Selasa, 15 January 2019

Munir Fuady: Advokat dengan Mimpi Seribu Buku

 

Bedanya kalau inspirasi dalam novel ditemukan dengan mengkhayal, kalau ilmiah justru gak boleh keluar ke khayalan, apalagi nulis hukum, itu harus hati-hati karena ada aturan-aturan yang perlu diperhatikan di situ. Kalau aturannya bilang A anda bilang B sudah repot itu. Pelajari dulu, baca, diskusi dengan banyak orang, baru kemudian nulis.

 

Pasar di Jakarta kan bukan tantangan yang mudah, bagaimana kiat Anda sebagai orang daerah untuk bisa memenangkan persaingan ketat di Jakarta?

Di AS saya pelajari hukum bisnis, dan itu sangat berkembang pesat. Nah kalau saya balik ke daerah, hukum bisnis saya bisa gak ada pengembangan di sana. Banyak masalah bisnisnya kalau di daerah seperti perkara dagang sapi, tanah dan sebagainya, jadi saya memilih menetap di Jakarta yang notabene bisnisnya besar-besar, masuk di situ Penanaman Modal Asing (PMA), Pasar Modal, Persaingan Usaha, kan di sini semua. Jadi kesimpulan saya, kalau saya ingin kembangkan ilmu, ingin saya praktikkan ilmu yang pernah saya pelajari di Amerika, saya harus di Jakarta.

 

Banyak yang bilang, sudahlah balik kampung halaman saja, ngajar, terima gaji, ngapain susah-susah, di Jakarta lawan orang UI lawan orang UGM, orang Unpad, orang Medan semuanya kemari, enakan di sana tidur nyenyak. Tapi saya pikir ndak, saya punya ilmu, melawan siapapun saya berani, kalau kalah, gagal dan gak bisa ngapa-ngapain di Jakarta saya tinggal bawa tas, pulang kampung lagi. Ini udah prinsip. Tapi Alhamdulillah sampai sekarang gak sampai begitu.

 

Saya kira kemajuan itu kita harus berani tampil beda, apalagi kalau kita punya ide pembaharuan. Prinsip saya, harus berani ambil kesempatan karena kesempatan itu datang biasanya hanya sekali. Selain itu, saya juga berprinsip bahwa hidup itu memilih, pilihan banyak kita bisa ambil satu. Tapi, sebagai manusia yang punya akal, jangan salah pilih. Kalau salah pilih, bisa kacau nanti.

 

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua