Kamis, 21 February 2019

Tips Bagi Advokat untuk Mengasah Kemampuan Legal Writing

Diksi atau pilihan kata dalam merumuskan kontrak sangat penting.
Muhammad Yasin
Ari Bessendorf (membelakangi kamera) sedang memberikan penjelasan dalam Peradi English Club, Kamis (14/2). Foto: DPN Peradi

Salah satu upaya Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN Peradi) untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas advokat adalah menggelar diskusi tematis dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Peradi English Club, demikian forum diskusi berseri ini lazim disebut, menjadi ajang bagi para advokat untuk belajar bahasa Inggris hukum sekaligus menambah pengetahuan sesuai tema yang diangkat.

 

Para advokat yang bergerak dalam penyusunan kontrak membutuhkan kemampuan menulis hukum (legal writing), sekaligus memahami makna kalimat atau klausula dalam setiap kontrak. Itu pula benang merah yang disampaikan Ari Lobovits Bessendorf, foreign legal consultant salah satu firma hukum besar di Jakarta, dalam seri lanjutan diskusi di kantor DPN Peradi Slipi, Kamis (14/2). Tema yang diangkat adalah ‘Elements of Style—Introduction to Legal Writing’.

 

Pria asal Amerika Serikat itu menjelaskan pentignya kemampuan menulis yang baik bagi seorang advokat. Selain sebagai sarana mengkomunikasikan apa yang diinginkan penulis kepada pembacanya, kemampuan menulis dokumen-dokumen hukum berkaitan dengan kejelasan maksud dan tujuan.

 

Seorang advokat yang menulis dokumen hukum seperti kontrak harus memiliki kemampuan yang baik agar logika yang dibangun sejak awal sampai kesimpulan konsisten. Salah satu kunci penting yang perlu dimiliki advokat adalah memahami bahasa yang dipergunakan dalam dokumen. Menurut Ari, sangat berbahaya jika kita tidak memahami bahasa kontrak baik dalam teks maupun konteks.

 

Pandangan Ari dikuatkan Ricka Kartika Barus. Advokat yang juga Managing Partner Kartika Law Firm ini berpendapat kemampuan berbahasa Inggris merupakan modal penting yang harus dimiliki seorang advokat baik ketika akan membuat kontrak atau ketika menganalisis suatu kontrak. Apalagi pada umumnya kontrak dibuat dalam bilingual, salah satunya berbahasa Inggris.

 

Kartika memberikan tips bagi advokat yang ingin menambah kemampuannya di bidang legal writing. Tentu saja, terus mengasah kemampuan berbahasa Inggris menjadi kunci utama. Kemampuan ini bisa diperkuat dengan membaca literatur berbahasa Inggris. “Dan, sering-seringlah melakukan review dokumen-dokumen hukum berbahasa Inggris,” ujarnya kepada Hukumonline.

 

(Baca juga: Mengenal Kontrak Migas Sambil Belajar Bahasa Inggris)

 

Kesalahan memahami dan menafsirkan kata atau kalimat dalam kontrak bisa berakifat fatal. Jam terbang seorang advokat, menurut Ricka Kartika, dapat meminimalisasi kemungkinan kesalahan memahami isi kontrak.

 

Advokat Andi Haerawan melihat hal lain yang penting dimiliki seorang advokat dalam legal writing. Kadangkala, dalam bahasa Inggris ada dua atau kata yang dapat dipakai untuk menerjemahkan kata bahasa Indonesia ke dalam kontrak. Misalnya, jika ingin mengartikan ‘surat kuasa’ ke dalam bahasa Inggris, seseorang tak dapat sepenuhnya mengartikan kata per kata; atau sebaliknya ketika hendak menafsirkan ‘power of attorney’ ke dalam bahasa Indonesia.Karena itu, bagi seorang advokat, memilih kata yang paling tepat merupakan kunci penting. “Diksi. Kemampuan memilih kata yang lebih tepat dipakai,” ujarnya.

 

Dalam Peradi English Club yang berlangsung pada Kamis (14/2) lalu, Ari Bessendorf memberikan contoh lema ‘must’ (harus). Ari menjelaskan seorang advokat seyogiaya menghindari penggunaan kata ‘must’ dalam kontrak dan sebaiknya memilih kata ‘shall’. Selain itu, kata-kata yang tidak penting (unnecessary words) sebaiknya diubah. Misanya, kalimat ‘this is a subject that…’ dapat dipersingkat dengan ‘this subject…’.

 

Ricka dan Andi berpendapat diskusi tematis seperti yang diselenggarakan Peradi sangat perlu bagi advokat. Bagaimanapun, advokat harus meningkatkan kemampuannya di tengah persaingan global. Bisnis lintas negara semakin membutuhkan advokat yang mumpuni dalam memahami kontrak berbahasa internasional (khususnya bahasa Inggris). “Acara seperti ini perlu dilakukan,” kata Ricka.

 

Ketua Bidang Pendidikan Berkelanjutan DPN Peradi Nirmala Masilamani menegaskan bahwa tema yang diangkat dalam serial diskusi English Club beragam dan akan disesuaikan dengan kebutuhan advokat atau praktisi hukum. “Pembicara pada umumnya adalah advokat asing yang ada di Indonesia atau advokat senior dengan pengalaman praktek secara internasional atau mengenyam pendidikan hukum di luar negeri," jelasnya.

 

(Baca juga: Advokat Wajib Bertransformasi di Pasar Internasional)

 

Sekretaris Jenderal DPN Peradi, Thomas E. Tampubolon, menjelaskan Peradi akan terus berusaha melakukan beragam cara untuk meningkatkan kualitas advokat, termasuk memanfaatkan perkembangan teknologi. Selain menggelar serial diskusi, Peradi juga membuat grup Whatsap yang memfasilitasi diskusi antar anggota dalam bahasa Inggris. “Para anggota tukar menukar informasi dan berita seputar hukum dan umum”. Dan, sudah pasti tukar menukar informasi itu dilakukan dalam bahasa Inggris.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua