Kamis, 11 Oktober 2018

Pancasila, Jalan Tengah dan Ideologi Harga Mati

Tanpa Pancasila, dapat dibayangkan masing-masing daerah bakal saling ngotot, bahkan konflik agar ideologi bangsa sesuai dengan agama, suku dan ras masing-masing.
RED
Foto: Humas MPR

Wakil Ketua MPR RI Mahyudin berpandangan Pancasila adalah jalan tengah untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Bahkan Pancasila, merupakan satu-satunya solusi yang terbaik dan diterima seluruh rakyat Indonesia yang berbeda-beda, untuk bersama menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara serta mencapai satu cita-cita bersama kemajuan dan kesejahteraan.

 

"Pemahaman tersebut tidak main-main. Bayangkan 200 juta lebih rakyat Indonesia yang berbeda agama, ras, suku dan budaya pastilah banyak sekali perbedaan pendapat dan prinsip serta keinginan tapi menyatu selama Pancasila hadir dan menjadi ideologi bangsa," ujarnya di hadapan kurang lebih 300 peserta Sosialisasi Empat Pilar MPR pimpinan dan anggota Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (GePaK) serta masyarakat sekitar, di aula Kecamatan Balikpapan Selatan, Kalimantan Timur, Kamis (11/10).

 

Indonesia, lanjut Mahyudin, adalah negara kepulauan Sekitar 17 ribu pulau dihuni 200 juta lebih masyarakat yang berbeda suku, agama, ras, bahasa, budaya. Tentu, masing-masing personal memiliki ego dan keinginan masing-masing.

 

Jika tidak ada Pancasila yang menjadi jalan tengah, bisa dibayangkan masing-masing daerah akan saling ngotot bahkan konflik agar ideologi bangsa sesuai dengan agama, suku dan ras masing-masing. Sebab, masing-masing pasti berpegang teguh bahwa agamanya, kepercayaannya, sukunyalah yang paling benar dan baik.

 

"Pancasila kemudian muncul dan diterima dengan baik oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai ideologi bangsa dan tetap mampu bertahan menjaga keutuhan bangsa selama 73 tahun dan akan terus bertahan jika kita anak bangsa konsisten menjaga dan merawatnya," ujarnya.

 

Diungkapkan Mahyudin, begitu mudahnya rakyat Indonesia menerima Pancasila sebagai ideologi sangat bisa dimaklumi sebab Pancasila bukanlah doktrin dan bukanlah ciptaan manusia. Nilai-nilai Pancasila digali oleh Bung Karno dari jiwa rakyat Indonesia sendiri.  Jadi, nilai yang terkandung Pancasila sudah menjadi karakter rakyat Indonesia sejak dulu.

 

"Jika saat ini muncul kembali ego pribadi yang memaksakan keyakinannya, sukunya yang paling benar dan paling baik apalagi sampai ingin mengganti Pancasila dengan ideologi yang diyakini sendiri, sama artinya kita mundur jauh ke belakang yang semestinya sudah selesai 73 tahun yang lalu. Jika dipaksakan, yang terjadi adalah konflik berkepanjangan karena satu sama lain merasa paling benar dan Indonesia bisa bubar," pungkasnya.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.