Kamis, 09 August 2018
Prestasi Olahraga Mendongkrak Wibawa Bangsa
Kemajuan sebuah bangsa tak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, namun juga kemajuan seni dan olahraga.
RED
Prestasi Olahraga Mendongkrak Wibawa Bangsa
Sekjen MPR Maruf Cahyono besama sejumlah narasumber acara Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat dengan mengupas buku yang berjudul Indonesia, Asean, & Ketidakpastian Hubungan Internasional di Gedung MPR, Rabu (8/8). Foto: Humas MPR

Bertepatan dengan hari ulang tahun Asean, 8 Agustus, Perpustakaan MPR menggelar acara ‘Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat’ dengan mengupas buku yang berjudul ‘Indonesia, Asean, & Ketidakpastian Hubungan Internasional’. Acara yang digelar di Ruang Presentasi Perpustakaan MPR, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, 8 Agustus 2018, itu menghadirkan sejumlah pembicara anggota MPR.

 

Mulai dari anggota Fraksi Partai Golkar Hetifah Sjaifudian, anggota Lembaga Kajian (Lemkaji) Syamsul Bahry,  Ketua Asean Study UI Edy Prasetyono, penulis buku Beginda Pakpahan, dan pengamat luar negeri Trias Kuncahyono. Dalam acara yang bertema ‘Meningkatkan Wibawa Indonesia di Asean Melalui Soft Diplomasi Indonesia dan Penyelenggaraan Asian Games 2018’, Syamsul Bahry mengatakan dirinya dahulu berpikir kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kemajuan teknologi.

 

Namun pikirnya berubah. Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa tak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, namun juga kemajuan seni dan olahraga. Untuk itu dirinya bersyukur Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games XVIII. “Dengan demikian menunjukan Indonesia adalah sebuah bangsa yang maju”, ujarnya. Bagi Syamsul Bahri, diplomasi antarbangsa sangat ditentukan oleh adanya komunikasi dan olahraga disebut sebagai salah satu media komunikasi dalam berdiplomasi.

 

Sementara Edy Prasetyono berpandangan, Indonesia sebagai  penopang dari keberadaan Asean. Menurutnya, terbentuknya Asean di awal Orde Baru merupakan salah satu bentuk soft diplomasi dari Presiden Soeharto. Ia menilai Soeharto mengubah diplomasi Indonesia yang sebelumnya cenderung hard berubah menjadi soft. “Salah satu bentuk dari soft diplomasi adalah lewat olahraga”, ujarnya.

 

Olahraga diakui oleh Edy sangat penting. Pasalnya terdapat 3 prestasi yang membuat sebuah bangsa menjadi berwibawa dan dihormati oleh bangsa lain. Ketiga hal itu adalah, menguasai ilmu pengetahuan teknologi, berprestasi dalam olahraga, dan mempunyai jiwa seni dan budaya yang tinggi. Lebih lanjut dikatakan, majunya sebuah bangsa juga bisa diukur dari perputaran ekonomi dan industri yang terkait dengan olahraga. Ia menyebut negara-negara yang mempunyai produksi alat olahraga seperti Yonex, Nike, Adidas, Nike, dan lain sebagainya, sebagai negara maju dalam ekonomi dan olahraga.

 

Dirinya bersyukur Indonesia bisa menjadi tuan rumah Asian Games. Hal demikian menunjukan Indonesia mempunyai reputasi. “Indonesia bisa menyelenggarakan Asian Games sebab dirasa aman, mempunyai manajemen yang terampil serta mempunyai infrastruktur olahraga yang bagus”, paparnya.

 

Hetifah sebelum memberi pendapat dalam acara itu, dirinya lebih dahulu memutar film dokumenter pelaksanaan Asian Games IV tahun 1962 yang diselenggarakan di Jakarta. Setelah film usai, dirinya mengharap sukses Asian Games IV bisa terulang di Asian Games XVIII. “Mudah-mudahan terulang kesuksesannya”, harapnya.

 

Dalam Asian Games tahun 1962, Indonesia menempati peringkat kedua di bawah Jepang. Dirinya berharap dalam Asian Games yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang itu tak hanya sukses prestasi dan pelaksanaan namun juga sukses ekonomi dan administrasi. “Mudah-mudahan pelaksanaan Asian Games kali ini membawa pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kunjungan wisatawan”, ujarnya.

 

Pelaksanaan Asian Games bagi Hetifah disebut salah satu pelaksanaan dari Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 yakni ikut menjaga ketertiban dunia. Untuk itulah Hetifah berharap agar kegiatan ini didukung oleh seluruh rakyat Indonesia.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.