Senin, 12 Maret 2018

Wasiat Ayah yang Dibatalkan Hakim

Wasiat kepada ahli waris diperbolehkan dengan syarat mendapat persetujuan dari para ahli waris.
M Dani Pratama Huzaini
Ilustrasi: HGW

Kaidah agama dan kaidah hukum telah mengatur bagaimana hubungan orang tua dengan anak-anaknya. Orang tua punya kewajiban menjaga anak-anaknya hingga mereka berkeluarga. Sebaliknya, anak berkewajiban menjaga orang tuanya yang sudah sepuh dengan penuh kasih sayang sesuai kemampuannya. Sesama anggota keluarga perlu menjaga keguyuban dan persaudaraan.

 

Sayangnya, kaidah hukum dan kaidah agama itu tak selalu sama dengan yang terjadi di lapangan. Ada banyak contoh anak-anak saling berselisih memperebutkan harta, suami dan isteri memperebutkan hak asuh anak, bahkan anak-anak berselisih dengan orang tua mereka karena beragam alasan. Perselisihan semacam itu acapkali berujung ke pengadilan, dan putusannya menjadi yurisprudensi.

 

Mahkamah Agung telah memasukkan putusan mengenai pembatalan wasiat sebagai salah satu dari belasan putusan terpilih atau landmark decisions dalam Laporan Tahunan Mahkamah Agung 2017. Putusan ini masuk dalam kategori waris Islam. Seseorang yang punya hak atas harta benda memang dapat mewasiatkan sebagian harta itu kepada orang lain atau lembaga. Aturan wasiat itu di Indonesia antara lain diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI).

 

Lewat putusan No. 558 K/Ag/2017, Mahkamah Agung mengangkat suatu kaidah hukum penting mengenai keadilan dalam perwasiatan. Ayah yang ingin mewasiatkan pengelolaan harta kepada anak-anaknya, maka ia perlu mempertimbangkan keadilan. Jika wasiat itu hanya diberikan kepada satu orang anak, dan anak yang lain tidak disinggung, bisa jadi anak yang disebut terakhir tidak terima. Mahkamah Agung menegaskan wasiat terhadap sebagian ahli waris tanpa ada persetujuan ahli waris lainnya dapat dimohonkan pembatalan oleh ahli waris yang tak dimintai persetujuan tadi.

 

Putusan Mahkamah Agung itu berangkat dari sebuah kisah nyata. Pada 8 Januari 2009, seorang ayah (TR) menerbitkan surat wasiat yang intinya mengamanahkan pengelolaan Yayasan dan menghibahkan sebagian hartanya kepada SAT, salah seorang anaknya. Rupanya, anak yang lain (DT dan IT) tak terima. Mereka mempersoalkan wasiat ayahnya yang dilakukan di bawah tangan, tanpa saksi, dan tanpa persetujuan ahli waris lain.

 








Baca:




 

Upaya penyelesaian melalui musyawarah keluarga tidak membuahkan kesepakatan. Walhasil, anak-anak yang tak diminta persetujuan mengajukan upaya hukum ke pengadilan. Pengadilan Agama Pekanbaru memutuskan ‘menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima’. Amar putusan ini kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Agama Pekanbaru. Dua anak pewasiat akhirnya melanjutkan proses hukum ke Mahkamah Agung.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua