Pojok MPR-RI

Perpustakaan MPR Kupas Buku Hatta

Penulisan buku sebagai upaya untuk meluruskan sejarah menjelang Indonesia merdeka.
Oleh:
RED
Bacaan 2 Menit
Suasana diskusi bedah buku Hatta di Perpustakaan MPR, Rabu (15/8). Foto: Humas MPR
Suasana diskusi bedah buku Hatta di Perpustakaan MPR, Rabu (15/8). Foto: Humas MPR

Jelang Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-73, Perpustakaan MPR melalui acara ‘Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat’ membedah buku karya Mohammad Hatta, berjudul ‘Sekitar Proklamasi’. Dalam acara yang digelar di Ruang Presentasi Perpustakaan MPR, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, hadir anggota MPR Fraksi Partai Golkar Hetifah Sjaifudian, sejarah dari UI M Sodikin, dan pengamat buku Arif Pradono sebagai narasumber.

 

Menanggapi buku Hatta, Sodikin berpendapat, karya tulisan Wakil Presiden era Bung Karno Hatta itu sebagai upaya untuk meluruskan sejarah menjelang Indonesia merdeka. Diakui banyak penulis buku sejarah dan luar negeri, yang membumbui fakta dengan dongeng sehingga membuat kejadian yang ada menjadi dramatis. Dikatakannya, sebagai pelaku sejarah, Hatta menulis kejadian yang ada secara objektif sehingga kejadian itu tak sedramatis yang dibayangkan orang. “Dari buku ini Hatta meluruskan sejarah yang tak sesuai dengan kenyataan”, ujarnya.

 

Menurutnya, Hatta merupakan 1 dari 5 orang tokoh yang disebutnya sebagai aktor intelektual. Di BPUPKI dan PPKI, Hatta merupakan sosok yang terlibat langsung dalam sebuah proses perjalanan bangsa. “Ia mempunyai pandangan dan gagasan ke depan tentang sebuah bangsa”, ujarnya.

 

Atas dasar itulah Hatta dinilai sebagai Bapak Bangsa. Sodikin di hadapan peserta mengajak kepada semua untuk merefleksikan isi buku itu. “Apakah kita masih sesuai di jalur harapan bangsa?” tanyanya.

 

Arif Pradono dalam kesempatan itu menyebut buku karya Hatta tak mengedepankan anak muda sebagai penggerak terlaksananya Proklamasi. Ia membandingkan dengan buku karya Adam Malik yang menyebut anak muda sebagai penggerak kemerdekaan Indonesia. Pradono sendiri mengakui kalau dalam setiap perubahan yang terjadi di muka bumi, anak mudalah sebagai agent perubahan. Ia menyebut Gajah Mada, Sudirman, aktivis 66, aktivis 98, adalah tokoh-tokoh perubahan di mana kala itu mereka masih tergolong muda. Perbedaan Hatta dan Adam Malik bisa jadi mereka dalam posisi yang berbeda, Adam Malik sebagai bagian dari anak muda, sedang Hatta dari kelompok yang disebut kaum tua.

 

Dalam kesempatan itu Hetifah mengakui bahwa siapa saja bisa menjadi pelaku sejarah. Setiap generasi disebut memiliki sejarah tersendiri. “Kita menjadi pelaku sejarah di keluarga atau kampus”, ujarnya. Sebagai anggota DPR dan MPR, dirinya mengakui merupakan bagian dari sejarah politik di Parlemen. Diharapkan dari sejarah yang ada, kita bisa memaknai peristiwa. “Yang bagus kita lanjutkan”, paparnya.

 

Dalam soal sejarah yang ada bumbunya, dongeng dan legenda misalnya, diakui memang ada unsur seperti itu agar yang tampak di publik menguntungkan. “Sejarah yang tak terlepas dari dunia politik memang ada unsur kepentingan yang ada”, tuturnya. Dirinya pun menyebut banyak cerita-cerita lokal yang hidup di masyarakat penuh dengan dongeng dan legenda. “Hal demikian juga perlu digali”, harapnya. Meski demikian dirinya menyarankan agar peristiwa sejarah yang ada di Indonesia diproteksi agar tidak ditulis oleh orang asing.

Halaman Selanjutnya:
Berita Terkait