Jumat, 29 Juni 2018

Halal Bihalal

Antrian panjang ke rumah pejabat tinggi negara atau swasta mungkin suatu fenomena yang belum cukup lama dilakukan. Ini mungkin saja ada nilai positifnya, tetapi jangan-jangan ada juga unsur kurang baiknya.
RED
Ilustrasi: BAS

Seingat saya, perayaan Idul Fitri setiap akhir bulan suci Ramadhan tahun 60'an, adalah perayaan masyarakat Islam Indonesia dengan acara kumpul-kumpul, makan-makan, mercon dan meriam sundut. Ini adalah acara pesta istimewa bersama keluarga. Kekerabatan yang erat dengan lingkungan sosial terdekat masa itu juga menjadikannya sebagai ajang berbagi dengan tetangga terdekat, sesama Muslim atau bukan. Tetangga non-Muslim juga ikut berkeliling kampung memberi selamat.

 

Saya tidak ingat apakah waktu itu sudah ada kebiasaan berlebaran (halal bihalal) dengan pejabat tinggi negara maupun swasta di rumah dinas atau pribadi mereka. Rasanya belum ada. Lebaran waktu itu benar-benar acara keluarga dan tetangga terdekat. Di sana ada garis batas jelas antara kehidupan keluarga dan kehidupan kedinasan, satu tidak saling memasuki yang lain.

 

Yang pasti, di acara keluarga dan tetangga, ada acara saling meminta maaf, bahkan dengan mereka yang bertahun-tahun tidak pernah bertemu. Sebagai anak kecil, waktu itu saya bertanya ke hati kecil, apa salah saya pada mereka yang belum kenal atau tidak pernah ada interaksi sosial apapun, sehingga saya harus meminta maaf kepada mereka.

 

Dengan orang tua jelas saya pernah banyak salah, karena lebih banyak porsi bermain daripada belajar. Kepada tetangga jelas hampir semua anak seusia pernah bersalah, karena kerap mengambil (mencuri) buah mangga dari halaman mereka, telur di kandang ayam mereka untuk bahan membuat benang adu layang-layang, atau memecahkan kaca jendela mereka dengan bola sepak kami. Motivasi satu-satunya untuk bersalaman dan meminta maaf kepada banyak orang dewasa adalah mengumpulkan sebanyak mungkin uang (salam tempel) yang mereka berikan di hari besar itu kepada anak-anak.

 

Antrian panjang ke rumah pejabat tinggi negara atau swasta mungkin suatu fenomena yang belum cukup lama dilakukan. Ini mungkin saja ada nilai positifnya, atas nama silaturahmi yang disarankan kepada warga masyarakat yang baik. Tetapi jangan-jangan ada juga unsur kurang baiknya. Bisa saja timbul prasangka, dari mana dana yang digunakan para pejabat itu untuk sajian ratusan bahkan ribuan orang yang datang ke rumah? Dari anggaran negara? Dana taktis pejabat tinggi? Sumbangan pengusaha? Hasil korupsi? Dana yang nantinya ditagih ke rekening perusahaan? Atau buat mereka yang jujur, harus hutang?

 

Dari satu sisi saja jelas, ritual ini merepotkan, bukan saja buat tuan rumah (yang semua asisten rumah tangganya pulang kampung), tetapi juga buat yang harus datang, karena harus meninggalkan keluarga yang juga merayakan hari raya di rumah. Yang jelas ada pemborosan secara nasional di sini, lepas dana itu datangnya dari mana.

 

Ritual ini merupakan puncak dari serangkaian kegiatan selama bulan puasa, di mana seharusnya puasa dijalani dengan penuh kesederhanaan sebagai upaya menahan diri, mencoba membersihkan diri, dan kegiatan religius, berubah menjadi acara kedinasan dan memelihara relasi sebulan penuh dengan berbuka puasa bersama di resto-resto dan hotel-hotel mahal. Pemborosan dan kebocoran juga bisa terjadi di sini. Sementara keluarga kita tinggalkan di rumah.   

 

Kembali soal maaf memaafkan, setelah dipikir lebih dalam, mungkin saja relevan, karena para bawahan banyak melakukan kesalahan, dari gagal mencapai target pembuatan bujet yang tepat, gagal mencapai target pencairan dana pembangunan, gagal mencapai target investasi dan produksi, gagal mengurangi angka kemiskinan, gagal mencapai pendapatan dari pajak dan non-pajak, gagal menerapkan kebijakan yang "socially-responsible",  gagal mengurangi dana APBN yang dikorupsi, gagal memberikan kredit lunak kepada pengusaha kecil, gagal menaikkan upah buruh, bahkan sampai gagal menerapkan tata kelola pemerintahan dan perusahaan yang baik serta sederetan panjang dosa-dosa lainnya.

 

Dan bagi pejabat tinggi, pasti banyak salahnya juga, karena mereka gagal menerapkan  kepemimpinan yang tegas, efektif dan efisien, gagal memberantas budaya KKN di organisasinya, gagal melakukan recruitment yang berdasarkan merit saja, gagal meningkatkan jaminan sosial kepada pegawai, gagal menangkis pengaruh negatif dari tekanan-tekanan politik dari luar organisasi, gagal melakukan reformasi birokrasi, dan tentu juga sederet kegagalan lainnya.

 

Apakah bulan puasa betul merupakan masa membersihkan diri? Untuk sebagian orang tidak juga, karena di bulan ini KPK tetap berhasil menangkap tersangka koruptor, caci maki dikalangan politik dan masyarakat umum di media massa dan media sosial terus terjadi. Persaingan politik menjelang Pilkada masih menggunakan black campaign.

 

Jadi? Masih perlukah kita melanjutkan tradisi ini? Kalau memang untuk tujuan silaturahmi, dananya jelas dan halal, dan tidak ada yang direpotkan dengan semua ini, silakan saja diteruskan. Tradisi yang baik adalah ikatan kehidupan yang baik. Tetapi mungkin ada cara lain yang lebih simpatik, sederhana dan murah.

 

Pada saat ini kita sudah diperkaya dengan banyak pilihan jenis teknologi yang bisa membantu pekerjaan dan cara kita menjalani kehidupan sosial kita. Hampir semua kita sudah terhubung secara digital. Para pejabat bisa menggunakan jaringan digital organisasinya untuk menyapa semua pegawai mereka dengan ucapan selamat Idul Fitri, dan permintaan maafnya atas semua kesalahan dan kekurangan mereka, langsung secara life (video dan audio) segera selepas waktu sholat Idul Fitri atau dengan rekaman yang tertata lebih baik.

 

Para pegawai bisa memilih hal yang sama di waktu yang mereka pilih sendiri, atau menggunakan fungsi chat atau message dalam jaringan digital tersebut. Relasi yang tidak terhubung dengan jaringan internal tersebut bisa memilih media sosial lainnya yang banyak tersedia. Para pengelola perusahaan telekomunikasi digital juga tentu dengan senang hati dapat menyediakan kanal-kanal khusus untuk kepentingan hal-hal seperti ini.

 

Kiranya tidak ada yang negatif dari cara ini. Kenyataannya hal ini sudah dilakukan juga melalui media sosial yang ada, dan tidak ada yang merasa tidak dihormati dengan cara ini. Bahkan ini mempunyai banyak aspek positif, misalnya tidak ada lagi gunjingan tentang pemborosan dan kebocoran dana. Bahkan terjadi banyak penghematan di sini. Para pihak tidak direpotkan, dan tidak perlu ada yang tersinggung dengan cara ini. Yang hilang hanya acara kecipa-kecipi, yang buat sebagian orang cukup menggelikan.

 

Satu hal lagi yang juga cukup penting adalah yang menyangkut Presiden kita. Presiden tidak perlu lagi melakukan acara open-house. Presiden cukup pidato singkat di televisi menyampaikan pesan-pesan damai yang mengayomi semua komponen bangsa. Presiden yang menjabat tidak akan kekurangan suara para pemilih dengan tidak melakukan open-house. Presiden tidak harus terpampang bahaya mengingat teror bisa mengancam di mana saja, dan rakyat tidak harus tersinggung karena Presiden tetap terus blusukan menyapa mereka.

 

Kalau semua ini dilakukan, alangkah nikmatnya, kita bisa menghadirkan kembali kehangatan dan ketulusan bulan Ramadhan dan hari Raya Idul Fitri ke tengah keluarga dan lingkungan terdekat.

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri, semoga amal ibadah kita diterima oleh-Nya dan bermanfaat bagi sesama ummat.

 

Ats, Juni 2018

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.