Jumat, 12 April 2019

Memilih Kucing yang Keluar Karung

 

Revolusi teknologi informasi, prasarana demokrasi yang memungkinkan kita mengakses informasi, dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi menjadikan landasan-landasan itu kini relatif mudah digunakan, diuji, dan diverifikasi dengan informasi yang benar dan melimpah ruah saat ini.

 

Kita bisa tahu bagaimana karakter para calon, tingkat emosinya sebagai pemimpin, kedewasaan dan kematangannya sebagai negarawan atau kelak bila menjadi negarawan; integritasnya sebagai birokrat atau anggota militer atau pengusaha atau tokoh agama dan masyarakat, dan warga negara; bagaimana ia melihat perannya untuk membawa bangsa Indonesia 5 tahun ke depan dengan "seabreg" permasalahan kita sebagai bangsa, negara dan masyarakat Indonesia, baik yang tertunda, yang sekarang ada, maupun permasalahan di depan kita di tengah kancah dunia yang secara dinamis menggerakkan bandul kekiri-tengah-kanan ini; serta pada akhirnya bagaimana program-programnya bukanlah hanya bualan saja, tetapi didasarkan fakta dan prediksi yang masuk akal untuk dicapai dengan kemampuan kita yang ada sat ini, dan kemampuan kita yang akan ada di lima tahun mendatang. Kita sekarang ini tidak lagi memilih kucing dalam karung, karena kucingnya sudah ada di luar karung. Jelas, terang benderang, dan sangat nyata.  

 

Kita juga bisa menakar para parpol pengusung dan para pemimpinnya dengan landasan-landasan tadi, apakah mereka punya integritas yang tinggi (tidak korup, terbukti jujur, bersih dan beretika baik), memiliki wawasan kebangsaan yang merakyat dan menghargai perbedaan, dan mengutamakan kepentingan bangsa Indonesia sebagai yang utama di atas kepentingan sendiri dan golongan.

 

Dari serangkaian kampanye, debat publik dan pernyataan-pernyataan sepihak yang kita saksikan langsung atau amati lewat media (yang bertanggung jawab), sudah banyak jawaban yang kita peroleh dalam menguji landasan-landasan yang kita gunakan. Kalau ukurannya hanya landasan-landasan itu saja, mungkin persoalan kita memilih pemimpin terbaik tidak akan sulit. Sulitnya, dan sayangnya, demokrasi tidak bekerja seperti itu.

 

Informasi masih bisa diputar-balikkan sehingga sampai secara salah dan menyesatkan publik, terutama mereka yang tidak mau atau tidak mampu mengakses informasi lain yang benar dan tersedia luas. Sayangnya, masih banyak pemilih awal yang masih sangat muda, yang belum mengecap kemewahan pemahaman dan pengalaman yang cukup untuk memberikan penilaian.

 

Sayangnya, juga masih banyak anggota masyarakat kita tidak mendapat akses tingkat pendidikan yang baik dan lingkungan sosial yang mendukung. Sayangnya lagi, masih banyak juga anggota masyarakat yang menyesatkan atau disesatkan cara berfikir dan pandangannya terhadap masalah-masalah besar bangsa ini. Sayangnya juga, masih banyak juga anggota masyarakat yang tidak peduli akan nasib bangsa ini yang memilih secara serampangan. Kemudian, sayangnya lagi masih banyak pemilih yang sampai dengan waktu pencoblosan masih ragu akan pilihannya.

 

Siapapun yang Anda pilih, mereka tidak akan pernah bisa sempurna. Mereka pada waktu yang lalu dan di masa depan pasti pernah atau akan mengecewakan. Ada kesalahan yang dari sudut kepentingan bangsa ini yang bisa dimaafkan, tetapi ada yang juga yang mungkin tidak. Paling tidak, Anda bisa menilai bahwa mereka yang dipilih seharusnya tidak telah, dan tidak dipredikasi bisa, melakukan kesalahan yang akan menciderai prinsip-prinsip dasar dari bangsa ini, yaitu kehidupan bernegara dalam koridor demokrasi, keadilan sosial dan kesejahteraan untuk seluruh rakyat, dan penghargaan terhadap hak-hak dasar manusia bagi seluruh rakyat tanpa memperhatikan latar belakang politik, sosial, agama dan etnis mereka.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua