Selasa, 04 December 2018

Hadapi Globalisasi, Sekjen MPR: Generasi Milineal Perlu Dibekali Nilai Kebangsaan

Mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan penting sebab aktualisasi kehidupan tidaklah statis tetapi sangat dinamis.
RED
Foto: Humas MPR

Di hadapan delapan ratus orang yang berasal dari Himpunan Putra-Putri Keluarga Angkatan Darat (HIPAKAD), Keluarga Besar Putra-Putri Polri (KBPPP), dan mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI), yang memenuhi Gedung Nusantara V, Komplek Parlemen, Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono menyebut yang hadir pada acara Sosialisasi Empat Pilar MPR itu merupakan kelompok strategis sehingga  mereka perlu dibekali dengan  nilai-nilai kebangsaan.

 

Diharapkan Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, tidak hanya membuat mereka paham, mereka mampu menerjemahkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan. “Nilai-nilai kebangsaan harus dapat diaktualisasikan dalam keseharian," ujarnya Senin (3/12) kemarin. 

 

Menurut pria asal Banyumas, Jawa Tengah, mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan penting sebab aktualisasi kehidupan tidaklah statis tetapi sangat dinamis. Pasalnya bakal  berhadapan dengan suatu perubahan yang terus menerus, tuntutan, dan perkembangan jaman. Sehingga bila ideologi yang diyakini tidak hidup atau tak diaktualisasikan, maka ia tidak bisa beradaptasi dengan kebutuhan dan perkembangan jaman. “Di sinilah saya merasa khawatir," ujarnya.

 

Ketika ideologi bangsa tidak bisa diadaptasikan atau sebagai sesuatu yang tak bisa hidup di tengah masyarakat, maka hal yang demikian perlu segera diantisipasi. Apalagi mayoritas anak muda sekarang hidup di jaman yang berbeda yaitu jaman milenial. Ditegaskan pada generasi milineal inilah nilai-nilai kebangsaan harus diinternalisasikan agar mereka bisa menterjemahkan nilai-nilai luhur bangsa itu. “Mereka harus bisa menerjemahkan dalam dunia yang aktual," katanya.

 

Penanaman nilai-nilai kebangsaan pada generasi milineal menurut Ma’ruf Cahyono merupakan bekal bagi mereka dalam menghadapi perubahan jaman. Menurutnya, apapun perubahan jaman tidak boleh membuat kita keluar dari jati diri bangsa. Oleh karena itu Empat Pilar MPR harus menjadi bekal bagi mereka untuk menatap masa depan.

 

Jati diri bangsa itu harus mampu diadaptasikan dalam segala rupa kehidupan yang ada. Dengan jati diri inilah masyarakat bisa menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada. Disebut bangsa ini termasuk generasi milineal menghadapi tantangan global dan perkembangan teknologi informasi yang dahsyat. Menghadapi era yang demikian diharap generasi milineal tidak hanya mempunyai kualitas dan kapasitas untuk bersaing dengan bangsa lain, namun juga harus memiliki ketahanan ideologi sebagai  jati diri bangsa. “Kita ingin menjadi bangsa yang besar dan maju tanpa kehilangan jati diri bangsanya," katanya.

 

Untuk menjadi bangsa yang besar dan maju tentu tidak mudah diwujudkan secara serta merta apalagi adanya pengaruh dan persaingan yang ketat dengan bangsa bangsa  yang lain. “Pengaruh dan persaingan ini tidak akan berhenti.  Untuk itu nilai-nilai kebangsaan juga harus terus dikuatkan. Jangan sampai  bangsa ini mampu  bisa memasuki era persaingan bebas,  namun ia kehilangan jati diri bangsanya “Nah ini yang tidak kita inginkan," katanya.

 

Dalam era perkembangan teknologi informasi, semua sarana yang ada dikatakan bisa dijadikan sarana untuk meningkatkan persatuan dan jati diri bangsa. Pemanfaatan teknologi informasi seperti handphone diharap tidak menjadi kontraproduktif dengan nilai-nilai yang ada. Diakui handphone di satu sisi mampu sebagai sarana untuk transformasi ilmu pengetahuan, menguatkan paham kebangsaan, dan nilai-nilai positif lainnya. Meski diakui juga bahwa dari alat komunikasi ini bisa digunakan untuk menebar sesuatu yang tidak produktif bahkan negatif. “Oleh karena itu saya mengatakan sarana teknologi informasi harus mampu membuat kita menjadi produktif untuk penguatan jati diri bangsa bukan malah sebaliknya," pungkasnya.

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua