Senin, 23 April 2018
Srikandi Hukum 2018
Yualita Widyadhari: Direktris yang Sukses Jadi Notaris
Teguh dalam komitmen. Sosok organisatoris yang tak lelah belajar dan berkarya.
Norman Edwin Elnizar
Yualita Widyadhari: Direktris yang Sukses Jadi Notaris
Yualita Widyadhari. Foto: RES

Yualita Widyadhari, sosok Ketua Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia (PP INI) ternyata menyimpan segudang cerita wanita karier bertangan dingin. Notaris adalah profesi kedua Lita, sapaan akrabnya, setelah sebelumnya berkecimpung di dunia bisnis hingga puncak karier sebagai Direktris.

 

Beralih menjadi notaris sekaligus PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah), ia aktif berorganisasi mulai dari Pengurus Daerah (Pengda) sampai dengan PP INI. Tahun 2016, Lita kembali mencapai puncak dengan menjadi wanita kedua dalam sejarah yang menjabat Ketua Umum PP INI.

 

Dilahirkan dari ayah seorang polisi dan ibu seorang guru, Lita masuk kuliah hukum sebagai bakti pada orangtuanya. “Sebetulnya dulu mau masuk Psikologi UI, itu idaman saya. Bapak saya tidak menyetujui. Saya sudah pilih UI, tapi Bapak bilang ‘nggak, nomor 1 Hukum UGM’. Dulu kita mana berani dengan orangtua,” tutur Lita kepada hukumonline dalam wawancara di kantor notarisnya, Gedung TCC Batavia lantai 9, Jakarta Pusat.

 

Tak ada pilihan lain baginya yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi selain mengikuti perintah ayahnya. Menurut Lita, ia pernah bertanya mengapa ayahnya meminta dirinya masuk kuliah hukum di Universitas Gadjah Mada.

 

“Ayah saya bilang saya punya kemampuan lebih, dia bilang di psikologi akan terbatas, di hukum bisa jadi apa saja. Saya bismillah jalan,” lanjutnya.

 

Dengan keyakinan akan ada kebaikan di balik pilihan orangtua, Lita memulai kehidupan mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM). “Ternyata begitu masuk, menarik juga. Malah anak saya yang kedua ambil Hukum juga di UGM,” tambahnya sembari tertawa.

 

Lulus kuliah ia merantau ke Jakarta untuk berkarier. Pekerjaan pertama Lita dapatkan di PT. Bimantara Citra. “Sejak 1984 saya sudah bekerja di perusahaan mulai dari pekerjaan clerical. Hanya stempel-stempel, catat faksimili, telefaks, saya sudah ada di situ,” ceritanya.

 

Bukan sebentar, ia merintis karier dari bawah hingga masuk ke jajaran direksi bahkan juga sebagai komisaris di berbagai anak perusahaan ini. Saat itu Lita sempat merangkap komisaris di empat perusahaan sambil mulai merintis kariernya sebagai notaris. Ketika akan mundur total dari dunia bisnis pun, ia masih menerima tawaran menggiurkan di perusahaan.

 

“Pemegang saham bilang ke saya, pegang direktur utama di perusahaan asuransi tapi lepas notarisnya. Saya tertantang ingin tunjukkan saya bisa jadi notaris. Kalau sudah memutuskan sesuatu saya harus komitmen,” akunya.

 

Dalam biodatanya, Lita tak hanya sekadar sibuk berkarier, tercatat ia rajin menempuh pendidikan formal dan non-formal sambil bekerja di perusahaan. Bahkan pendidikan notariat Lita tempuh dua kali. Pertama, saat masih menjabat di perusahaan. “Tahun 1993-1997 saya ambil kuliah notariat di UI,” jelas Lita yang kembali kuliah notariat hingga mendapat gelar Magister Kenotariatan (M.Kn.) dari Universitas Indonesia pada tahun 2012.

 

Setelah diangkat notaris, Lita ditempatkan di Bantul, Yogyakarta. Lita masih merangkap sebagai komisaris perusahaan kala itu. “Ada 4 tahunan kemudian pindah ke Jakarta. Saat pindah saya memilih di Jakarta, dulu belum ada pembagian wilayah notaris, karena kantor saya sebagai komisaris juga di Jakarta Pusat,” ceritanya.

 

Ia menjadi notaris di Jakarta mulai tahun 2002 dan baru sepenuhnya hanya bekerja sebagai notaris di tahun 2005. Jabatan terakhirnya di perusahaan sebagai komisaris PT. Aigra Insurance Brokers. Jenjang karier selama 20 tahun di dunia bisnis akhirnya dilepas oleh wanita kelahiran Banjarmasin tahun 1960 ini untuk beralih total menjadi notaris.

 

Lebih Dekat dengan Anak

Ketika ditanya apa alasannya melepaskan karier cemerlang yang telah dirintis 20 tahun lamanya, Lita menjawab alasannya karena anak. “Saya melihat perlunya sebagai wanita berpikir juga membagi waktu untuk anak-anak. Dulu saya berpikir notaris bisa mengatur waktu lebih banyak untuk anak-anak,” terangnya.

 

Menurut Lita, hanya itu alasan kuatnya dulu beralih karier. Di samping juga setelah mulai membuka kantor notaris, Lita enggan jika harus menutupnya dengan memecat dua pegawai yang sudah dipekerjakannya.

 

Walaupun Lita akhirnya memang bisa mengurangi kepadatan jadwalnya, menurut Lita, ternyata jiwanya yang workaholic membuatnya tetap aktif. Penghadap yang meminta bantuan jasanya pun ternyata banyak dan Lita sempat kewalahan. “Itu ternyata teori. Saya ada dilema begitu saya jadi notaris, ternyata notaris tergantung klien. Nggak bisa atur sendiri,” katanya diiringi tawa.

 

Namun ia telah memiliki pola pembagian waktu untuk kedua putranya sejak masih menjabat di perusahaan. Setidaknya pagi hari sebelum berkegiatan, ia akan menemani anak-anaknya belajar.

 

“Waktu anak saya masih SD dan SMP, saya membiasakan setiap pagi habis shalat subuh kita belajar.  Karena waktu di perusahaan saya berangkat pukul 6.30 pagi, pulang pukul 12 malam. Begitu di notaris memang lebih fleksibel,” kata Lita.

 

Baca:

 

Aktivis Organisasi yang Gemar Belajar

Sebelum menjadi notaris Lita pernah aktif dalam Asosiasi Broker Asuransi Indonesia. Dan saat bertugas notaris di Jakarta, Lita mulai terlibat aktif di organisasi notaris. Tercatat pada tahun 2006-2009, Lita menjabat Bendahara Pengda INI Jakarta Pusat merangkap Bendahara Pengwil INI DKI Jakarta sekaligus membantu Bidang Hubungan Antar Lembaga PP INI.

 

Tahun 2009-2013 dan 2013-2016, selama dua periode kepengurusan ia dipercaya menjabat Sekretaris Umum PP INI. Hingga kemudian terpilih sebagai Ketua Umum PP INI periode 2016-2019.

 

Sedangkan di kedua almamaternya, UGM dan UI, ia aktif menjabat di organisasi alumni antara lain Sekretaris Umum Ikatan Alumni Notariat UI dan Bendahara Umum Keluarga Alumni UGM.

 

Meskipun tak lagi berkarier di perusahaan asuransi, Lita pun masih rutin mengikuti pelatihan dan seminar bertema asuransi. Belasan seminar dan pelatihan hingga pendidikan ahli broker asuransi Certified Indonesian Insurance Broker (CIIB) masih diikutinya. Bulan Maret lalu, ia juga baru saja menyabet lisensi The Australian and New Zealand Institute of Insurance and Finance (ANZIIF).

 

 

Wanita Berkarya Memberi Manfaat

Karakter Lita yang ingin berkarya dan memberi manfaat terungkap saat ia menceritakan awal dari perjalanan kariernya selepas kuliah hingga menjadi seperti sekarang. “Waktu itu saya dari daerah, sebagai wanita saya ingin meskipun punya peran kecil tapi berarti bagi lingkungan,” kata Lita.

 

Barangkali ini semangat yang menjadikan Lita bertangan dingin dalam kedua karier yang pernah dan masih dijalaninya. Menjadi notaris tetap membuat Lita ingin terlibat aktif berkontribusi memajukan wadah di mana ia berada. Maka sebagai notaris, INI menjadi sasaran Lita untuk berkarya.

 

“Saya ingin memajukan INI dengan jaringan saya yang sudah bagus. Apalagi sudah banyak wanita notaris luar biasa di tim saya. Wanita lebih telaten, komitmen, laki-laki sering susah atur waktu,” ujarnya agak berseloroh soal laki-laki.

 

Menurutnya, di era emansipasi di mana Kartini sebagai simbol wanita pembawa kemajuan, wanita harus yakin bisa berkemampuan sama dengan laki-laki ketika diberikan kesempatan. Satu kata tentang wanita menurut Lita adalah bijaksana.

 

“Karena mempunyai keahlian bisa mengatur, memikirkan berbagai hal dalam waktu yang sama. Sehingga karena terlatih, ujung-ujungnya lebih bijaksana dalam membuat keputusan dan menghadapi segala sesuatu yang sulit,” ungkapnya.

 

Kepada semua wanita yang ingin berprofesi di dunia hukum, ia mewanti-wanti untuk menjaga integritas. “Itu modal besar untuk bisa maju. Tanpa integritas tidak ada kepercayaan dari orang lain kepada kita. Apalagi notaris, harus jaga integritas agar terus bermartabat,” pesannya.

 

Persoalan integritas ini pula menurut Lita yang menjadi masalah besar dunia hukum Indonesia. “Soal hukum di Indonesia yang tidak pasti, kita berharap agar penegak hukum terus tingkatkan integritas untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat,” pungkasnya.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.