Jumat, 31 May 2019

Dampak Negatif Minimnya Regulasi Pengendalian Tembakau

Pembahasan RUU Pertembakauan sejak 2012 pun mandeg.
Rofiq Hidayat
ilustrasi rokok. Foto: Sgp

Peringatan Hati Tembakau Sedunia (HTTS) atau World No Tobacco Day, pada 31 Mei mesti dijadikan momentum memperbaiki regulasi pengendalian tembakau. Persoalan minimnya aturan atau regulasi pengendalian tembakau menjadikan konsumsi terhadap pertembakauan semakin tak terkendali. Akibatnya, dampak terhadap kesehatan masyarakat terus mengalami penurunan akibat mengkonsumsi tembakau.

 

Pandangan itu disampaikan Ketua Pengurus  Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi kepada Hukumonline, Jumat (31/5/2019) di Jakarta. “Saat ini Indonesia merupakan negara dengan regulasi atau aturan pengendalian tembakau terlemah di dunia,” sebutnya.

 

Menurutnya, berdasarkan data empirik di Indonesia, 9 dari 10 penderita kanker paru merupakan perokok berat. Ini menunjukan dampak buruk mengkonsumsi tembakau bagi kesehatan paru. Di tengah masyarakat, iklan dan promosi rokok terus bertebaran di banyak ruangan. Ironisnya, kata Tulus, di dekat sekolah pun terdapat selebaran iklan rokok.

 

Bahkan kebijakan cukai, pemerintah membatalkan kenaikan cukai selama dua tahun berturut-turut pada 2018 dan 2019. Baginya, pembatalan kebijakan tersebut menjadi “lonceng” kematian bagi upaya pengendalian pertembakauan di tanah air. “Memang pertembakauan lahan bisnis, tetapi memang perlu pembatasan agar tidak berlebihan peredaran tembakau untuk dikomsumsi dan berdampak kesehatan masyarakat.”

 

Tulus merujuk data Badan Pengelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Menurutnya, penyakit katastropik menjadi faktor dominan menyedot sisi finansial BPJS Kesehatan. Ujungnya pada 2018, BPJS Kesehatan mengalami defisit sebesar Rp9,1 trilun, sebagaimana temuan dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP).  

 

Penyakit katastropik adalah penyakit yang berbiaya tinggi. Bahkan jika penyakit ini disertai komplikasi dapat mengancam kejiwaan. Terdapat 9 penyakit yang menduduki puncak penyakit katastropik yakni jantung, stroke, kanker, ginjal, diabetes, hepatitis, thalasemia, hemofilia, dan leukimia.

 

“Ini adalah dominannya penyakit katastropik dan konsumsi rokok menjadi faktor pemicu paling tinggi untuk jenis penyakit katastropik,” bebernya. Baca Juga: Alasan DPR Pertahankan RUU Pertembakauan

Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua