Sabtu, 24 November 2018

Putusan Kasasi Baiq Nuril Abaikan Perma tentang Pedoman Mengadili Kasus Perempuan?

Pada tingkat kasasi seharusnya majelis fokus pada penerapan hukum, bukan pemeriksaan fakta.
Moh. Dani Pratama Huzaini

Putusan kasasi yang menghukum Baiq Nuril, seorang pegawai honorer di Mataram, terus menuai polemik. Berbeda dari tingkat pertama, putusan kasasi jsutru menyatakan Nuril bersalah melanggar Pasal 27 ayat (1) UU Informasi dan Elektronik. Akibat pelanggaran itu, ia tak hanya diganjar enam bulan penjara, tetapi juga denda 500 juta rupiah. Jaksa sudah menyatakan menunda eksekusi Nuril karena ada petunjuk dari atasan, dan faktanya kasus ini menaruh perhatian publik, bahkan sudah direspons Presiden.

Hukuman itu dijatuhkan majelis kasasi karena Nuril dinilai terbukti melakukan penyebaran percakapan Kepala Sekolah SMU 7 Mataram berinisial M. Sebelumnya, Nuril diputus bebas dan tidak terbukti bersalah oleh majelis hakim yang memeriksa perkara di tingkat Pengadilan Negeri Mataram pada tanggal 26 Juli 2017 dengan berdasarkan putusan PN Mataram No. 265/Pid.sus/2017. Namun, putusan PN ini tidak dijadikan pertimbangan MA dalam membuat putusan. 

Ketua Harian Masyarakat Permantau Peradilan Indonesia Fakultas Hukum Universitas Indonesia (MaPPI FH UI), Dio Ashar mengatakan seharusnya Mahkamah Agung sebagai puncak tertinggi kekuasaan kehakiman mampu menjalankan fungsinya dalam menjaga kesatuan hukum. Harusnya keberadaan MA dalam menangani perkara kasasi hanya memeriksa penerapan hukum (judex juris) dari pengadilan di bawahnya. Dengan begitu tidak akan terjadi putusan MA lebih berat dari putusan pengadilan di bawahnya. “MA tidak lagi melakukan pemeriksaan terhadap fakta (judex facti), tapi hanya penerapan hukum,” ujar Dio dalam diskusi media, Sabtu (24/11), di Jakarta.

Selain itu, MA harusnya menggunakan peraturan yang dibuatnya sendiri. Sebenarnya telah ada Peraturan Mahkamah Agung (Perma) No. 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum. Pasal 3 Perma ini menyebutkan bahwa peraturan Mahkamah Agung tersebut bertujuan agar hakim yang memeriksa perkara perempuan berhadapan dengan Hukum, memahami dan menerapkan asas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 (penghargaan atas harkat dan martabat manusia;  non diskriminasi; Kesetaraan Gender; persamaan di depan hukum; keadilan; kemanfaatan; dan kepastian hukum).

Pasal yang sama mengharuskan hakim dapat mengidentiflkasi situasi perlakuan yang tidak setara sehingga mengakibatkan diskriminasi tprhadap Perempuan, dan huruf (c) mengatur agar hakim dapat menjamin hak perempuan terhadap akses yang setara dalam memperoleh keadilan. Sayangnya, peraturan yang terlah ada ini tidak menjadi pertimbangan atau dasar hukum dalam memproses kasus Baiq Nuril, yaitu seorang perempuan yang berhadapan dengan hukum karena pemanfaatan relasi kuasa yang dimiliki pelaku.

Ini menjadi preseden buruk wajah peradilan dalam penanganan perempuan berhadapan dengan hukum. Contoh perkara Nuril ini akan berdampak pada demotivasi korban untuk melaporkan kasus kekerasan seksual yang dialaminya karena khawatir akan mengalami nasib sefupa Nuril. Patut diingat, Kejadian yang menimpa Nuril rentan dialami oleh perempuan korban yang lain. Relasi kuasa korban dengan pelaku, sulitnya pembuktian dan saksi, selama ini menjadi kendala dalam penangan kasus kekerasan seksual. “Korban kekerasan seksual akan semakin bungkam karena tidak mendapatkan perlakukan adil dari aparat penegak hukum,” ujar Direktur LBH Apik, Siti Mazuma di tempat yang sama. 

Aparat penegak hukum yang menangani perkara Baiq Nuril ini tidak melihat aspek korban. Koalisi Perempuan untuk Keadilan Ibu Nuril memandang putusan terhadap Nuril tidak adil, diskriminatif dan bias gender. Menurut mereka kasus ini bermuatan relasi kuasa karena pelaku adalah laki-laki, kepala sekolah sementara korban adalah perempuan dan guru honorer.

Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua