Kamis, 05 September 2019

Berkelana di Negeri Borneo Hingga Masuk Jajaran Legal Advisor OPEC

Bekerja dengan orang dari berbagai negara dengan beragam budaya merupakan tantangan tersendiri bagi Ali Nasir.
Hamalatul Qur'ani
Legal Senior Manager, Premier Oil Indonesia, Ali Nasir. Foto: HMQ

Memiliki sepak terjang yang tinggi di industri petroleum (oil & gas), bahkan sempat menduduki jajaran International Legal Advisor di Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC (2006-2015) di Wina tak lantas membuat Ali Nasir melupakan masa-masa awalnya merintis karier pasca lulus sarjana hukum di Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 1996.

 

Masih segar dalam ingatannya ketika baru diperkenalkan ke dunia oil & gas oleh seorang senior USU bernama Budi Simamora yang telah lebih dahulu berkarier di Unocal (sebuah perusahaan petroleum asal California).

 

“Beliaulah yang pertama memperkenalkan saya ke dunia oil & gas,” kata Ali mengenang awal kariernya kepada hukumonline, Senin (2/9) lalu.

 

Ketika masih menjadi mahasiswa USU, Ia tak pernah berpikir ingin masuk ke dunia pertambangan, hanya saja Ia memang selalu berkeinginan keras untuk bekerja sebagai diplomat atau setidaknya bekerja di perusahaan multinasional. Hingga akhirnya takdir membawa Ali berjumpa dengan seniornya, mengikuti seleksi kerja hingga akhirnya diterima bekerja di Unocal pada 1997. Sempat mengikuti orientasi selama tiga bulan di Jakarta, Ali langsung ditugaskan ke Balikpapan.

 

Setahun berselang, Ali pamit kepada seniornya dan memilih pindah ke perusahaan oil & gas asal Prancis, yakni Total E&P. Di Total E&P, Ali masih ditempatkan di Kalimantan. Ali yang sebelumnya asing dengan wilayah Borneo mulai terbiasa, bahkan hampir 5 tahun lamanya Ia menghabiskan waktu bekerja di Total E&P Balikpapan hingga memberanikan diri menjemput mimpinya yang lain, yakni melanjutkan kuliah S2. Sayangnya, kali pertama Ia mencoba peruntungan lewat beasiswa chevening pada 2001, Ia ditolak.

 

“Saya apply beasiswa chevening pertama kali di 2001, tapi saat itu saya gagal, padahal sudah masuk tahap interview,” katanya.

 

Tak menyerah dengan takdir, Ia kembali mencoba peruntungan di 2002. The University of Dundee, satu-satunya Universitas di UK saat itu yang memiliki jurusan magister bidang petroleum law and policy menjadi incarannya. Bisa dibilang, 2002 menjadi tahun keberuntungannya. Saat itu, Ia lolos saringan ketat beasiswa chevening yang begitu kompetitif dan akhirnya berangkat kuliah ke The University of Dundee.

 

Di The University of Dundee, Ali menyusun tesis berjudul ‘Trans ASEAN Gas Pipelines: Legal and Commercial Challenges’. Dulu, katanya, ada rencana penyambungan pipa gas antar negara ASEAN yang dicanangkan oleh ASCOP (ASEAN Cooperation for Energy).

 

(Baca: Munir Fuady: Advokat dengan Mimpi Seribu Buku)

 

Dalam prosesnya ditemui banyak sekali tantangan masalah commercial kontraktual atau hukum di negara-negara ASEAN yang membuat project ini bisa berjalan. Seribu sayang, akhirnya proyek tersebut tak bisa berjalan sampai sekarang. Hal ini dipengaruhi oleh faktor kepentingan politik masing-masing negara yang sulit untuk disatukan.

 

“Proyek itu visible, tapi challenging, di ASEAN yang produce gas cuma Indonesia dan Malaysia,ujarnya.

 

Negara lain seperti Singapura, Brunei (minyak), Vietnam, Thailand dan lainnya tak punya resources yang cukup besar untuk cadangan gas. Sehingga mereka tak ingin bergantung pada Indonesia dan Malaysia.

 

“Ini soal politik karena bila ada dispute atau problem dengan Indonesia atau Malaysia bisa saja gas nya dicabut dan mati semua, contoh saja konflik antara Rusia dan Ukraina. Pasokan gas menjadi alat tekan politik Rusia atas Ukraina,” ujarnya.

 

Tak sekadar itu, faktor cadangan gas Indonesia dan Malaysia yang juga semakin turun lantaran kebutuhan domestik yang cukup besar menjadi persoalan. Kini justru cadangan gas dalam jumlah besar yang diimpor dari Qatar, AS, Mozambique tak dikirimkan melalui pipelines, melainkan lewat kapal.

 

“Jadi Negara-negara ASEAN ini enggak mau tergantung 100 persen dengan aliran gas dari negara lain, sehingga membuat proyek ini susah berlanjut. Khusus untuk Singapore, proyek pengaliran gas lewat pipa bawah laut kini sudah dijalankan oleh Connoco Philips dan Premier Oil (Tempat Ali Kini Bekerja),” ungkapnya.

 

Berhasil mempertahankan tesisnya, Ali lulus dari Dundee menyandang gelar LL.M untuk Petroleum Law and Policy di tahun 2004. Namun sebelum lulus, Ia telah lebih dahulu mendapatkan tawaran bekerja di VICO (Virginia Indonesia Company LLC), sebuah perusahaan kontraktor kerja sama yang ditunjuk BP Migas untuk melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi di Bontang. Baru bekerja selama 3 tahun di VICO, Ali memperoleh kesempatan bekerja sebagai International Legal Advisor di sekretariat OPEC, Vienna (2006-2014).

 

Ali juga sempat membagikan suka-duka bekerja selama hampir 8 tahun di OPEC. Tantangan yang cukup berat baginya adalah masalah cuaca musim dingin yang begitu ekstrim, minus 20 derajat celsius. “Karena saya terbiasa di daerah tropis, itu sangat challenging dan terkadang menyusahkan juga,” kenangnya.

 

Selain soal cuaca, kata Ali, bekerja dengan orang dari berbagai negara dengan beragam budaya juga merupakan tantangan tersendiri baginya. Sekjen OPEC ketika itu asal Libya, sedangkan direkturnya ada yang berasal dari Kuwait. Kemudian, kepala departemennya dari Arab Saudi.

 

“Memang tantangannya itu perbedaan culture, misalnya dalam diskusi, mayoritas orang middle east cenderung cepat emosi, menanggapinya kita harus tetap cool down aja ga usah take it personal,” ceritanya.

 

Sepulangnya dari OPEC, Ali bekerja sebagai tenaga ahli di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia selama satu tahun. Pada saat yang sama, ia juga tergabung sebagai anggota Komite Eksplorasi Nasional (KEN).

 

Masih di 2015, Ia menjabat sebagai ketua komite etik sekaligus merupakan senior manager divisi legal hingga kini di sebuah perusahaan petroleum asal UK, Premier Oil Indonesia. Tak hanya sibuk untuk urusan internal perusahaan, Ali juga bertindak sebagai chairman komite urusan regulasi Indonesian Petroleum Association (IPA) sejak 2017.

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua