dari obyek jual beli yang diserahkan kepadanya, sekalipun jual beli yang pertama dibatalkan. Karena perjanjian jual belinya dibatalkan, maka ternyata tidak ada terhutang uang pembayaran pada pembeli maupun kewajiban penyerahan pada pihak penjual, sehingga di sana -kalau sudah terlanjur ada penyerahan- ada pembayaran yang tidak terhutang.

 

Penjual berhak untuk menuntut kembali penyerahan obyek jual beli itu dari pembeli atas dasar pembayaran yang tidak terhutang, tetapi karena obyek jual beli sudah tidak ada pada pembeli pertama (sudah diserahkan kepada pembeli selanjutnya), maka penjual harus mau menerima penggantian sebesar harga obyek jual beli. Penjual tidak bisa menuntut dari pihak ketiga, karena hak tuntutnya didasarkan atas ketentuan dalam Buku III BW (Pasal 1359 BW), padahal:

 

Semua hak yang timbul dari ketentuan buku III BW bersifat relatif, dalam arti hanya bisa ditujukan kepada lawan janjinya (Pasal 1340 BW).

 

Lalu, teori mana yang paling patut untuk diterapkan?

Kedua teori itu patut, semua bergantung dari peristiwanya. Kalau transaksi itu baru antara penjual dan pembeli saja, maka kiranya adalah patut diterapkan Teori Kausal. Kalau transaksinya batal, maka mestinya tindakan yang didasarkan atas perbuatan hukum yang batal, tidak menghasilkan akibat sebagai yang dituju (dikehendaki) oleh melakukan tindakan hukum itu.

 

Sebaliknya, kalau transaksi dan penyerahan itu telah dilakukan berulang kali, maka kiranya lebih patut diterapkan Teori Abstrak. Bukankah pembeli berikutnya dan penerima penyerahan selanjutnya sampai yang terakhir tidak tahu dan tidak bisa tahu, bahwa transaksi-transaksi sebelumnya ada mengandung cacat?

 

Bukankah orang yang iktikadnya baik patut untuk diberikan perlindungan?

 

J. Satrio

 

[1] A. Pitlo, Zakenrecht, hlm. 210.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.