Jumat, 14 June 2019

Scopus, Sebuah Alegori Oleh: E. Fernando M. Manullang*)

Saya ingin mengatakan bahwa apa yang diidealkan dari publikasi, indeks, sitasi dan impact factor itu tidak seindah yang dibayangkan. Ada alegori di situ.
RED

Scopus akhir-akhir ini jadi pembeda dunia akademik. Gara-gara Scopus, perintah nyata seorang dosen untuk bisa naik jabatan guru besar melalui riset, kini berubah. Risetnya mesti dibuat dalam bentuk: publikasi sesuai standar Scopus. Standar internasional ini memiliki tiga konsep berikut: index, citation dan impact factor. Ketiga konsep inilah yang membuat makna publikasi sekarang menjadi alegoris.

 

Alegori itu bisa dilihat begini. Jika riset diartikan secara longgar sebagai dari keluyuran (lat.: re, circare). Maka secara metaforis, dapat digambarkan; seorang dosen mendapatkan sesuatu dari keluyurannya. Yang si dosen dapatkan itu mesti disampaikan di muka publik (lat.: pubes), misalnya di depan kelas. Kalau perlu dipublikasikan (lat.: publicationem), agar diketahui luas.

 

Di masa kini, publikasi bukan lagi semata menyampaikan kepada umum. Makna publikasi secara alegoris menjadi berbeda, karena adanya tiga konsep di atas. Konsep di sini jangan diartikan sederhana sebagai suatu pengertian. Ini karena, secara longgar, konsep itu dimaknai mengambil dan memegang (lat.: concipere). Maka itu, sesuatu jika diambil dan dipegang bersama, bisa menjadi konsep.

 

Namun untuk mengambil dan memegang sesuatu itu membutuhkan kuasa. Tanpa itu, mana bisa sesuatu yang diambil dan kemudian dipegang dinyatakan sebagai konsep. Begitu pula dalam soal publikasi riset dalam bentuk jurnal. Sebuah riset diterima dalam publikasi jurnal apabila berhasil melayani kepentingan tiga kuasa ini: index, citation dan impact factor. Lain halnya, jika hasil keluyuran itu cuma diumumkan di hadapan kelas. Modus semacam ini tidak perlu mengalahkan tiga kuasa tadi.

 

Indeks (Lat.: index) berarti menunjuk sesuatu –seperti index finger. Seorang dosen ditunjukkan pada suatu pilihan jika berbicara publikasi, yaitu: hanya publikasi yang terindeks sajalah yang dapat diterima sebagai publikasi. Di mana itu dapat ditemukan? SINTA (Science and Technology Index). Ini karena SINTA dinyatakan sebagai indeks.

 

Namun, sebagai petunjuk, SINTA ternyata menyimpan anomalinya. SINTA malah menunjuk pihak asing, yakni Scopus, Google Scholar dan Web of Science. Secara metaforis, SINTA bak aplikasi Stocks yang ada di iPhone; memuat indeks saham, namun indeks itu bukan ciptaan mereka. Indeks itu merujuk pada indeks yang ada di bursa saham. Jika demikian, apakah SINTA pantas menyebut dirinya indeks, bukan aplikasi?

 

Jika sitasi yang secara etimologis artinya perintah (Lat.: citationem, citatio), menurut saya ini semakin mengukuhkan alegori tersebut. Dalam konteks itu, saya ingin mengilustrasikan kalau Indonesia –saya sebut demikian karena saya masih tak mampu menemukan siapa di balik ini semua– memberikan suatu perintah; “semakin tinggi sitasi, semakin baik”. Itu bahkan menjadi sebuah aksioma bagi karir seorang dosen. Implikasinya, setiap dosen –bahkan termasuk pengelola jurnal– berlomba-lomba memenuhi perintah: “semakin tinggi, semakin baik”.

 

Masalahnya, “semakin tinggi” dalam sitasi itu tak ada batas atasnya. Ini berbeda dengan perintah, misalnya: “semakin tinggi IPK-nya, semakin baik”. Mereka secara aksiomatis sama, tapi ada beda secara aksiologis; IPK memiliki nilai tertingginya yakni 4,0. Secara kontras, perintah sitasi itu tidak ada plafonnya. Secara metaforis, perintah sitasi itu bisa disamakan dengan lomba mengirim short messaging service dalam suatu kontes idol. Sitasi dan idol diukur dari seberapa tinggi atau besarnya. Kalau perlu, menembus hingga sama dengan jumlah penduduk di planet ini. Dalam suasana begitulah, urusan sitasi bagi para dosen.

 

Situasi itu terjadi karena publikasi riset juga mesti memerhatikan konsep impact factor dalam suatu jurnal. Faktor ini terbentuk dari seberapa banyak sitasi yang ada. Dengan kata lain, seolah-olah ada simbiosis mutualisme antara dosen dan jurnal. Ini karena kedua entitas itu terhubung oleh aksioma “semakin tinggi, semakin baik”. Hanya saja, sitasi seolah-olah milik dosen dan pembuat impact factor, tapi tidak artinya impact factor itu milik dosen.

 

Dengan demikian, sedari awal, tidak ada hubungan yang merefleksikan simbiosis mutualisme. Atau dengan kata lain, jika faktor kebanyakan dipahami sebagai keadaan atau peristiwa –dalam hal ini, keadaan atau peristiwa yang ada di antara dosen, jurnal dan mesin indeks asing, salah satunya Scopus– itu tidak merefleksikan simbiosis mutualisme. Ini karena faktor dapat juga dipahami sebagai agen (Lat.: factor). Di dalamnya  ada semacam actor. Seharusnya dosen, jurnal dan penyedia impact factor adalah sama-sama aktor. Namun, ketiga aktor ini terhubung secara eksploitatif. Ini karena kuantitas sitasi dan indeksnya difasilitasi melalui prosedur impact factor, padahal aktor sejati impact factor itu adalah mesin indeks asing itu sendiri, seperti Scopus, bukan dosen ataupun jurnal.

 

Lalu, apakah bisa kita katakan SINTA adalah aktor yang sejati dalam urusan impact factor, sama seperti Scopus dan indeks asing lainnya? Kalau dipikir-pikir, jika menggunakan konsep hukum perdata, SINTA adalah orang dewasa yang di bawah pengampuan (curatele). Ini karena SINTA masih menunjuk aktor lain untuk menentukan impact suatu jurnal. SINTA seperti kekurangan daya pikir tentang sebuah standar mandiri, sehingga menunjuk pihak lain, untuk menjadi pengampunya (curator).

 

Yang lebih mengenaskan lagi, impact factor menurut San Fransisco Declaration on Research Assesment (16 Desember 2012) adalah sistem ciptaan Thomson Reuters, yang sekarang diteruskan oleh Clarivate Analytics. Sistem ini menjadi rujukan pustakawan mengidentifikasi jurnal-jurnal mana yang layak beli. Impact factor menurut deklarasi itu bukanlah alat ukur yang mengukur kualitas suatu jurnal ilmiah. Oleh karena itu, impact factor layaknya indeks saham –sekali lagi, ini soal index– yang menunjukkan para pialang saham, saham mana yang mesti dibeli, dan mana yang mesti dijual. Impact factor itu menjadi petunjuk bagi para pustakawan, jurnal mana yang terus dilanggan, dan mana yang patut diputus.

 

Tapi masalahnya, impact factor itu tidak sama dengan indeks saham. Indeks saham menjadi tuntunan bersama bagi setiap aktor dalam memenuhi target mereka: “semakin tinggi, semakin baik”. Dengan kata lain, semakin besar keuntungan, semakin baik. Semakin besar transaksi, semakin baik. Aksioma semacam itu tidak berlaku dalam urusan impact factor.

 

Impact factor jelas hanya menguntungkan pustakawan dan sekutu-sekutunya, seperti Scopus dan lainnya. Ini karena tak ada keuntungan langsung yang diraih oleh dosen atas prosedur impact factor. Dosen bukan bagaikan calon investor atau investor. Pustakawan bukan pula bagaikan pialang saham, yang bekerja demi kepentingan calon investor atau investor. Memang, ada aktor yang menyediakan indeks, bagaikan bursa saham. Namun, tatkala pustakawan mengolah informasi yang ia dapatkan dari indeks yang ada, itu untuk kepentingannya, karena prioritas pustakawan tidak selalu berbanding lurus dengan misalnya, kepentingan dosen atau kampus.

 

Penyedia impact factor, yang seolah-olah seperti bursa saham, menangguk untung bukan dari ide transaksi sebagaimana dikenal dalam bursa saham. Penyedia impact factor itu, suka atau tidak suka, melakukan semacam exploitation del’Homme par ‘Homme; eksploitasi sesama manusia. Dikatakan semacam, karena pelakunya bukan manusia per se. Namun ini adalah suatu aktor di luar manusia, yang menghisap keringat para dosen, padahal si dosen itu tidak pernah menjadi calon investor atau investor di bursa –indeks– ciptaan mereka.

 

Saya ingin mengatakan bahwa apa yang diidealkan dari publikasi, indeks, sitasi dan impact factor itu tidak seindah yang dibayangkan. Ada alegori di situ.

 

Padahal, hakekat universitas, yang aslinya secara lengkap disebut universitas magistrorum et scholarium, semestinya menjadi kredo bagi publikasi, indeks, sitasi dan impact factor. Universitas adalah suatu kesatuan. Kesatuan bagi guru (Lat.: magistrorum) dan kaum terpelajar (Lat.: scholarium). Kaum terpelajar ini sudah dipupuk semenjak masa sekolah (Lat.: schola), suatu tempat bersenang-senang untuk tujuan belajar. Universitas maka itu menjadi tempat “lanjutan” yang memberikan rasa gembira untuk mempelajari segala hal, dan pada ujungnya, universitas menyatukan kaum terpelajar itu dengan gurunya.

 

Saya pribadi meragukan indeks, sitasi dan impact factor mengukuhkan idealisme itu. Ada alegorisme terhadap ketiga konsep tersebut. Kalau ada sejumlah orang yang percaya indeks, sitasi dan impact factor sesuai dengan hakekat universitas magistrorum et scholarium, bisa jadi, orang-orang itu tidak tahu lagi bagaimana bergembira dengan cara terpelajar!

 

*)E. Fernando M. Manullang adalah dosen filsafat hukum pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ini adalah pandangan pribadi, tidak mewakili lembaga mana pun.

 

Catatan Redaksi:

Artikel Kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Hukumonline. Artikel ini merupakan kerja sama Hukumonline dengan Fakultas Hukum Universitas Indonesia dalam program Hukumonline University Solution

s.d.a
 - badrul munir st
14.06.19 20:42
publikasi semuanya dikuasi oleh sindikasi.
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua