Selasa, 20 February 2018

Histori Kehormatan Profesi Advokat yang Mulai Padam

Jangan seorang advokat menjadikan kekayaan sebagai tujuan. Kisah ini kembali mengulik perjalanan advokat sebagai sebuah profesi terhormat dan membanggakan.
Novrieza Rahmi
Ilustrasi: HGW

"The medical and the legal professions are proud profession. There is art and there is science in each". Demikian tulisan William J Curran, seorang Profesor hukum Harvad School of Medicine and Public Health pelopor pengembangan ilmu "hukum dan kesehatan" sebagai spesialisasi hukum, dalam bukunya Law and Medicine (1960).

 

Tulisan ini dikutip kembali oleh Ketua PERADIN-PERADIN (Persatuan Advokat Indonesia) se-Jawa Tengah, Mr Soemarno P Wirjanto dalam bukunya, Profesi Advokat (Alumni: 1979). Secara histori, profesi hukum dan kesehatan memang merupakan profesi terhormat dan membanggakan. Ada cita rasa seni dan keilmuan di dalamnya. 

 

Saking terhormatnya, kedua profesi itu juga memiliki kode etik yang tinggi. Namun, bagaimana jika kehormatan profesi tersebut semakin memudar akibat tingkah laku mereka sendiri? Cukup banyak kasus yang menjerat profesi hukum, salah satunya advokat. Di Indonesia, sudah ada sederet advokat yang terjerat kasus hukum, termasuk korupsi.

 

Mungkin kasus yang sedang terjadi sekarang juga dapat menjadi salah satu contoh yang relevan. Profesi advokat dan dokter tengah mendapat sorotan pasca penetapan mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi dan dokter Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau dr Bimanesh Sutarjo sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

 

Fredrich bersama-sama dr Bimanesh diduga "berkomplot" merintangi penyidikan yang dilakukan KPK terhadap Novanto dalam kasus korupsi e-KTP. Memang, status perkara Fredrich dan dr Bimanesh belum berkekuatan hukum tetap (inkracht). Perkara Fredrich sedang berproses di Pengadilan Tipikor Jakarta dan Kamis lalu (15/8) tengah mamasuki pembacaan nota keberatan (eksepsi), sedangkan perkara dr Bimanesh masih di tahap penyidikan.

 

Walau begitu, bila mengacu surat dakwaan Fredrich yang dibacakan penuntut umum KPK, terlihat adanya persekongkolan antara Fredrich dan dr Bimanesh untuk menghindarkan Novanto dari pemeriksaan di KPK. Fredrich disebut menghubungi dr Bimanesh sebelum insiden kecelakaan mobil yang ditumpangi Novanto.

 

Fredrich meminta bantuan dr Bimanesh agar Novanto bisa dirawat inap di RS Medika Permata Hijau dengan diagnosa menderita berbagai macam penyakit, salah satunya hipertensi berat. dr Bimanesh yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam, konsultan ginjal, dan hipertensi di RS itu pun menyanggupi permintaan Fredrich.

Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua