Rabu, 17 Oktober 2018

Tiga Peradi Dorong Kantor Hukum Ikut Survei Pro Bono Hukumonline

​​​​​​​Tiap satu kantor hukum hanya bisa menjadi satu responden. Kantor hukum dapat menjadi motor penggerak bagi advokatnya untuk melaksanakan kewajiban pro bono.
Normand Edwin Elnizar/M-28
Dari kiri: Otto Hasibuan, Luhut MP Pangaribuan dan Juniver Girsang

Apa yang pertama kali para advokat pikirkan ketika mendengar kata pro bono? Mungkin “gratis” atau “kerja sosial” akan lebih dulu muncul ketimbang soal bagaimana cara melakukannya. Tentu ini hanya dugaan saja. Namun, perbincangan soal pro bono perlu disikapi serius bagi kalangan advokat.

 

Sebagai bagian dari tanggung jawab profesi, menunaikan pro bono (bantuan hukum secara cuma-cuma) semestinya adalah syarat agar seorang advokat bisa dikatakan sebagai advokat sejati. Apalagi tanggung jawab ini telah dituangkan sebagai kewajiban dalam norma hukum di UU No.18 Tahun 2003 tentang Advokat (UU Advokat).

 

Berawal dari asumsi tersebut, Hukumonline merancang survei untuk membuat pemeringkatan pro bono advokat Indonesia 2018. Hukumonline akan memberikan penghargaan atas rekam jejak pro bono yang dilakukan oleh advokat Indonesia berdasarkan data hasil survei ini. Namun perlu diingat, tiap satu kantor hukum hanya bisa menjadi satu responden atau mengirimkan satu survei. Silakan ditunjuk siapa petugas yang akan mengisi survei.

 

Catatan Hukumonline, hingga saat ini masih belum ada panduan teknis yang rinci mengenai pro bono advokat Indonesia. Bahkan pemahaman mengenai pro bono masih bercampur dengan bantuan hukum (legal aid) oleh negara yang sudah diatur terpisah. Bahkan, klaim pelaksanaan pro bono oleh advokat selama ini masih berdasarkan pada klaim sepihak.

 

Pada tahun 2009, perbincangan soal standarisasi pemberian jasa pro bono sempat mengemuka. Sayangnya hingga tahun 2018 belum ada kemajuan soal penyusunan panduan dalam pelaksanaan pro bono oleh para advokat Indonesia. Sejak UU Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum (UU Bantuan Hukum) disahkan membuat pemahaman soal jasa pro bono perlu untuk diperjelas.

 

Belum lagi jika membahas bentuk jasa pro bono. Satu-satunya ketentuan yang merincikan bentuknya hanya Peraturan Peradi No. 1 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-cuma. Dalam Peraturan Peradi 1/2010 disebut bahwa setiap advokat dianjurkan memberikan bantuan hukum pro bono 50 jam per tahun. Definisi pro bono litigasi dan nonlitigasi dalam survei ini diambil dari Peraturan Peradi 1/2010.

 








*Pro bono litigasi adalah pemberian bantuan hukum di muka pengadilan yang meliputi seluruh rangkaian proses peradilan baik itu dalam perkara perdata, pidana atau tata usaha negara, termasuk dalam proses pelaporan dan pemeriksaan di kepolisian dan penuntutan di kejaksaan dalam perkara pidana.



*Pro bono non litigasi adalah pemberian bantuan hukum di luar pengadilan yang meliputi Pendidikan hukum, investigasi kasus, konsultasi hukum, pendokumentasian hukum, penyuluhan hukum, penelitian hukum, perancangan hukum (legal drafting), pembuatan pendapat/catatan hukum (legal opinion/legal anotasi), pengorganisasian, penyelesaian sengketa di luar pengadilan, pemberdayaan masyarakat serta seluruh aktvitas yang bersifat memberi kontribusi bagi pembaharuan hukum nasional termasuk pelaksanaan piket bantuan hukum.


Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua