Minggu, 13 January 2019

Kesaksian Novel dan Sindirian Lucas Terhadap KPK

Novel memaparkan awal mula dugaan keterlibatan Lucas dalam pelarian Eddy Sindoro. Sebaliknya, Lucas menyalahkan KPK.
Aji Prasetyo
Penyidik senior KPK Novel Baswedan saat bersaksi di Pengadilan Tipikor dengan terdakwa Lucas. Foto: RES

Pada persidangan dugaan menghalang-halangi penyidikan, atas nama terdakwa Lucas, pada Kamis (10/1), penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan penyidik senior Novel Baswedan. Kehadiran Novel cukup menarik perhatian apalagi ia merupakan Ketua Tim Penyidikan Eddy Sindoro. Sesuai dengan dakwaan jaksa, Lucas diduga membantu pelarian Eddy Sindoro.

 

Mulanya salah seorang hakim anggota menanyakan perihal Eddy Sindoro mulai dari perkara yang menjeratnya hingga upaya pemanggilan. KPK beberapa kali memanggil Eddy baik saat masih menjadi saksi maupun tersangka, namun yang bersangkutan tidak pernah hadir.

 

Penyidi KPK Novel Baswedan memberikan penjelasan kepada majelis hakim. “Kami juga dapat info Eddy Sindoro pernah dideportasi dari Malaysia ke Indonesia, tim penyidik melakukan pengecekan ke data perlintasan ternyata tidak diketemukan, kemudian penyidik melakukan pencarian dengan melihat CCTV bandara, kami mengetahui ternyata ada pihak yang membantu,” ujar Novel di Pengadilan Tipikor Jakarta.

 

Setelah melontarkan beberapa pertanyaan “pembuka” hakim langsung pada pokoknya menanyakan apa kaitan Lucas dengan pelarian Eddy Sindoro ke luar negeri. Sebagai saksi, Novel memberikan penjelasan. “Setelah melakukan penyidikan terhadap Eddy Sindoro sebagai tersangka, di sekitar November 2016, kami mengetahui ada pembicaraan antara Eddy Sindoro dengan terdakwa, pembicaraan cukup panjang dalam salah satu pembicaraan Eddy Sindoro menyatakan ingin pulang ke Indonesia dan menghadapi proses hukum dan terdakwa memberikan masukan-masukan sebaiknya tidak pulang, seingat saya diantaranya itu yang dibicarakan,” terang Novel.

 

(Baca juga: Lucas Bersikukuh Tidak Bersalah)

 

Novel juga menceritakan secara garis besar bagaimana alur pembicaraan itu. Menurutnya Lucas ketika itu menghubungi seseorang, kemudian di tengah pembicaraan tersebut terdakwa juga menghubungi Eddy Sindoro dengan telepon genggamnya yang lain dengan aplikasi FaceTime. Lalu suara tersebut dibandingkan dengan rekaman yang lain. Novel menyebut perbandingan suara ini dilakukan terhadap suara Lucas untuk perkara lain yang masih dalam tahap penyelidikan.

 

“Selain itu Yang Mulia kami juga ada beberapa hal rekaman terdakwa di penyelidikan yang lain kami membandingkan dan kami meyakini itu adalah terdakwa, rekaman suara pembicaraan. Dan kami membawa kepada ahli untuk pemeriksaan selanjutnya, hasilnya dinyatakan bahwa itu benar, identik,” tuturnya.

 

Keterkaitan Lucas, menurut Novel, juga terlihat dari hasil pemeriksaan saksi yang dilakukan KPK. Jadi setelah memeriksa CCTV bandara ketika mendapat informasi Eddy Sindoro sempat melintas di Indonesia, pihaknya pun melakukan penggeledahan. Setelah dilakukan pemeriksaan seorang saksi bernama Dina, yang diketahui kemudian bernama lengkap Dina Soraya yang pada sidang sebelumnya mengaku bekerja sebagai sekretaris PT Gajendra Adhi Sakti, penyidik mendapatkan bukti elektronik percakapan chatting antara Lucas dan Dina.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua