Kamis, 06 Desember 2018

Perantara Suap untuk Setnov Divonis 10 Tahun Bui

Putusan itu masih lebih rendah daripada tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) KPK yang menuntut agar Irvanto dan Made Oka divonis 12 tahun penjara ditambah denda Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan.
Agus Sahbani
Ilustrasi korupsi. Ilustrasi: BAS

Mantan Direktur Operasional PT Murakabi Sejahtera Irvanto Hendra Pambudi Cahyo dan pemilik OEM Investment Pte Ltd Made Oka Masagung, divonis 10 tahun penjara ditambah denda Rp500 juta subsider tiga bulan kurungan karena terbukti menjadi perantara pemberian uang suap kepada mantan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi proyek KTP elektronik (e-KTP).

 

"Mengadili, menyatakan terdakwa I Irvanto Hendra Pambudi Cahyo dan terdakwa II Made Oka Masagung telah terbukti secara sah dan meyakinkan secara hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama. Menjatuhkan pidana kepada (para) terdakwa selama 10 tahun penjara ditambah denda Rp500 juta subsider 3 bulan kurungan," kata ketua majelis hakim, Yanto, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (5/12/2018) malam seperti dikutip Antara.

 

Putusan itu masih lebih rendah daripada tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) KPK yang menuntut agar Irvanto dan Made Oka divonis 12 tahun penjara ditambah denda Rp1 miliar subside 6 bulan kurungan. Vonis itu berdasarkan dakwaan pertama Pasal 2 ayat (1) UU No. 31/1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Baca Juga: Irvanto dan Made Oka Dituntut 12 Tahun Bui

 

Dalam perkara ini, Irvanto pada 19 Januari 2012-19 Februari 2012 beberapa kali menerima uang dari Direktur Utama PT Biomorf Lone Indonesia, Johanes Marliem, yang seluruhnya berjumlah 3,5 juta dolar Amerika Serikat melalui Riswan alias Iwan Baralah dengan memberikan nomor rekening perusahaan atau money changer di Singapura kepada Irvanto.

 

Selanjutnya Irvanto memerintahkan Direktur PT Biomorf Lone Indonesia, Johannes Marliem, mengirimkan uang ke beberapa rekening perusahaan atau money changer di luar negeri. Johannes Marliem lalu mengirimkan uang sesuai permintaan Irvanto. Setelah Johanes mengirimkan uang tersebut, Irvanto menerima uang tunainya dari Riswan secara bertahap seluruhnya berjumlah 3,5 juta dolar Amerika Serikat.

 

Selain diberikan melalui Irvanto, fee untuk Setnov juga dikirimkan melalui Made Oka Masagung seperti kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Pada 14 Juni 2012, Made Oka menerima fee untuk Setnov sejumlah 1,8 juta dolar Amerika Serikat dari Johannes Marliem melalui rekening OEM Investment, Pte. Ltd pada OCBC Center Branch melalui underlying transaction software development final payment.

 

Pada 10 Desember 2012, Made Oka Masagung kembali menerima fee untuk Setya Novanto, dari Anang Sugiana sejumlah 2 juta dolar Amerika Serikat melalui rekening pada Bank DBS Singapura atas nama Delta Energy Pte Ltd yang merupakan perusahaan milik Made Oka yang disamarkan dengan perjanjian penjualan saham sebanyak 100.000 lembar milik Delta Energy di Neuraltus Pharmaceutical Incorporation, perusahaan yang berdiri berdasarkan hukum negara bagian Delaware, Amerika Serikat.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua