Minggu, 02 December 2018

Ashoya Ratam Terpilih Sebagai Nahkoda Baru Iluni FHUI

​​​​​​​Salah satu programnya yaitu meningkatkan kontribusi Iluni FHUI terhadap perbaikan hukum di Indonesia.
Mochamad Januar Rizki
Ketua Umum terpilih Ashoya Ratam menerima pataka ILUNI UI sebagai tanda pengukuhan. Foto: Istimewa

Proses pemilihan umum Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (Iluni FHUI) akhirnya memutuskan nomor urut 5, Ashoya Ratam sebagai Ketua Iluni FHUI periode 2018-2021. Setelah melalui proses pemilihan elektronik atau e-voting sejak Oktober lalu, Ashoya berhasil meraih suara terbanyak dibanding lima kandidat lainnya.

 

Ashoya berhasil meraih 1.576 suara dari total daftar pemilih tetap 3854 suara. Terpilihnya Ashoya secara resmi mengganti posisi Ahmad Fikri Assegaf yang menjabat sebagai Ketua Iluni FHUI 2015-2018. Pengumuman hasil pemilu ini disampaikan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Iluni FHUI di Depok, Sabtu (1/12).

 

Selama periode kepemimpinannya, Ashoya mengatakan berbagai program internal dan eksternal akan dilaksanakan Iluni FHUI. Dari sisi internal, dia akan mengupayakan peningkatan partisipasi para alumni FHUI untuk memberi sumbangsih kepada almamaternya. Salah satu yang menjadi program internal tersebut yaitu peningkatan kualitas kurikulum pengajaran di FHUI.

 

Menurutnya, berbagai latar belakang profesi alumni FHUI dapat memberikan peningkatan kompetensi kepada mahasiswa FHUI. “Saya melihat Iluni FHU dapat berperan untuk memberi masukkan berupa penambahan kurikulum sehingga dapat memberikan nilai tambah atau mempersiapkan para calon alumni FHUI di dunia kerja,” kata Ashoya.

 

Selain program internal, Ashoya juga berharap Iluni FHUI dapat berkontribusi terhadap perbaikan dunia hukum di Indonesia. Berbagai program forum group discussion (FGD), seminar hingga kajian akademis perundang-undangan. “Kami akan meningkatkan peran terhadap rancangan peraturan dan regulasi baru dengan menyinergikan dengan para alumni yang memiliki kemampuan,” tambah Ashoya.

 

Tentunya dalam menjalankan program-program tersebut tidak mudah. Ashoya menilai partisipasi para alumni FHUI masih belum maksimal. Hal ini terlihat dari masih minimnya keterlibatan para alumni dalam Pemilu Iluni FHUI. Berdasarkan hasil Pemilu Iluni FHUI, dari 3.854 DPT terdapat 1.035 suara tidak memilih.

 

“Akan berat sekali tantangannya, dari jumlah pemilih lebih dari 25 persen tidak memilih. Ini artinya alumni tersebut belum merasakan bagian dari FHUI. Tentunya, ini sangat disayangkan. Padahal saling dekat dengan para alumni memberi manfaat positif bagi diri sendiri,” kata Ashoya.

 

Baca:

 

Ashoya merupakan satu-satunya calon perempuan dalam Pemilu Iluni FHUI kali ini. Ashoya lahir pada 1973 di Jakarta dan tercatat sebagai alumni FHUI angkatan 1991. Usai menempuh pendidikan sarjananya pada 1996, dia melanjutkan pendidikan di Boston University, Amerika Serikat pada bidang Administrative Study. Dia juga mengambil kuliah di FHUI hingga meraih gelar M.Kn. tahun 2002.

 

Saat ini, Ashoya berprofesi sebagai notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) sejak tahun 2002. Dia juga menjadi tenaga pengajar di program kenotariatan FHUI. Selain itu, Ashoya juga aktif sebagai Pengurus Ikatan Notariat FHUI dan menjadi pengurus di organisasi profesi Ikatan Notaris Indonesia dan Ikatan PPAT.

 

Dalam kesempatan sama, Ketua Iluni FHUI 2015-2018, Ahmad Fikri Assegaf berharap agar Iluni FHUI dapat lebih berperan lebih aktif di tingkat internal dan eksternal kampus. Salah satu pekerjaan besar yang masih harus diselesaikan yaitu menjaring para alumni FHUI lebih banyak lagi. Sebab, saat ini masih banyak alumni FHUI yang masih belum terdaftar dengan baik.

 

“Ini kesempatan agar bisa bawa Iluni FHUI ke posisi lebih baik lagi. Tentunya, untuk kegiatan yang berbasis volunteer (sukarelawan) bukan hal mudah. Tapi, Alhamdulillah, capaian kepengurusan yang sudah berakhir ini bisa menjadi landassan bagi pengurus berikutnya,” jelas Fikri.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.