Kamis, 06 June 2019

Memahami Zakat Profesi

Menurut Fatwa MUI, zakat penghasilan (profesi) dapat dikeluarkan saat menerima jika sudah cukup nishab. Atau jika tidak mencapai nishab, semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun, lalu zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.
Agus Sahbani
Ilustrasi. Foto: RES

Setiap jelang lebaran, umat Islam selalu diingatkan pada kewajiban membayar zakat baik zakat fitrah (jiwa) maupun zakat mal (harta) sebagai bentuk ibadah menjalankan salah satu rukun Islam. Selama ini potensi zakat di Indonesia sangat besar dari sisi pemberdayaan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat jika dikelola secara lebih produktif dan tepat sasaran. Padahal, urusan zakat ini sudah diserap dalam hukum nasional melalui berlakunya UU No. 38 Tahun 1999 dan kemudian diubah dengan UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat yang lebih banyak mengatur seputar kelembagaan amil zakat (Baznas dan LAZ).       

 

Sesuai UU Pengelolaan Zakat itu, zakat didefinisikan sebagai harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim/muslimah atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya (mustahiq) sesuai syariat Islam. UU Pengelolaan Zakat tidak mengatur siapa saja yang masuk kategori mustahiq dan muzakki (pembayar zakat) termasuk syarat nishab (batas minimal harta terkena wajib zakat) dan kadar zakat yang harus dikeluarkan.   

 

Mengutip QS At-Taubah (9): 103 disebutkan "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan mensucikan mereka."  Dalam QS At-Taubah (9): 60, ada 8 golongan (asnaf) yang masuk kategori mustahiq yang berhak menerima zakat:

 









  1. Fakir (orang yang tidak memiliki harta).

  2. Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi).

  3. Riqab (hamba sahaya atau budak).

  4. Gharim (orang yang memiliki banyak utang).

  5. Mualaf (orang yang baru masuk Islam).

  6. Fisabilillah (pejuang di jalan Allah).

  7. Ibnu Sabil (musafir dan para pelajar perantauan).

  8. Amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat).


 

Salah satu jenis zakat yang wajib dibayar adalah zakat harta yang pelaksanaannya tidak harus saat jelang Hari Raya Idul Fitri. Kewajiban zakat mal ini berlaku bagi mereka (muzakki) yang telah memiliki kemampuan lebih secara finansial dan memiliki harta yang telah mencapai nishab. Nishab adalah batas minimal harta/pendapatan terkena wajib zakat. Jika kurang dari nilai batas minimal tersebut, tidak wajib berzakat.

 

Mengutip buku Panduan Zakat Praktis yang diterbitkan Baznas-Dompet Dhuafa (September, 2006), ada 6 syarat atau prinsip kekayaan yang wajib dizakati sesuai fikih zakat (kajian fuqaha). Pertama, hartanya dimiliki/dikuasai secara penuh dan diperoleh secara halal. Kedua, hartanya berkembang yang memberi keuntungan atau pendapatan secara ekonomi. Ketiga, hartanya mencapai nishab jumlah tertentu sesuai ketetapan syariat Islam.  

 

Keempat, harta yang dimiliki melebihi jumlah kebutuhan pokok. Kelima, hartanya terbebas dari hutang. Keenam, harta yang dimiliki genap selama setahun (haul). Syarat haul itu hanya berlaku bagi zakat peternakan; emas/perak atau uang simpanan; barang yang diperdagangkan (perniagaan). Sedangkan, zakat pertanian, buah-buahan, rikaz (barang temuan//harta karun/hasil tambang), dan sejenisnya tidak disyaratkan harus satu tahun, tetapi saat memetik hasil, panen, ditemukan.          

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua