Senin, 25 Pebruari 2019

Penumpang Pesawat Bergurau Bawa Bom, Ini Ancaman Hukumannya!

Penyebar informasi palsu bisa dikenakan sanksi pidana hingga 15 tahun penjara.
Mochamad Januar Rizki
Ilustrasi: BAS

Maskapai Wings Air IW-1334 sempat mengalami gangguan penerbangan pada akhir pekan lalu (24/2). Penyebabnya, seorang penumpang yang akan menaiki maskpai pada rute penerbangan Bandar Udara Maleo, Marowali, Sulawesi Tengah-Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufri, Palu, Sulawesi Tengah menginformasikan kepada petugas layanan check-in bahwa penumpang tersebut membawa bom di dalam tasnya.

 

Setelah melalui proses pemeriksaan petugas keamanan bandara, penumpang tersebut tidak terbukti membawa bom dalam tasnya. Ternyata, penumpang tersebut memberi keterangan palsu dengan tujuan bergurau kepada petugas layanan check-in bandara. Setelah dipastikan aman, pesawat tersebut tetap terbang dengan mengangkut 48 penumpang serta empat awak.

 

“Hasil pemeriksaan adalah tidak ditemukan barang bukti berupa bom dan benda lain mencurigakan di dalam bagasi atau barang bawaan FB, yang dapat berpotensi membahayakan penerbangan. Wings Air telah menyerahkan FB ke pihak avsec Bandar Udara Maleo dan kepolisian untuk dilakukan proses lebih lanjut,” jelas Corporate Communications of Lion Air, Danang Mandala Prihantono, saat dikonfirmasi hukumonline, Senin (25/2/2019).

 

Berdasarkan UU Penerbangan, penyebaran informasi palsu yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan memang diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Pasal 437 UU Penerbangan menyatakan setiap orang yang menyampaikan informasi palsu sehingga membahayakan keselamatan penerbangan dapat dikenakan sanksi pidana 1-15 tahun.

 

UU Penerbangan

Pasal 437:

(1) Setiap orang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 344 huruf e dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.

(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kecelakaan atau kerugian harta benda, dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun.

(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan matinya orang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.

 

Atas insiden tersebut, Danang mengimbau agar masyarakat tidak menyampaikan informasi palsu atau bergurau membawa bom saat menaiki pesawat atau berada di bandara. Sebab, hal tersebut dapat mengganggu operasional penerbangan. Selain itu, pemberian informasi palsu tersebut juga bertentangan sesuai dengan aturan penerbangan.

 

“Kami mengimbau dan menegaskan kepada seluruh pelanggan maupun masyarakat untuk tidak menyampaikan informasi palsu, bergurau,  bercanda, atau mengaku bawa bom di bandar udara dan di pesawat. Semua yang terkait informasi bom baik sungguhan atau bohong, merupakan tindakan melanggar hukum dan akan diproses dan ada sanksi tegas oleh pihak berwajib,” jelas Danang.

 

(Baca Juga: Candaan Penumpang Bawa Bom di Pesawat Berujung Tersangka)

 

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga memperingatkan kepada semua masyarakat agar jangan bercanda tentang bom, terlebih di dalam pesawat terbang ataupun bandar udara. Dia mengaku prihatin karena masih banyak warga yang melakukan candaan soal bom. Dalam sepekan ini sudah ada beberapa kasus yang melakukan hal itu dengan alasaan iseng. Selain melanggar aturan, tindakan tersebut juga berdampak pada kepanikan dan bahkan ketakutan pada penumpang ataupun orang lain.

 

Untuk itu, Budi menegaskan agar penumpang pesawat terbang jangan bercanda tentang bom. Sebab, candaan ataupun ancaman soal bom di dalam pesawat dinilai melanggar Undang-Undang tentang Penerbangan dan dapat dijerat dengan pidana. Atas kasus candaan bom yang sebelumnya terjadi, pihaknya menegaskan bahwa jajarannya bersama Polri akan menindak tegas pelaku sesuai aturan dan hukum yang berlaku. Menurutnya, kasus tersebut akan terus berjalan hingga ke persidangan. Bahkan pihaknya akan mengawal kasus tersebut hingga pelaku diadili di persidangan.

 

"Saya peringatkan kepada yang lain, jangan coba-coba melakukan itu (candaan bom). Kita bersama-sama dengan Polri akan melakukan penindakan terhadap yang melakukan candaan bom," ujar Budi Karya pada Mei 2018 lalu seperti dilansir Antara.

 

Insiden gurauan penumpang bawa bom telah berulang kali terjadi dalam dunia penerbangan. Bahkan, Kementerian Perhubungan mencatat sebanyak 15 gurauan sehubungan ancaman bom pada 2015-2016. Dari data tersebut, sebanyak 12 informasi didapat secara resmi dari aviation security dan tiga informasi dari pramugari.

 

Kasus ini terjadi pada pesawat BatikAir rute Cengkareng-Palembang (2015), Lion Air Padang-Cengkareng (2015), Lion Air Batam-Cengkareng (2015), Lion Air Cengkareng Palembang (2015), Lion Air Cengkareng-Manado (2015). Selanjutnya, Citilink Kualanamu-Halim Perdanakusuma (2015), Lion Air Manado-Cengkareng (2015), Lion Air Surabaya-Makassar (2015).

 

Kemudian, selama tiga hari berturut-turut 24-26 Desember 2015, beberapa insiden ancaman menimpa sejumlah maskapai. Mulai dari maskapai FAL tujuan Cengkareng-Taipei yang mendapat ancaman dari penumpang berinisial K, maskapai Lion Air JT544 tujuan Cengkareng-Yogyakarta yang mendapat ancaman dari penumpang berinisial H, dan maskapai Batik Air ID6541 tujuan Kupang-Cengkareng yang mendapat ancaman dari tiga penumpangnya berinisial EH, F, M.

 

Ancaman kembali terjadi di hari terakhir, 31 Desember 2015, dari penumpang pesawat Lion Air JT536 tujuan Cengkareng-Solo dengan inisial AS. Di awal tahun, 3 dan 4 Januari 2016, insiden ancaman menimpa maskapai Lion Air tujuan Balikpapan-Ujung Pandang dan maskapai Airfast FS221 Surabaya-Timika.

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua