Rabu, 10 Oktober 2018

Pentingnya Lawyer dan In House Counsel Memahami Laporan Keuangan

Saat ini, lawyer dan in house counsel dituntut mampu membaca laporan keuangan. Kedua profesi itu juga diharapkan dapat memberi masukan mengenai strategi bisnis perusahaan sekaligus bisa mendeteksi terjadinya pelanggaran dalam laporan keuangan.
Mochamad Januar Rizki
Direktur Genuine Software Initiative Microsoft Indonesia, Sudimin Mina saat Pelatihan Hukumonline mengenai Pemahaman Dasar Akuntansi Keuangan dalam Transaksi Bisnis Perusahaan di Jakarta, Selasa (9/10). Foto: HOL

Profesi hukum seperti lawyer ataupun in house counsel (penasihat hukum perusahaan) semakin memiliki peran penting dalam dunia bisnis saat ini. Tidak hanya memberi masukan mengenai regulasi, tapi kedua profesi tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap strategi bisnis bagi klien atau perusahaan tempatnya bekerja.

 

Salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki kedua profesi tersebut terkait strategi bisnis ini yaitu kemampuan memahami laporan keuangan perusahaan. Sebab, dengan kemampuan tersebut, lawyer dan in house counsel dapat memberi perspektif lebih luas bagi korporasi dalam menjalankan kegiatan bisnisnya.

 

Pakar IT dan Business Management sekaligus Direktur Genuine Software Initiative Microsoft Indonesia, Sudimin Mina mengatakan peran lawyer dan in house counsel yang dapat menganalisa laporan keuangan sangat diperlukan kehadirannya saat ini. Khususnya, saat korporasi sedang mengembangkan kegiatan bisnisnya. Kondisi seperti itu perpaduan aspek legal dengan strategi bisnis sangat dibutuhkan.

 

“Kalau lawyer atau in house counsel bisa bantu untuk banyak skenario misalnya merger, akuisisi, penetrasi pasar baru hingga IPO (initial public offering),” kata Sudimin dalam acara Pelatihan Hukumonline 2018 bertajuk “Pelatihan Pemahaman Dasar Akuntansi Keuangan dalam Transaksi Bisnis Perusahaan” di Jakarta, Selasa (9/10/2018). Baca Juga: Ini Alasan Kenapa Lawyer dan In House Counsel harus Paham Laporan Keuangan

 

Menurut Sudimin, untuk memahami laporan keuangan, lawyer dan in house counsel perlu memahami istilah-istilah akuntansi. Dengan demikian, lawyer dan in house counsel yang terlibat dalam pertemuan strategi bisnis dapat memahami pembahasan tersebut. Beberapa contoh istilah dasar yang harus dipahami lawyer dan in house counsel, seperti EBITDA (earning before interest, tax, depreciation and amortisation) atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi, liabilitas, dan aset.

 

“Dengan memahami istilah akuntansi pembicaraan antara lawyer atau in house counsel bisa nyambung,” tutur Sudimin.

 

Tak hanya itu, Sudimin menjelaskan keterikatan antara laporan keuangan dengan aspek hukum memiliki hubungan erat. Dengan demikian bagi lawyer atau in house counsel yang jeli (paham istilah akuntansi) saat memeriksa laporan keuangan bermasalah, dapat menemukan transaksi-transaksi tidak wajar, bahkan berisiko terjadi fraud dan pelanggaran hukum.

 

Salah satu pelanggaran yang sering terjadi dalam laporan keuangan yaitu windows dressing atau manipulasi hasil laporan. Praktik windows dressing dilakukan dengan berbagai tujuan seperti penghindaran pajak atau peningkatan nilai saham perusahaan. Untuk penghindaran pajak, atas dasar laporan keuangan perusahaan itu agar terjadi pengurangan laba. Sedangkan, peningkatan nilai saham justru dilakukan dengan mempercantik laporan keuangannya sebelum disajikan kepada investor atau klien.

 

Bagi lawyer atau in house counsel yang jeli memeriksa laporan keuangan bermasalah juga dapat menemukan jenis pelanggaran hukum lain seperti korupsi, bribery (suap), illegal gratuties (gratifikasi) hingga economic extortion (pemerasan). Hal lain yang harus dipahami lawyer atau in house counsel yaitu cara pembuatan laporan keuangan sesuai standar pedoman akuntansi secara Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) dan International Financial Reporting Standards (IFRS).

 

“Jadi, lawyer dan in house counsel harus tahu penyusunan laporan keuangan klien atau perusahaannya pakai (pedoman standar) GAAP atau IFRS. Umumnya, Indonesia menggunakan IFRS,” kata Sudimin.

 

Nilai tambah

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Corporate External and Legal Affairs Microsoft Indonesia, Reza Toposubroto mengatakan seorang lawyer dan in house counsel harus memiliki kompetensi lain selain persoalan regulasi. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki tersebut yaitu kemampuan analisa bisnis dari lawyer dan in house counsel.

 

Reza menjelaskan dengan memiliki pemahaman analisa bisnis tersebut, lawyer dan in house counsel akan semakin dibutuhkan perusahaan, khususnya saat membahas dan merumuskan strategi bisnis perusahaan. Karenanya, dia menyarankan agar seseorang yang menekuni kedua profesi tersebut untuk mendalami ilmu bisnis atau akuntansi.

 

“Untuk pengembangan karir, dia (lawyer dan in house counsel ) harus bisa menunjukkan added value bagi perusahaan dan kliennya. Memang lawyer bukan core utama dari suatu bisnis, tetapi mereka mesti bisa memberi advice dari sisi hukum dan bisnisnya juga agar berkontribusi terhadap perusahaan,” pesan Reza.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.