Kamis, 17 Januari 2019

​​​​​​​Debat Pilpres 2019: Make Indonesia Laugh Again Oleh: Ulwan Fakhri*)

​​​​​​​Butuh suara dari milenial? Suapi saja dengan humor! Mereka inilah konsumen humor garis keras alias comedy native.
RED
Ulwan Fakhri. Foto: Istimewa

Sampai 17 April mendatang, publik akan disuguhkan dengan lima kali debat Pilpres dari kandidat calon presiden-wakil presiden teranyar republik ini. Namun, alih-alih sekadar menjadi ajang menjawab pertanyaan yang dilontarkan dengan baik serta lancar, masing-masing kubu seharusnya bertanggung jawab pula untuk mengendurkan urat-urat publik yang sudah menegang sejak beberapa bulan terakhir menjelang Pilpres 2019.

 

Ya, tugas termendesak sekarang adalah bagaimana para kandidat bisa tampil rileks dan menghibur guna menetralisir akar rumput demokrasi negeri ini yang kadung kepanasan, tentunya tanpa menghilangkan substansi debat serta upaya menjaring simpati masyarakat. Caranya? Siapkan saja amunisi humor yang memadai berikut intensi dan momentum yang pas untuk menembakkannya.

 

Ketimbang mesiu atau nuklir, bahan berdaya ledak tawa ini lebih layak jadi bekal petualangan para kandidat menuju kursi RI 1 dan 2. Salah satu buktinya, tahun 2007 lalu, USA Today dan Gallup menemukan bahwa delapan dari 10 responden surveinya menilai para calon presiden perlu atau sangat perlu memiliki selera humor yang baik.

 

Butuh suara dari milenial? Suapi saja dengan humor! Mereka inilah konsumen humor garis keras alias comedy native – meminjam istilah Tanya Giles, General Manager Comedy Central. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang begitu terikat dengan musik, humor telah menjadi bentuk ekspresi diri utama kaum milenial.

 

Survei dari Nielsen tahun 2012, (dalam Jennings, 2018), menemukan kalau generasi milenial pun merasa lebih memiliki kedekatan dengan orang yang humoris. Terbukti, 63 persen respondennya mengaku lebih ingin terjebak di eskalator bersama komedian favoritnya ketimbang atlet atau musisi idolanya.

 

Humor pada dasarnya bukanlah antitesis dari hal-hal yang “serius”, termasuk untuk urusan politik. Sudah ada beragam contoh bagaimana para elit memanfaatkannya sebagai alat politis yang taktis. Barrack Obama, yang semasa mudanya bekerja sebagai advokat, pernah melawan hoaks bahwa dirinya adalah seorang Muslim lewat sindiran humoristis di White House Correspondents Dinner tahun 2015.

 

Suksesornya, Donald Trump, tak kalah lihai berkomedi. Dipandang konservatif, kaku, dan keras, ia pernah juga mempertontonkan sisi humorisnya dengan menjadikan media massa ternama hingga presiden Korea Utara, Kim Jong Un, sebagai bahan candaannya.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua