Rabu, 29 Agustus 2018

Kisah Penyandang Disabilitas Rungu yang Termotivasi Kuliah Hukum

Ingin memperjuangkan agar seluruh masyarakat Indonesia ramah disabilitas.
Normand Edwin Elnizar
Isro (berkerudung) saat menjawab pertanyaan hukumonline lewat juru bahasa, Selasa (28/8), di kampus STHI Jentera. Foto: Edwin

Isro Ayu Permatasari tampak menyimak orasi ilmiah yang tengah diberikan oleh Prof. Komaruddin Hidayat, Guru Besar Filsafat Agama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, bagi para mahasiswa baru Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera, Selasa, (28/8).

 

Hanya saja ada yang berbeda, pandangan Isro—begitu ia biasa disapa—tertuju pada sosok yang tampak memperagakan isyarat-isyarat dengan tangan tidak jauh dari podium tempat berorasi. Hukumonline baru menyadari bahwa sosok tersebut adalah juru bahasa yang tengah membantu menerjemahkan isi orasi ilmiah dalam bahasa isyarat. Rupanya Isro tunarungu.

 

Memahami hukum itu sulit. Ini kesan spontan yang dirasakan banyak orang saat membaca berbagai teks undang-undang atau teks hukum lainnya. Apalagi jika membaca berbagai literatur hukum yang menjelaskan beragam teori hingga filosofi dalam kalimat-kalimat panjang. Mendengarkan penjelasannya secara lisan pun tak langsung membantu lebih paham. Ini semakin menguatkan kesan bahwa hukum bukanlah objek yang mudah dipelajari. Faktanya, belajar hukum itu njelimet.

 

Namun siapa sangka bahwa kesan ini tak melunturkan semangat Isro yang memiliki kebutuhan khusus dalam berkomunikasi untuk memilih kuliah hukum. Mahasiswi baru STHI Jentera ini terlihat bersemangat saat menjelaskan kepada hukumonline tentang pilihannya mengambil kuliah hukum.

 

Wakil Ketua STHI Jentera, Inayah Assegaf, kepada hukumonline menjelaskan bahwa kehadiran Isro sebagai wujud komitmen STHI Jentera untuk membuka akses pendidikan hukum bagi seluruh lapisan masyarakat. Secara khusus, kampus yang memiliki visi menghasilkan pembaru hukum ini juga ingin membantu penyandang disabilitas melakukan advokasi hak-hak mereka dengan lebih baik.

 

“Dia bercita-cita melakukan advokasi bagi penyandang disabilitas dan merasa perlu bekal dengan belajar hukum,” kata Inayah menjelaskan tentang Isro yang lolos seleksi menjadi mahasiswa STHI Jentera.

 

Meskipun mengakui bahwa sarana dan prasarana di kampusnya belum sepenuhnya ramah disabilitas, Inayah menjelaskan komitmen STHI Jentera untuk mengupayakan penyandang disabilitas juga bisa terlibat dalam pembaruan hukum Indonesia. “Kami juga belum 100% lengkap, tapi harus dimulai. Kami akan bantu menghilangkan hambatannya dalam proses perkuliahan,” ujarnya.

 

(Baca Juga: Pembaru Hukum Harus Berani Ambil Keputusan Cermat Bagi Kemajuan Bangsa)  

 

Fajri Nursyamsi, staf pengajar STHI Jentera menjelaskan bahwa Isro menjadi mahasiswi disabilitas pertama di STHI Jentera sejak kampus hukum ini berdiri. “Sejak angkatan pertama kesempatan bagi disabilitas dibuka, tapi baru kali ini ada yang mendaftar dan diterima,” kata Fajri yang juga peneliti senior di Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK).

 

Fajri memastikan bahwa Isro lolos seleksi sesuai prosedur standar. “Isro memenuhi syarat nilai dan lolos seleksi wawancara untuk berkuliah,” kata Fajri. Fasilitas khusus yang akan disediakan untuk Isro adalah juru ketik cepat untuk menampilkan pemaparan lisan dalam perkuliahan di layar monitor.

 

Ini adalah wawancara tatap muka pertama hukumonline tanpa suara jawaban langsung dari narasumber. Hukumonline harus menyampaikan pertanyaan dan mendengar jawaban melalui perantara juru bahasa. Berikut adalah petikan wawancara hukumonline dengan Isro melalui perantara juru bahasa.

 

Mengapa Isro tertarik untuk memilih kuliah hukum?

Sebelumnya saya pernah bekerja di butik untuk membantu pembuatan pakaian dan menjadi staf administrasi perusahaan selama tujuh tahun. Selama bekerja, saya sambil mengikuti kegiatan organisasi Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin). Saya terlibat dalam kegiatan pelatihan dan penelitian. Teman saya mengajak ikut menjadi anggota lalu akhirnya saya aktif menjadi pengurus di cabang Tangerang, lalu di pengurus pusat juga.

 

Ada penelitian yang menjelaskan berbagai hambatan bagi tunarungu. Lalu saya pernah membaca UU No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, tetapi tidak bisa memahaminya. Saya memutuskan ingin membantu advokasi bagi rekan-rekan tunarungu terkait undang-undang itu, jadi saya pilih kuliah hukum.

 

Bagaimana cara Isro belajar selama ini?

Pertama dengan bantuan juru bahasa isyarat. Selain itu dengan membaca. Saya tidak bisa mendengar, jadi harus lebih rajin membaca.

 

Siapa yang memberi tahu Isro tentang STHI Jentera?

Sebenarnya saya tidak hanya mendaftar di STHI Jentera. Saya tahu dari teman saya dan membaca di media sosial. Lalu membaca persyaratannya dan ada pilihan jalur untuk penyandang disabilitas di formulir pendaftaran online. Jadi saya mendaftar dan diterima.

 

Ini pengalaman pertama saya sekolah di sekolah umum. Sejak sekolah dasar hingga menengah atas, saya selalu di sekolah luar biasa. Awalnya saya sudah menabung untuk kuliah. Tapi karena kondisinya belum cukup, saya pasrah.

 

Lalu saat berkonsultasi ingin kuliah dan mencari beasiswa ke Ketua Gerkatin, saya dibantu mengajukan beasiswa dari lembaga di Amerika Serikat yang selama ini bekerja sama dengan Gerkatin. Akhirnya saya lolos dan diterima di STHI Jentera. Saya mendapat banyak dukungan dari teman-teman.

 

Apakah sudah siap untuk belajar hukum di kampus umum? Banyak yang bilang hukum itu sulit dipelajari

Saya harus bekerja keras. Bisa dengan membaca lebih banyak dan bertanya pada teman yang lebih paham. Saya sudah sampaikan kepada pihak kampus tentang fasilitas pembantu saya butuhkan. Selama ada yang bisa dibaca atau ada juru bahasa, saya bisa belajar.

 

Apa rencana atau cita-cita Isro dengan mengambil kuliah hukum?

Saya ingin memperjuangkan agar seluruh masyarakat Indonesia ramah disabilitas. Saya ingin mewujudkan hubungan baik, agar kalangan disabilitas bersatu dengan semua masyarakat lainnya. Banyak yang salah memahami kami sebagai cacat jiwa. Padahal hanya perbedaan kemampuan fisik.

 

Boleh ceritakan tentang keluarga Isro?

Saya anak pertama dari empat bersaudara. Umur saya sekarang 26 tahun. Ayah saya bekerja sebagai supir mobil pengangkut barang pindahan dan Ibu saya tidak bekerja. Keluarga besar saya bisa mendengar, hanya saya yang tunarungu. Adik kedua saya bekerja sebagai guru di Yogyakarta setelah dia lulus kuliah.

 

Sedangkan yang ketiga dan keempat masih sekolah menengah pertama. Ayah saya bekerja keras untuk menyekolahkan saya di sekolah luar biasa sejak dulu. Sekolah umum menolak saya karena tunarungu.

 

(Baca juga: Orasi Ilmiah: Kampus Perubahan Butuh Orang-Orang Abnormal)

 

Saya bisa membaca gerak bibir dan sedikit bicara walaupun tidak bisa mendengar suara saya. Seluruh keluarga saya tidak bisa bahasa isyarat, jadi saya harus menggunakan cara oral. Selama sekolah juga diharuskan berkomunikasi dengan oral. Tapi saya tidak paham kalau mereka pakai bahasa Jawa.

 

Saya pernah bekerja dengan lokasi yang jauh dari rumah di Tangerang. Di daerah Jakarta Selatan. Berangkat kerja dengan menggunakan sarana angkot dan ojek sama seperti orang-orang pada umumnya. Alhamduillah saat pertama kali mendaftar kerja ternyata ada salah satu karyawannya juga tunarungu, jadi saya diterima. Lalu di tempat kerja berikutnya karena dapat informasi dari sekolah saya dulu.

 

Jadi saat ini tidak bisa lagi membantu keuangan keluarga karena harus berhenti bekerja?

Saya masih kerja sambilan setiap Sabtu. Mengajar bahasa isyarat di Pusat Bahasa Isyarat Indonesia, wilayah Pasar Minggu. 

 

Apakah ada harapan yang ingin Isro sampaikan untuk teman-teman yang bisa mendengar?

Saya berharap semua elemen masyarakat bisa bersatu bersama disabilitas. Semua bersikap ramah dan bersedia saling membantu. Kita sama-sama saling membutuhkan.

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua