Jumat, 17 Mei 2019

Sidang Hingga Larut Malam, Jaksa Bongkar Suap ke Hakim PN Jaksel

Uang suap dibawa kemana-mana karena takut hilang. Tapi bundelan uangnya kok beda?
Aji Prasetyo
Sidang perkara suap advokat kepada hakim PN Jakarta Selatan melalui panitera, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (16/5). Foto: AJI

Penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi berusaha membongkar proses terjadinya suap dari seorang advokat kepada hakim dan panitera Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Jaksa Kiki Ahmad Yani dan kawan-kawan menghadirkan advokat, hakim, dan panitera ke dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta untuk bersaksi. KPK telah menetapkan advokat, Arif Fitrawan, panitera M. Ramadhan, beserta dua hakim Irwan dan Iswahyu Widodo, sebagai tersangka kasus korupsi.

Dalam sidang yang berlangsung hingga larut malam, Kamis (16/5) kemarin, para tersangka ini saling bersaksi satu sama lain. Dalam kesaksiannya, Arif mengatakan mengenal panitera PN Jakarta Selatan, M. Ramadhan, melalui temannya bernama Resa. Ramadhan dikenalkan Resa sebagai orang yang dapat membantu memenangkan perkara dan melobi hakim. “Saya dikenalkan Resa, ini Pak Ramadhan, dia yang bantu-bantu ngurus perkara,” jelas Arif di depan majelis hakim.

Menjawab pertanyaan jaksa, Arif mengatakan ada arahan kliennya untuk ‘mengurus’ perkara karena asumsi bahwa pihak lawan sudah lebih dahulu mendekati hakim. Dari kepentingan inilah Arif bertemu Ramadhan, apalagi sang panitera bersedia membantu. Ramadhan berjanji mendekati dua anggota majelis, Irwan dan Iswahyu. Ketua majelis yang mengadili perkara perdata klien Arif, yakni Achmad Guntur, sedang umrah. "Dia (Ramadhan) sampaikan, kalau putusan akhir nilainya Rp500 juta. Setelah itu saya konfirmasi ke Martin dan tim lain. Saya bilang dapat informasi ada kenalan Om saya (Ramadhan diakui sebagai Om oleh Arif ke klien dan koleganya) untuk urus harganya Rp500 juta," terangnya.

Selain mempersiapkan 500 juta untuk putusan final, Arif menyampaikan kepada kliennya tentang kebutuhan putusan sela. Ramadhan meminta 200 juta rupiah. Arif menganggap putusan sela ini juga harus dijaga karena pernah menangani perkara yang mirip di PN Makassar dan majelis hakim menyatakan tidak dapat menerima gugatan. Panitera meminta 200 juta, Arif meminta 210 juta rupiah kepada kliennya. Selisih 10 juta dipersiapkan untuk biaya operasional pengacara di Jakarta.

Dari 200 juga yang disiapkan memenuhi permintaan panitera, Arif hanya menarik 175 juta dari bank, plus 5 juta dari kocek pribadinya. Di persidangan terungkap, hanya 150 juta uang yang sampai ke tangan hakim. Sisanya, 30 juta menjadi jatah Ramadhan, 20 juta untuk Arif. Dalam kesaksiannya, Ramadhan mengamini pernyataan Arif. Ia hanya berbeda pendapat mengenai siapa yang berinisiatif mengambil jatah fee kepada Irwan dan Iswahyu. "Rp150 juta itu muncul dari saya dan Arif sebab Arif tanya ke saya kita dapat apa ini," terangnya.

(Baca juga: Ketika Hakim PN Jakarta Selatan Diadili Hakim Tipikor Jakarta).

Libatkan isteri

Dalam persidangan juga terungkap, proses pemberian suap kepada hakim melibatkan Deasy, yang tak lain adalah isteri Ramadhan. Ironisnya, Deasy adalah seorang aparat penegak hukum yang sering bertugas di PN Jakarta Selatan. "Dalam kasus ini saya memang melibatkan banyak orang yang tidak tahu apa-apa, termasuk istri saya," terangnya.

Ramadhan mengakui pernah meminta istrinya untuk menyerahkan uang dalam amplop senilai Rp10 juta kepada panitera pengganti di PN Jaksel, Ngurah Arya Winaya. Ramadhan mengaku tidak menjelaskan kepada istrinya mengenai praktik suap hakim. Menurut Ramadhan, dia tidak memberi tahu isi amplop itu uang. "Saya masukkan ke tasnya waktu istri saya di kamar mandi. Pas di mobil istri saya tanya apaan ini? Saya bilang itu surat. Sudahlah, enggak perlu banyak tanya," Ramadhan bercerita dialognya dengan isteri mengenai amplop berisi uang.

Berikutnya, Ramadhan pernah meminta istrinya untuk berkomunikasi kepada hakim Irwan. Saat itu, Deasy sedang punya jadwal sidang di PN Jakarta Selatan. Ramadhan meminta tolong agar istrinya mengirim pesan singkat melalui WhatsApp kepada hakim Irwan. Deasy kemudian menyampaikan kode dengan istilah "ngopi" kepada Irwan.

Pesan singkat itu kemudian dibalas Irwan dengan memberikan tanda jempol dan kalimat "kemang 5". Menurut Ramadhan, istilah itu diduga memaksudkan uang Rp500 juta yang akan diberikan kepada hakim.

(Baca juga: Ada Kode ‘Jempol’ dan ‘Kemang 5’ dalam Dugaan Suap Advokat kepada Hakim PN Jaksel).

Ada uang suap lain?

Dalam kesaksian mereka, dua hakim PN Selatan Irwan dan Iswahyu mengaku didatangi Ramadhan yang meminta bantuan pengurusan perkara. Iswahyu ketika itu mengatakan "sudah sama Pak Irwan saja". Kalimat itu, kata Iswahyu, tidak bermakna Irwan yang menjadi perwakilan mengurus perkara, melainkan bentuk penolakan. "Kalimat itu (bermakna) saya menolak, tapi biar nanti yang menolak itu Pak Irwan. Ya begitulah saya orangnya tapi Pak Irwan sangat tahu persis," ujar Iswahyu.

Mengenai hasil dari putusan sela yang harganya "dibanderol" Rp200 juta yang kemudian sampai ke hakim Rp150 juta menurut Iswahyu bukan idenya. “Saya bilang Pak (Achmad) Guntur (salah satu majelis) waktu putusan sela karena dia mau ke tanah suci. Pak Guntur sampaikan pendapatnya, dia canggih sampaikan pendapatnya secara tertulis. Lalu saya dan Pak Irwan menyetujui pendapat pak Guntur," pungkasnya.

Iswahyu juga menceritakan mengenai uang Rp150 juta. Irwan membawakan bungkusan berisi uang tersebut di mobil dan kemudian memberitahukan kepadanya. Iswahyu mengklaim memprotes Irwan kenapa dia menerima bungkusan tersebut yang kemudian dijawab kalau sudah terlanjur.

Irwan sempat mengambil uang sebesar Rp40 juta dan sisanya dipegang Iswahyu. Iswahyu mengklaim belum sama sekali menggunakan uang tersebut hingga penyidik KPK mengambilnya. Selama berbulan-bulan uang itu terus dibawa pergi kemana-mana. Iswahyu mengaku khawatir jika uang tersebut ditinggal di rumah kosnya, maka akan hilang, karena ada kejadian kehilangan kendaraan di lokasi kost tersebut. Makanya dari diberikan Irwan, uang itu terus menerus dibawa hingga diambil penyidik KPK.

(Baca juga: KY Berharap RUU Jabatan Hakim Segera Dibahas).

Tetapi ada satu hal yang menjadi perhatian penuntut umum mengenai perbedaan bundel bank yang tertera dalam uang tersebut. "Ini bundelnya BCA, beda. Arif tadi bilang kan ambilnya dari Bank Mandiri, beda ini," kata penuntut umum.

Namun Iswahyu bersikeras bahwa uang itu yang sama dengan yang diberikan Irwan melalui Ramadhan dari Arif Fitrawan selaku kuasa hukum dari Martin. Sementara penuntut umum menaruh kecurigaan jika ada uang dari pihak lain yang berbeda dari uang yang diberikan sebelumnya.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua