Rabu, 12 September 2018
Perbedaan Alat Bukti dengan Barang Bukti dalam Hukum Acara Pidana
Dalam sidang candaan bom di pesawat, kuasa hukum terdakwa meminta agar pesawat Lion Air JT 687 dihadirkan dalam persidangan sebagai barang bukti tempat di mana peristiwa kepanikan yang terjadi di Bandara Internasional Supadio Pontianak pada 28 Mei 2018.
M. Agus Yozami
0
Perbedaan Alat Bukti dengan Barang Bukti dalam Hukum Acara Pidana
Ilustrasi: BAS

Pengadilan Negeri (PN) Mempawah kembali menggelar sidang kasus candaan bom dalam pesawat Lion Air JT 687 yang melibatkan terdakwa Frantinus Nirigi (FN), Senin (10/9). Agenda sidang adalah mendengarkan keterangan saksi.

 

Ada yang menarik dalam sidang tersebut, di mana kuasa hukum FN, Andel meminta menghadirkan barang bukti berupa pesawat Lion Air JT 687 dalam persidangan. Pesawat tersebut, menurut Andel merupakan barang bukti tempat di mana peristiwa kepanikan yang terjadi pada 28 Mei 2018 di Bandara Internasional Supadio Pontianak.

 

"Pesawat juga kita minta dihadirkan, tapi tak bisa dihadirkan, padahal pesawat itu barang bukti lho," ujar Andel seperti dikutip Antara, Selasa (11/9).

 

Jaksa Penuntut Umum Kejari Mempawah, Rezkinil Jusar, merespons permintaan kuasa hukum FN, Andel. Menurutnya, keinginan kuasa hukum untuk menghadirkan barang bukti di persidangan, harus diluruskan. Pesawat tersebut merupakan barang bukti dan bukan alat bukti. "Nah, apakah itu suatu keharusan pesawat itu harus disita," ujarnya. 

 

"Kita harus ingat, pasal ini bukan terkait masalah pengrusakan (pesawat) nya, tapi candaan nya," tambah Rizkinil. 

 

(Baca Juga: Ancaman Hukum Bagi yang Bergurau Membawa Bom di Bandara)

 

Perbedaan alat bukti dengan barang bukti pernah diulas klinik hukumonline berjudul Apa Perbedaan Alat Bukti dengan Barang Bukti? Untuk alat bukti dijelaskan, dalam Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

 

Dalam sistem pembuktian hukum acara pidana yang menganut stelsel negatief wettelijk, hanya alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang yang dapat dipergunakan untuk pembuktian (Martiman Prodjohamidjojo, Sistem Pembuktian dan Alat-alat Bukti, hal. 19). Hal ini berarti bahwa di luar dari ketentuan tersebut tidak dapat dipergunakan sebagai alat bukti yang sah.

 

Sedangkan untuk barang bukti, Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana memang tidak menyebutkan secara jelas tentang apa yang dimaksud dengan barang bukti. Namun dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP disebutkan mengenai apa-apa saja yang dapat disita, yaitu:

 

  1. benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana;
  2. benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya;
  3. benda yang digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana;
  4. benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana;
  5. benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan.

 

Atau dengan kata lain benda-benda yang dapat disita seperti yang disebutkan dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP dapat disebut sebagai barang bukti (Ratna Nurul Afiah, Barang Bukti Dalam Proses Pidana, hal. 14).

 

Selain itu, di dalam Hetterziene in Landcsh Regerment(HIR) juga terdapat perihal barang bukti. Dalam Pasal 42 HIR disebutkan bahwa para pegawai, pejabat atau pun orang-orang berwenang diharuskan mencari kejahatan dan pelanggaran kemudian selanjutnya mencari dan merampas barang-barang yang dipakai untuk melakukan suatu kejahatan serta barang-barang yang didapatkan dari sebuah kejahatan. Penjelasan Pasal 42 HIR menyebutkan barang-barang yang perlu di-beslag di antaranya:

 

  1. Barang-barang yang menjadi sasaran tindak pidana (corpora delicti)
  2. Barang-barang yang terjadi sebagai hasil dari tindak pidana (corpora delicti)
  3. Barang-barang yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana (instrumenta delicti)
  4. Barang-barang yang pada umumnya dapat dipergunakan untuk memberatkan atau meringankan kesalahan terdakwa (corpora delicti)

 

Selain dari pengertian-pengertian yang disebutkan oleh kitab undang-undang di atas, pengertian mengenai barang bukti juga dikemukakan dengan doktrin oleh beberapa Sarjana Hukum. Prof. Andi Hamzah mengatakan, barang bukti dalam perkara pidana adalah barang bukti mengenai mana delik tersebut dilakukan (objek delik) dan barang dengan mana delik dilakukan (alat yang dipakai untuk melakukan delik), termasuk juga barang yang merupakan hasil dari suatu delik (Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, hal. 254). Ciri-ciri benda yang dapat menjadi barang bukti:

 

  1. Merupakan objek materiil
  2. Berbicara untuk diri sendiri
  3. Sarana pembuktian yang paling bernilai dibandingkan sarana pembuktian lainnya
  4. Harus diidentifikasi dengan keterangan saksi dan keterangan terdakwa

 

Menurut Martiman Prodjohamidjojo, barang bukti atau corpus delicti adalah barang bukti kejahatan. Dalam Pasal 181 KUHAP majelis hakim wajib memperlihatkan kepada terdakwa segala barang bukti dan menanyakan kepadanya apakah ia mengenali barang bukti terebut. Jika dianggap perlu, hakim sidang memperlihatkan barang bukti tersebut. Ansori Hasibuan berpendapat barang bukti ialah barang yang digunakan oleh terdakwa untuk melakukan suatu delik atau sebagai hasil suatu delik, disita oleh penyidik untuk digunakan sebagai barang bukti pengadilan.

 

Dari pendapat beberapa Sarjana Hukum di atas dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan barang bukti adalah:

  1. Barang yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana
  2. Barang yang dipergunakan untuk membantu melakukan suatu tindak pidana
  3. Benda yang menjadi tujuan dari dilakukannya suatu tindak pidana
  4. Benda yang dihasilkan dari suatu tindak pidana
  5. Benda tersebut dapat memberikan suatu keterangan bagi penyelidikan tindak pidana tersebut, baik berupa gambar ataupun berupa rekaman suara
  6. Barang bukti yang merupakan penunjang alat bukti mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam suatu perkara pidana. Tetapi kehadiran suatu barang bukti tidak mutlak dalam suatu perkara pidana, karena ada beberapa tindak pidana yang dalam proses pembuktiannya tidak memerlukan barang bukti, seperti tindak pidana penghinaan secara lisan (Pasal 310 ayat [1] KUHP) (Ratna Nurul Afiah, Barang Bukti, hal.19).

 

Bila dibandingkan dengan sistem Common Law seperti di Amerika Serikat, alat-alat bukti tersebut sangat berbeda. Dalam Criminal Procedure Law Amerika Serikat, yang disebut forms of evidence atau alat bukti adalah: real evidence, documentary evidence, testimonial evidence dan judicial notice (Andi Hamzah). Dalam sistem Common Law ini, real evidence (barang bukti) merupakan alat bukti yang paling bernilai. Padahal real evidence atau barang bukti ini tidak termasuk alat bukti menurut hukum acara pidana kita.

 

Bila memperhatikan keterangan di atas, tidak terlihat adanya hubungan antara barang bukti dengan alat bukti. Pasal 183 KUHAP mengatur bahwa untuk menentukan pidana kepada terdakwa, kesalahannya harus terbukti dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah; dan atas keterbuktian dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah tersebut, hakim memperoleh keyakinan bahwa tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

 

Jadi, dapat disimpulkan bahwa fungsi barang bukti dalam sidang pengadilan adalah sebagai berikut:  

  1. Menguatkan kedudukan alat bukti yang sah (Pasal 184 ayat [1] KUHAP);
  2. Mencari dan menemukan kebenaran materiil atas perkara sidang yang ditangani;
  3. Setelah barang bukti menjadi penunjang alat bukti yang sah maka barang bukti tersebut dapat menguatkan keyakinan hakim atas kesalahan yang didakwakan JPU.

 

(Baca Juga: Candaan Penumpang Bawa Bom di Pesawat Berujung Tersangka)

 

Seperti diberitakan sebelumnya, salah seorang penumpang maskapai Lion Air, FN yang bergurau membawa bom ke dalam pesawat berujung sebagai tersangka. “Penetapan FN sebagai tersangka setelah dilakukan gelar perkara dengan kesimpulan, bahwa perbuatan FN melanggar pasal 437 ayat (1) dan (2), UU No. 1/2009 tentang Penerbangan," kata Kabid Humas Polda Kalbar, AKBP Nanang Purnomo, Senin (28/5) lalu.

 

Mengacu pada Pasal 437 UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (UU Penerbangan), semua yang terkait informasi bom, baik sungguhan atau bohong akan diproses dan ada sanksi tegas oleh pihak berwajib.

 

Pasal 437 ayat (1) berbunyi, “setiap orang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 344 huruf e dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.”

 

Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kecelakaan atau kerugian harta benda, dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun, dan bila mengakibatkan matinya orang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun, lanjut isi Pasal 437 ayat (2) dan (3). (ANT)

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.