Senin, 29 Juli 2019

Pentingnya Kajian Finansial Sebelum Putuskan PKPU atau Pailit

 

“Sisi kejatuhan ini akan menjadi analisa apakah sifatnya temporer atau permanen. Kalau dia permanen seperti misalnya izin dicabut, atau misalnya produk ini dibatasi, atau produk dilarang masuk pada wilayah fokus pasarnya ini ‘kan membuat dia mengalami goncangan. Tapi jika sifatnya temporer maka ini akan membuka kesempatan debitur untuk merestruktur,” kata Ricardo kepada hukumonline, Kamis (25/7).

 

Dalam konteks ini, debitur harus menjadi pihak yang aktif untuk menjelaskan krisis temporer yang menimpa bisnisnya, sehingga kreditur berkenan memberikan kesempatan untuk merestruktur utangnya. Hal ini, lanjutnya, menjadi alternatif yang baik bagi debitur yang memang sudah tidak memiliki cara lain untuk membayar utangnya.

 

Di sisi lain, Ricardo mengingatkan bahwa restruktur utang tak harus melalui PKPU. Bisa saja restrukturisasi utang dilakukan di luar PKPU yang disepakati oleh debitur dan kreditur dan konsep ini biasa disebut konsesual. Hanya saja, posisi kesepakatan yang terjadi di luar pengadilan niaga lemah secara hukum, di mana pihak debitur tidak bisa membatasi gugatan yang masuk ke pengadilan sehingga membuat kesepakatan yang sudah dilakukan menjadi batal.

 

“Restruktur itu tidak harus melalui PKPU tapi juga bisa dilakukan di luar dari PKPU. Nah tapi kalau ini (restruktur di luar PKPU) sulit karena tidak bisa membatasi datangnya gugatan, permohonan, PKPU ataupun pailit. Maka baiknya dilakukan melalui pengadilan karena ketika PKPU, otomatis semua tagihan menjadi berhenti selama 270 hari. Inilah kelebihan PKPU untuk membangun kesempatan untuk merestruktur walaupun pada akhirnya ditentukan oleh majority,” tambahnya.

 

Sementara itu, kurator Jimmy Simanjuntak menyebut jika situasi gagal bayar yang dialami oleh debitur harus dikaji terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menyetujui PKPU atau pailit. Kreditur harus memastikan apakah debitur masih memiliki opportunity atau kesempatan untuk bisa melanjutkan usahanya.

 

Dalam hal ini, kreditur harus menghitung antara beban utang dengan kemampuan membayar debitur. Pasalnya, lanjut Jimmy, dalam kebanyakan kasus PKPU maupun kepailitan, mayoritas rasio equity atau aktiva tidak setara dibandingkan dengan jumlah utang. Rata-rata jumlah aset hanya 20 persen dari 100 persen rasio utang.

 

“Kalau kemampuan dalam arti aset itu jauh dari utang yang ada itu sangat merugikan kreditor sehigga alternatif keduanya adalah apakah opportunity untuk hidup atau going concern usaha tersebut masih bisa. Kalau masih bisa ya pikir pilihan yang lebih tepat bagaimana mengedepankan kelangsungan usaha itu,” kata Jimmy kepada hukumonline, Kamis (25/7).

 

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua