Jumat, 17 Mei 2019

Dua Bupati Bengkalis Berturut-turut Terjerat Kasus Korupsi

Herliyan Saleh, Bupati Bengkalis 2010-2015 telah menjadi terpidana kasus bansos Bengkalis. Bupati penerusnya jadi tersangka suap proyek jalan.
Aji Prasetyo
Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Foto: MYS

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan dua tersangka baru dari unsur dan perkara yang berbeda di Kabupaten Bengkalis, Riau. Tersangka pertama Direktur PT Mitra Bungo Abadi, Makmur alias Aan (MK), dan tersangka kedua Bupati Bengkalis periode 2016-2021 Amril Mukminin.

Makmur menjadi tersangka kasus korupsi proyek peningkatan Jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih di Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau Tahun Anggaran 2013-2015. Penetapan tersangka ini merupakan hasil pengembangan dari kasus yang telah menjerat mantan Kadis PUPR, M. Nasir (MN), dan Direktur Utama PT Mawatindo Road Construction, Hobby Siregar (BS).

"MK kami tetapkan tersangka diduga bersama dengan MN dan BS selaku Direktur Utama PT MRC (Mawatindo Road Construction), melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek peningkatan Jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih di Kabupaten Bengkalis," kata Wakil Ketua KPK, Laode M. Syarief, di kantornya, Kamis (16/5).

Penetapan Makmur ini merupakan penulusuran KPK bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang kemudian dinyatakan ada kerugian negara mencapai Rp105,88 miliar. Makmur dalam kasus ini diduga memperkaya dirinya hingga mencapai Rp 60,5 miliar.

(Lihat juga: Bupati Bengkalis Usai Diperiksa KPK).

Kasusnya bermula dari 2011, kala Dinas PU Kabupaten Bengkalis menganggarkan proyek jalan sebesar Rp2,5 triliun dari APBD dengan skema tahun jamak (multiyears). Ketika itu Makmur dan sejumlah pihak diduga mengurus anggaran dan proyek tersebut kepada Bupati Bengkalis saat itu Herliyan Saleh. Untuk mendapatkan proyek, Makmur diduga berinisiatif memberikan uang Rp1.3 miliar kepada Bupati Bengkalis. Pemkab Bengkalis dan DPRD menyetujui anggaran multiyears, yang salah satunya anggaran peningkatan Jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih dengan nilai anggaran sekitar Rp528 miliar. "MK diduga meminjam perusahaan Hobby Siregar yaitu PT MRC (Mawatindo Road Construction)," terang Laode.

Setelah itu, Makmur diduga melakukan pertemuan dengan Bupati Bengkalis (saat itu) Herliyan Saleh dan M Nasir. Herliyan lantas memploting proyek Jalan Batu Panjang- Pangkalan Nyirih, kepada Makmur meskipun proses lelang belum dilaksanakan. Selepas pertemuan itu Harga Perkiraan Sendiri (HPS) disusun mendekati angka Rp528 miliar. Kontrak pekerjaan proyek tersebut ditandatangani dengan nilai pekerjaan mencapai Rp459,32 miliar.

"Selama proses pelelangan diduga telah terjadi perbuatan melawan hukum berupa peminjaman perusahaan, pertemuan, dan upaya mengarahkan agar perusahaan Makmur menjadi pemenang. Biaya pinjam bendera diduga Rp1,6 miliar," jelasnya.

Atas perbuatannya Makmur disangka Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Bupati tersangka

Selain Makmur, KPK menetapkan Amril Mukminin sebagai tersangka tetapi dalam kasus yang berbeda yaitu dalam kasus penerimaan suap dan gratifikasi terkait proyek multiyears pembangunan Jalan Duri-Sei Pakning di Kabupaten Bengkalis. KPK menduga total uang suap atau gratifikasi yang diterima berjumlah Rp5,6 miliar.

Laode menjelaskan dalam proyek pembangunan jalan Duri-Sei Pakning bagian dari enam paket pekerjaan jalan di Kabupaten Bengkalis tahun 2012 dengan nilai anggaran Rp537,33 miliar. Proyek ini sempat dimenangkan PT CGA, namun sempat ditolak oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bengkalis dengan alasan bahwa PT CGA masuk daftar hitam Bank Dunia dan perusahaan itu pun langsung menerima surat pembatalan penyedia barang dan jasa (SPPBJ). "Namun pada tingkat kasasi Juni 2015, Mahkamah Agung memutuskan PT CGA memenangkan gugatan terhadap Dinas PU Bengkalis dan berhak melanjutkan proyek," ujar Laode.

(Baca juga: KPK Kembali Tetapkan Tersangak Korporasi).

Pada Februari 2016, sebelum menjadi Bupati Bengkalis Amril diduga menerima uang sebanyak Rp2,5 miliar untuk memuluskan anggaran proyek peningkatan jalan Duri-Sei Pakning. Setelah terpilih menjadi Bupati, Amril diduga mengadakan pertemuan dengan PT CGA. "Itu di pertemuan PT CGA tindak lanjut agar AMU (Amril Mukminin) segera menandatangani kontrak, dan AMU menyanggupi untuk membantu," tuturnya.

Selanjutnya, Amril kembali menerima uang setelah terjadi kesepakatan dalam rentan waktu Juni dan Juli 2017. Amril diduga mendapatkan uang sekitar Rp3,1 miliar dalam bentuk mata uang dolar Singapura. Penyerahan uang itu diduga bertujuan memuluskan proyek yang akan digarap PT CGA yakni peningkatan jalan Duri-Sei Pakning. KPK memperkirakan total uang yang diterima Amril sebesar Rp5,6 miliar baik sebelum maupun sesudah menjadi Bupati Bengkalis.

Atas perbuatannya Amril disangka Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Ini adalah kali kedua Bupati Bengkalis secara berturut-turut ditetapkan menjadi tersangka setelah Bupati sebelumnya periode 2010-2015 Herliyan Saleh telah berstatus terpidana korupsi yang ditangani Polda Riau dalam perkara dugaan penyalahgunaan wewenang dalam kegiatan belanja hibah di lingkungan Sekda Kab Bengkalis yang sumber dananya berasal dari APBD 2012.

Pada tingkat pengadilan pertama Herliyan divonis 1 tahun 6 bulan, denda Rp200 juta subsidair 6 bulan penjara, kmudian PT Pekanbaru menjatuhi hukuman selama 3 tahun, dan denda‎ Rp 50 juta subsider 3 bulan penjara. Hukuman Herliyan menjadi berlipat-lipat pada tingkat kasasi setelah MA memperberat hukumannya menjadi 9 tahun, denda Rp500 juta subsider 8 bulan kurungan.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif yang beberapa kali menyebut nama Makmur alias Aan dan Herliyan. Nama Herliyan disebut dalam berkas dakwaan Muhammad Nasir dan Hobby Siregar. "Muhammad Nasir diduga memperkaya diri sebesar Rp2 miliar, Hobby Siregar Rp40,87 miliar, Herliyan Saleh Rp1,3 miliar, H Syarifuddin alias H Katan Rp292 juta, Adi Zulhalmi Rp55 juta," kata penuntut umum dalam surat dakwaannya.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua